Fokus Asuh Anak dengan Autisme, Paul Scholes Berhenti Jadi Komentator Sepak Bola

Demi asuh anak yang menyandang autisme Paul Scholes rela berhenti bekerja sebagai komentator bola.

Diterbitkan 31 Oktober 2025, 11:31 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Legenda Manchester United (MU), Paul Scholes, memutuskan berhenti menjadi komentator sepak bola. Keputusan ini diambil agar ia dapat menyesuaikan dengan rutinitas putranya, Aiden, yang menyandang autisme.

Scholes mengasuh buah hatinya yang kini 20 tahun itu bersama mantan istrinya. Ayah dan ibu Aiden ini berbagi waktu dalam mengasuh sang buah hati. 

"Semua yang akan saya lakukan sekarang hanya berfokus padanya," kata Scholes di podcast Stick to Football mengutip BBC, Jumat (31/10/2025).

Setelah pensiun sebagai pemain sepak bola pada 2013, Scholes beralih ke dunia manajemen hingga kemudian bekerja di media sebagai komentator sepak bola.

Pekerjaan sebagai komentator sepak bola membuat jadwal Scholes tidak tetap. Padahal putranya Aiden terbiasa dengan jadwal yang tetap. Perubahan jadwal bisa membuat Aiden mengalami kegelisahan. 

"Musim lalu, Kamis malam, saya akan menjadi komentator untuk pertandingan Liga Europa. Itulah malam di mana saya biasanya mendampinginya, jadi dia terlihat gelisah, menggigit, dan mencakar. Dia tahu bahwa polanya tidak seperti biasanya."

Saat masih aktif di lapangan hijau, Scholes awalnya merahasiakan kondisi yang dialami Aiden. Diagnosis autisme pada sang putra sempat membuatnya sulit berkonsentrasi saat bertanding sepak bola. Sampai-sampai manajer MU, Sir Alex Ferguson sempat mencoret namanya dari daftar pemain.

"Saya tidak pernah bisa lepas darinya (Aiden), bahkan saat bermain, sangat sulit saat itu," tambah Scholes.

Aiden Anak Paul Scholes Didiagnosis Usia 2,5 Tahun

Aiden didiagnosis autisme ketika berusia 2,5 tahun. Sebelum diagnosis itu tegak, Scholes sebenarnya sudah merasa ada yang tidak tepat tentang Aiden.

"Saya rasa mereka baru mendiagnosisnya saat ia berusia dua setengah tahun. Namun, kita tahu sejak dini ada sesuatu yang salah, dan kemudian mendapatkan diagnosisnya, dan saya belum pernah mendengarnya (autisme)," kenangnya.

Kerap Ingat Anak Saat Bekerja

Saat Paul Scholes masih bermain sebagai pamin sepak bola, ia kerap teringat akan putranya dan ingin segera meninggalkan pertandingan yang tengah dijalani. 

“Saya ingat pertama kali setelah itu, kami bermain tandang dan saya benar-benar tidak ingin berada di sana,” katanya.

Sulit bagi Scholes untuk mengungkapkan kondisi putranya saat itu. Scholes butuh waktu beberapa minggu untuk menyampaikan ke Sir Alex Ferguson mengenai kondisi putrannya.

“Saya ingat, manajer meninggalkan saya seminggu setelahnya, dan saya belum memberi tahu siapa pun. Saya akhirnya memberi tahu mereka beberapa minggu kemudian, karena itu cukup sulit.”

Kini, Scholes pun tak merasa membutuhkan simpati siapa pun. Jika pun bercerita kepada orang lain tentang kondisi putranya, itu tidak akan membantu Aiden.

“Bahkan sekarang, saya tidak ingin simpati atau apa pun. Saya hanya berpikir, bahkan jika saya berbicara dengan seseorang tentang hal itu, itu tidak akan membantu Aiden,” katanya.

 

Hal yang Paling Dikhawatirkan Scholes

Kekhawatiran terbesarnya sekarang adalah karena ia semakin tua dan apa yang terjadi kepada Aiden ketika dirinya meninggal.

“Itulah hal yang sekarang selalu ada di pikiran saya.”

Gangguan spektrum autisme adalah nama untuk berbagai kondisi yang memengaruhi cara seseorang berkomunikasi dan berinteraksi dengan dunia di sekitarnya, serta minat dan perilakunya.

Autisme bukanlah penyakit atau gangguan, tetapi kondisi yang dialami seseorang sejak lahir dan diperkirakan satu dari setiap 100 orang di Inggris menyandang autisme.