Sukses

Cerita Pendiri Difa Bike Saat Berjuang Bangkit dari Terpaan Pandemi COVID-19

Liputan6.com, Jakarta Pendiri perusahaan transportasi disabilitas Difa Bike, Triyono menceritakan kondisi usahanya saat pandemi COVID-19 menyerang.

Menurutnya, pandemi COVID-19 dan serangkaian pembatasan aktivitas yang ada telah banyak memengaruhi usahanya.

“Selama dua tahun terakhir kami beroperasi dengan kerugian. Selama enam bulan kami tidak memiliki satu pelanggan pun,” kata Triyono mengutip CNA Rabu (18/5/2022).

Ia menambahkan bahwa selama masa-masa awal pandemi, para pengemudi mengalami penurunan pendapatan hingga di angka nol.

Para pengemudi Difa Bike mulai mendapatkan kembali sebagian dari pendapatan mereka beberapa bulan kemudian ketika mereka mulai membuka layanan pesan antar makanan bagi keluarga yang tengah isolasi mandiri.

Mereka juga beberapa kali mendapat pelanggan disabilitas dan lanjut usia (lansia) yang meminta diantar ke tempat layanan vaksinasi.

Ada juga yang mencari nafkah sebagai penjual makanan pinggir jalan di sela-sela pekerjaan transportasi reguler mereka untuk bertahan hidup. Segalanya menjadi lebih baik sekarang tetapi belum kembali seperti dulu.

“Sebelum pandemi, seorang pengemudi bisa mengangkut tiga hingga lima pelanggan dan menghasilkan lebih dari 100.000 rupiah sehari. Sekarang, mereka berpenghasilan sekitar 70.000 rupiah sehari,” kata Triyono.

“Rasanya seperti 2014 (ketika perusahaan baru dimulai) lagi. Sepertinya kita kembali ke titik awal. Kami harus membangun kembali pelanggan kami, mempromosikan diri kami di media sosial. Tapi kami perlahan bangkit kembali.”

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Comeback Besar

Triyono mengatakan Difa Bike berencana membuat comeback besar tahun depan.

Perusahaan ini sekarang sedang memperbaiki aplikasinya dan sedang dalam proses bekerja sama dengan salah satu penyedia dompet digital terbesar di Indonesia untuk memudahkan pelanggan memesan tumpangan dan membayar.

“Saya ingin mengembangkan Difa Bike ke seluruh Jawa dan Bali karena ada pasar besar yang belum tergarap di sana.

“Untuk melakukan ini, saya perlu meyakinkan pabrikan (otomotif) untuk mulai memproduksi sepeda motor ramah disabilitas. Kalau mereka ada di kapal, kami siap pengadaan 3.000 unit sepeda motor,” ujarnya.

Triyono mengatakan sulitnya pengadaan sepeda motor yang sesuai dengan kebutuhan Difa Bike menjadi kendala terbesar bagi pertumbuhan dan ekspansi.

Saat ini, Difa Bike harus menghabiskan banyak uang di muka untuk membeli sepeda motor biasa dan mengirimkannya ke bengkel logam tempat para pekerja menghabiskan waktu berminggu-minggu, terkadang berbulan-bulan, untuk memodifikasi sepeda motor.

“Jika kita bisa mencapai kesepakatan dengan produsen otomotif, kita bisa mencari cara untuk membiayainya dalam bentuk pinjaman dan sebagainya.”

“Yang terbaik, sepeda akan siap digunakan untuk menghasilkan uang sejak kami membelinya dan sepeda itu akan membayar sendiri,” katanya.

3 dari 4 halaman

Awal Mula Pendirian Difa Bike

Sebelumnya, Triyono berkisah tentang awal mula pendirian Difa Bike. Menurutnya, Difa Bike berawal dari keluhannya yang sulit mendapatkan transportasi yang sesuai kebutuhannya sebagai difabel.

Pria yang menyandang polio sejak balita tahu betul betapa sulitnya penyandang disabilitas di Indonesia untuk pergi ke sekolah, ke tempat kerja, atau ke fasilitas kesehatan.

“Ketika saya di sekolah, tidak ada bus yang berhenti untuk saya. Bergerak di sekitar itu merepotkan karena infrastrukturnya tidak ramah bagi penyandang disabilitas,” katanya.

Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, terdapat 3 juta penyandang disabilitas fisik dan 3,4 juta penyandang disabilitas netra.

Orang-orang ini terus-menerus menghadapi tantangan untuk mobilitas karena bus tidak dirancang untuk mengakomodasi mereka. Sementara trotoar sering kali tidak ada, dibangun dengan buruk atau digerogoti oleh kendaraan pribadi.

Satu-satunya pilihan yang layak adalah menggunakan taksi, yang bisa mahal bagi penyandang disabilitas yang berasal dari latar belakang keluarga miskin.

Akibatnya, banyak yang tidak pergi ke sekolah pada saat mereka menjadi terlalu berat untuk digendong oleh orangtua atau saudara kandung mereka, sehingga menghalangi kesempatan mereka untuk mendapatkan pekerjaan formal.

4 dari 4 halaman

Membuat Difabel Bergerak Bebas

Pria 40 tahun ini juga melihat banyak penyandang disabilitas yang menghabiskan sebagian besar masa remaja dan dewasa mereka di rumah. Mereka tidak dapat menjelajah di luar batas-batas rumah mereka.

“Saya berpikir perlu ada sarana transportasi yang melayani teman-teman saya yang menggunakan kursi roda agar mereka dapat bergerak bebas, baik dari rumah ke sekolah, ke rumah sakit atau ke mana pun mereka memilih tanpa perlu naik dan turun kursi roda mereka yang bisa melelahkan,” kata Triyono.

Bertekad untuk mengubah ini, pengusaha yang sehari-hari menggunakan kruk dan kursi roda memulai Difa Bike di kota kelahirannya Yogyakarta sejak 2014.

Difa Bike memulai layanannya setahun kemudian dan sekarang mempekerjakan 26 pengemudi, yang semuanya adalah penyandang disabilitas. Perusahaan ini memiliki antara 3.000 dan 4.000 pelanggan per tahun.

Meski perusahaan masih belum pulih dari dampak pandemi, Triyono yang memulai Difa Bike dengan uangnya sendiri, memiliki mimpi besar untuk perusahaan tersebut.

Ia berencana untuk memperluas layanan Difa Bike ke kota-kota lain di pulau Jawa dan Bali, provinsi-provinsi terpadat di Indonesia.

Difa Bike mengoperasikan dua jenis sepeda motor, salah satunya memiliki sidecar flatbed (mobil samping) dengan foldable ramp (jalan kursi roda) yang didesain khusus untuk pengguna kursi roda sehingga tidak perlu naik dan turun alat bantu mobilitas.