Dari Kursi Roda ke Panggung, Wheelchair Dance Competition Jadi Ruang Berekspresi Penyandang Disabilitas Daksa

Wheelchair Dance Competition ajang penyandang disabilitas berdaya dan berekspresi menari dari atas kursi roda.

Diterbitkan 30 Januari 2026, 20:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menari kerap dipersepsikan sebagai aktivitas yang menuntut keluwesan tubuh dan kebebasan bergerak. Namun bagi penyandang disabilitas daksa, keterbatasan fisik kerap membuat ruang berekspresi dianggap tertutup. Faktanya, penyandang disabilitas tetap bisa menari mengekspresikan diri dari atas kursi roda. 

Hal tersebut terwujud lewat Wheelchair Dance Competition yang digelar Yayasan Kursi Roda Indonesia atau WAFCA Indonesia. Dari atas kursi roda, penyandang disabilitas daksa memperlihatkan bahwa kreativitas, keberanian, dan kegembiraan tidak ditentukan oleh kemampuan berjalan.

Ajang Wheelchair Dance Competition sudah dimulai sejak 2017. Saat ajang digelar, peserta merekam tarian mereka dan mengirimkan video ke WAFCA Indonesia untuk dikompetisikan dan diseleksi. 

Pada 2025 kembali digelar Wheelchair Dance Competition. Sejak dibukanya kompetisi ini pada November 2025 hingga Januari 2026, 42 peserta telah mendaftar baik secara perorangan hingga tari berkelompok.

Kemarin, tepatnya pada Kamis, 29 Januari 2026 puncak acara Wheelchair Dance Competition digelar di DENSO Sunter Jakarta Utara. Sejumlah peserta tampil mengenakan busana khas daerah dengan sentuhan warna-warna cerah. Sementara, peserta lain memilih gaya kasual dengan kaus longgar, topi, dan sepatu olahraga.

 

Dari Kursi Roda ke Panggung, Menari sebagai Proses Berdaya

Semangat berdaya dan berekspresi menjadi benang merah dalam penyelenggaraan Wheelchair Dance Competition 2025. Ajang ini tidak hanya membuka ruang tampil, tetapi juga memberi kesempatan bagi penyandang disabilitas daksa untuk membangun kepercayaan diri dan mengekspresikan potensi yang mereka miliki.

"Kegiatan ini bukan hanya perlombaan tapi perayaan keberanian, kreativitas, dan semangat, dan adik adik semua berhak untuk berkreasi dan berekspresi dalam momen ini," kata Ketua Yayasan Kursi Roda (WAFCA Indonesia), Helmy Riza menyampaikan dalam sambutan puncak acara Wheelchari Dance Competition 2025. 

Hadir di kesempatan yang sama, Ketua Dewan Pembina Yayasan Kursi Roda (WAFCA Indonesia) Hari Purwanto berharap ajang tersebut bisa jadi bagian dari proses berdaya dan berkaya bagi adik-adik penyandang disabilitas daksa. 

Menari Bukan Aktivitas Eksklusif

Ajang Wheelchair Dance Competition juga jadi momen untuk menunjukkan bahwa menari bukanlah aktivitas eksklusif. Bahkan individu dengan disabilitas daksa berat sekalipun dapat menikmati pengalaman ini seperti disampaikan Operational Manager WAFCA Indonesia, Dimas Pandista.

Dimas pun menuturkan bahwa di balik aktivitas menari di atas kursi roda, ada banyak manfaat yang didapatkan penyandang disabilitas daksa. Selain sebagai ekspresi emosi tapi juga melatih motorik.

"Gerakan dan ritme dalam tarian kursi roda memiliki berbagai manfaat, di antaranya meningkatkan kemampuan motorik, respons tubuh, serta ekspresi emosional bagi penyandang disabilitas. Tarian ini juga dapat menjadi alternatif olahraga dan terapi daksa bagi pengguna kursi roda," tutur Dimas.

Â