Sukses

Atrofi Otot Tulang Belakang Bukan Penghalang bagi Joanna untuk Lulus Kuliah dan Jadi Jurnalis

Liputan6.com, Jakarta Penyandang disabilitas Joanna Buoniconti akhirnya mendapat ijazahnya di McGuirk Alumni Stadium dan membuktikan hasil tekad belajar, kesabaran dan keberaniannya.

Seorang profesor di Jurusan Bahasa Inggris UMass, Suzanne Daly, mengatakan, "Ia (Joanna) adalah pemikir yang brilian dan tajam. Ia sangat berbakat secara intelektual. Itulah yang membuatnya terus naik. Ia juga orang yang menyenangkan, baik, bijaksana, lucu, tipe yang mudah disukai," dikutip dari bostonglobe.

Joanna juga dinominasikan untuk penghargaan yang akan ia terima pada hari Jumat atas tulisannya yang didaftarkan oleh profesor jurnalismenya, Karen K. List. "Ia membuka pikiran kita pada kemungkinan yang lebih luas untuk membuat dunia lebih beragam, adil, dan inklusif, dan ia sendiri adalah panutan, pemimpin sejati dalam setiap arti kata," kata Karen, dikutip dari bostonglobe.

Joanna yang kemana-mana bersama kursi rodanya karena menderita atrofi otot tulang belakang, merupakan penulis berbakat yang memimpikan pekerjaan di bidang penerbitan.

“Saya ingin memiliki karier. Saya ingin pindah suatu hari nanti. Saya ingin menikah dan berkeluarga. Jika Anda menginginkannya, Anda harus bisa memilikinya. Bahkan dengan disabilitas," kata Joanna, dikutip dari bostonglobe.

Setiap prestasi yang diraih Joanne tentu sangat berharga dan membahagiakan orang tuanya. Ibunya, Anna Swiader sangat bangga atas prestasi yang diraih Joanna, dan setiap kali ia mencapai sesuatu, Anna akan terkenang masa kecil Joanna.

 

2 dari 4 halaman

Joanna kecil

Dulu Joanna adalah bayi kecil seberat 7 pon, 6 ons yang lahir di Baystate Medical Center pada Juni 1999. Namun begitu tumbuh, ia tidak bisa membalikkan perutnya. Meskipun ia berbicara lebih awal dan menyerap semuanya dengan baik, ia kurang bergerak, jelas ibunya.

Selanjutnya, Joanna menghabiskan banyak waku di masa mudanya dengan berulang kali dirawat di rumah sakit. Hingga akhirnya ia mendapat diagnosis pasti, yaitu atrofi otot tulang belakang dan berulang kali dirawat di unit perawatan intensif.

Joanna mengaku sedih pada awalnya, karena saat itu ia masih sangat muda, namun tak banyak anak-anak lain yang berinteraksi dengannya. Itu karena ia mengikuti kelas di sekolah melalui layar saat anak seusianya biasa berinteraksi langsung. Joanna juga pernah mengalami masa kasmaran selama bertahun-tahun, meskipun berakhir bertepuk sebelah tangan karena dirinya tak dianggap oleh anak laki-laki tersebut. Hingga akhirnya ia emfokuskan diri pada studinya dan lulus sebagai lulusan terbaik.

Ia bahkan ditawari melanjutkan perguruan tinggi ke Westfield di Boston, namun ia memutuskan untuk menetap di UMass karena ia mendapat kesan pertama tentang sekolahnya ini adalah satu-satunya sekolah yang bisa menampungnya.

Joanna Buoniconti menjadi mahasiswi Commonwealth Honors College yang akan menerima gelar ganda dalam bahasa Inggris, dengan spesialisasi dalam penulisan kreatif dan jurnalisme. Ia bekerja sebagai magang di The Daily Hampshire Gazette dan menulis kolom opini bulanan tentang advokasi disabilitas.

“Saya mulai menulis ketika saya berusia 8 tahun. Dan dalam banyak hal, tulisan saya telah menjadi suara saya dan cara saya mengkomunikasikan pikiran saya dengan orang lain. Karena suaraku apa adanya. Tapi sekarang, saya harus memikirkan rencana saya selanjutnya. Banyak orang tidak berharap banyak dari saya karena disabilitas saya dan saya tidak ingin disabilitas saya mendefinisikan saya. Saya ingin membuktikan bahwa orang salah," katanya dalam pidato pembukanya. Ibunya yang mendengar ini tidak bisa menahan haru atas keberhasilan dan kebahagiaan putrinya.

“Hanya rasa syukur yang luar biasa atas keberhasilannya dalam hidup apa adanya. Karena diagnosis hari itu sangat menakutkan. Namun ia telah menangani diagnosisnya, ia memeluk hidupnya. Ia memiliki martabat dan keanggunan dan ia menolak untuk menyerah," kata Anna.

Joanna mengutip pesan dari neneknya, “Go Change the World! Ini adalah misi saya melalui kolom saya agar orang-orang melihat dunia melalui disabilitas, dan saya ingin mereka tahu bahwa saya tidak begitu berbeda." Ia ingin mengubah dunia, atau setidaknya sudutnya.

3 dari 4 halaman

Infografis Akses dan Fasilitas Umum Ramah Penyandang Disabilitas

4 dari 4 halaman

Simak Video Berikut Ini: