Sukses

Dobrak Batas, Pelukis Disabilitas Faisal Rusdi Ukir Prestasi hingga ke Negeri Kanguru

Liputan6.com, Jakarta Cerebral palsy atau lumpuh otak yang disandang Faisal Rusdi membuat mobilitasnya terbatas. Kaki dan tangannya tak dapat digerakkan secara leluasa, tapi tidak demikian dengan semangatnya.

Pria usia 45 itu berhasil membuktikan bahwa disabilitas bukan batas. Kecintaannya pada dunia seni lukis membuat pengguna kursi roda ini terkenal sebagai pelukis mulut profesional. Disebut pelukis mulut karena ia melukis dengan menggunakan mulut, bukan tangan.

Selama karier melukisnya, Faisal sempat diminta melukis oleh berbagai orang. Bahkan, lukisannya pun sempat dibeli oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebelum menjadi presiden.

“Pak Jokowi ketika masih jadi Wali Kota Solo melihat saya demo melukis di halaman gedung walikota dalam rangka ulang tahun Solo," ujar Faisal kepada  kanal Disabilitas Liputan6.com ketika ditemui di Kiaracondong, Bandung, Jumat (12/2/2021).

Lukisan yang dibeli Jokowi kala itu adalah lukisan gedung wali kota yang dilukis dengan menggunakan satu warna atau disebut juga dengan lukisan drawing. Lukisan berukuran 30 kali 40 cm tersebut dilukis langsung di lokasi yakni di halaman gedung wali kota Solo. Ketika ditanya terkait harga, ia menjawab “Itu waktu masih murah, ukurannya juga tidak terlalu besar.”

Sebelum melukis dengan mulut, ia sempat menggunakan tangan. Namun, keadaan tangannya yang tidak bisa digerakkan dengan maksimal membuatnya tidak leluasa dalam melukis.

Akhirnya, ia melukis dengan mulut dan ternyata hasil lukisannya lebih baik ketimbang menggunakan tangan.

“Kalau menggunakan mulut saya lebih leluasa dan hasil goresannya lebih bagus,” katanya.

2 dari 7 halaman

Hobi Sejak Kecil

Faisal bertutur, melukis sudah menjadi hobinya sejak kecil. Hobi ini membawanya pada keyakinan bahwa melukis adalah potensi diri yang dapat ia kembangkan.

Pada usia 16, pria yang juga aktif dalam komunitas disabilitas Jakarta Barriers Free Tourism (JBFT) ini memutuskan untuk fokus dan mengambil pendidikan melukis di sebuah sanggar.

“Di situ saya mulai belajar dasar-dasar tekniknya sampai bisa. Waktu itu namanya Sanggar Rangga Gempol milik Almarhum Barli Sasmitawinata yang sekarang punya museum Barli dan Balai Seni Barli di Kota Parahyangan."

Selang 5 tahun belajar melukis dan berbagai tekniknya, Faisal mulai mengikuti berbagai pameran seni. Pameran pertama yang diikuti tercatat pada 1996, di tahun itu pula lah ia memulai karier sebagai pelukis profesional.

Baginya, melukis bukan sekadar kegiatan untuk mengisi waktu luang. Lebih dari itu, melukis adalah hiburan, sarana penyalur emosi, membahagiakan orang, dan sumber mata pencaharian.

3 dari 7 halaman

Aliran Lukisan Faisal

Sepanjang karier sebagai pelukis profesional, Faisal telah menciptakan beragam lukisan dengan berbagai cerita latar pembuatannya.

Pelukis yang kini mulai aktif membuat vlog di saluran YouTube pribadinya (Faisal Rusdi) ini mengaku lebih suka melukis dengan aliran realis. Menurutnya, aliran ini lebih melukiskan wujud nyata keseharian, tapi tidak senyata naturalis.

“Kalau naturalis lebih detail lebih seperti nyata, kalau realis bentuknya memang seperti nyata tapi tidak sedetail naturalis,” jelasnya.

Dalam mencari inspirasi lukisan, terkadang ia melukis tempat-tempat yang pernah didatangi, dari media foto, atau dari imajinasi sendiri.

Salah satu pengalaman melukis yang paling berkesan baginya adalah lukisan seorang anak yang dikurung di kandang ayam. Lukisan ini adalah hasil imajinasi sendiri dan ia mengaku senang dengan lukisan tersebut.

Ide di balik lukisan tersebut berawal dari mitos yang beredar di masyarakat tentang rabun ayam. Kala itu, salah satu stasiun televisi menyampaikan informasi tentang rabun ayam. Biasanya kondisi ini dialami oleh anak-anak kecil dengan gejala mata rabun menjelang magrib.

“Katanya, anak-anak itu harus dikurung di kandang ayam agar sembuh. Idenya dari situ, tapi cerita dasarnya juga kena kepada saya sendiri.”

“Saya sebagai penyandang disabilitas merasa seperti itu, ya selama ini masyarakat atau pemerintah seperti mengucilkan kami, mengungkung kami tidak diberikan kebebasan dan kesetaraan.”

Dalam proses pengerjaan lukisan, Faisal membutuhkan waktu yang beragam. Hal ini tergantung pada teknik yang digunakan, ukuran lukisan, dan kerumitan.

“Paling cepat ada yang bisa saya kerjakan 3 hari, paling lama 2 minggu, supaya lebih cepat saya menggunakan teknik dot jadi seperti teknik titik-titik.”

4 dari 7 halaman

Gelar Pameran Tunggal di Australia

Selama menjadi pelukis, Faisal sering mengikuti pameran bersama dengan taraf lokal maupun nasional. Namun, ia tak pernah menyangka bahwa pameran tunggal pertamanya malah digelar di luar negeri.

Hal ini berawal dari perjalanan Faisal ke negeri kanguru untuk menemani sang istri, Cucu Saidah, yang hendak mengenyam pendidikan S2 di Kota Adelaide.  

“Ketika ikut ke sana, saya memiliki keinginan besar untuk bisa pameran dan melakukan aktivitas seni saya di sana,” ujar Faisal.

Setibanya di Australia, ia mulai berupaya mencari koneksi untuk bisa menggelar pameran lukis. Namun, hal tersebut ternyata tidak mudah. Menurutnya, salah satu alasan kesulitan tersebut adalah para panitia yang lebih memprioritaskan seniman disabilitas asli Australia.

“Setelah hampir satu tahun saya di sana, kami pindah ke kontrakan yang baru dan kebetulan pemiliknya adalah pelukis. Saya ngobrol dan akhirnya dia koneksikan ke tempat biasa dia pameran.”

Dari koneksi tersebut, Faisal berhasil mendapatkan tempat pameran gratis, panitia yang melakukan promosi, dan katalog sederhana. Faisal juga dibantu warga negara Indonesia (WNI) yang tinggal di sana terutama para ibu.

“Mereka diminta menyediakan makanan-makanan Indonesia untuk tamu-tamu yang datang ke pembukaan pameran.”

Ia mengaku sangat senang akhirnya pameran tunggalnya tercapai. Dalam pameran tersebut ada 21 lukisan yang dipamerkan dan 19 di antaranya adalah lukisan yang dikerjakan secara mendadak selama 3 bulan.

“Jadi 19 lukisan saya kerjakan 3 bulan, lebih banyak lukisannya adalah alam-alam Adelaide, tempat-tempat yang sudah saya kunjungi, teknik yang digunakan itu totol-totol atau dot supaya lebih ekspresif dan cepat.”

Semua lukisan berukuran 50x40 cm dan waktu pengerjaannya 3 hari hingga 2 minggu. Sebanyak 10 lukisan berhasil terjual.

“Alhamdulillah saya juga terkejut ternyata ada yang beli, padahal awalnya saya tidak berharap banyak, yang penting saya sudah pameran, ternyata apresiasinya lebih.”

Sebelum melakukan pameran tunggal itu, ia juga sempat mengikuti pameran bersama yang digelar oleh beberapa asosiasi. Total pameran yang dilakukan di negara tersebut adalah 3 pameran bersama dan 1 pameran tunggal.

5 dari 7 halaman

Bernaung di AMFPA

Terhitung sejak September 2002, Faisal telah bergabung dengan Association of Mouth and Foot Painting Artists (AMFPA) yakni asosiasi yang mengumpulkan para pelukis yang menggunakan mulut dan kaki yang berpusat di Swiss.

“Di asosiasi tersebut akhirnya kami bisa mandiri secara finansial karena kami semacam diberi gaji dari karya-karya kami,” katanya.

Lukisan-lukisan karya Faisal tidak dibeli secara fisik melainkan repro atau hanya difoto dan dibeli hak ciptanya untuk kemudian dijadikan kartu ucapan, dicetak di mug, sampul buku, dan pernak-pernik lainnya.

“Kalau ada yang mau beli lukisan saya yang sudah direpro, saya pastikan orang yang membelinya tidak boleh mencetak ulang karena hak ciptanya sudah milik AMFPA.”

Bergabung dengan AMFPA bukan lah hal yang sederhana. Ada beberapa persyaratan yang perlu dipenuhi. Selain para pelukis AMFPA harus melukis dengan kaki atau mulut, mereka juga harus melewati proses seleksi.

“Contohnya, waktu itu saya diminta mengirimkan minimal 10 karya asli berikut juga melampirkan surat keterangan dokter untuk memastikan bahwa kedua tangan saya tidak berfungsi secara optimal.”

Selain karya yang diseleksi harus lolos, usia pelukis pun dipertimbangkan. Para pelukis mulut dan kaki yang hendak bergabung dengan AMFPA harus berusia 17 tahun ke atas.

Setelah memenuhi segala persyaratan, selang beberapa bulan ia mendapatkan surat pernyataan diterima dan surat kontrak kerja selama 3 tahun. Selama bekerja, AMFPA akan memantau perkembangan karya-karya para pelukisnya.

Asosiasi tersebut juga menggunakan sistem level atau jenjang kerja mulai dari sundent member, associate member, dan full member.

Dalam satu tahun, para anggota harus mengirimkan minimal 6 lukisan asli. Lukisan tersebut kemudian dinilai oleh profesor seni Swiss dan dilihat secara detail.

“Jadi mereka profesional tidak melihat karena kasihan tapi tetap karya kita yang dilihat secara detail,” pungkasnya. 

6 dari 7 halaman

Infografis Tunjangan Khusus Penyandang Disabilitas di Jakarta

7 dari 7 halaman

Simak Video Berikut Ini