Sukses

Kilas Balik Yura Yunita Bangkit dari Titik Terendah dan Bertemu Teman-Teman Penyandang Disabilitas

Liputan6.com, Jakarta Penyanyi Yura Yunita mengaku pernah mengalami titik terendah dalam hidup sekitar 4 tahun yang lalu. Namun pertemuannya dengan teman Tuli ternyata berbuah manis. Ia jadi semakin percaya diri menelurkan lagu Merakit serta belajar bahasa isyarat.

"Kurang lebih 4 tahun yang lalu, aku ada di titik terendah di hidupku. Aku pernah merasa ruang gerakku dibatasi. Aku pernah langkahku dan karyaku sengaja dihalang-halangi. Singkat cerita, di titik itu momen yang sangat berat. Sampai akhirnya, di bulan puasa dua tahun lalu, terjadi pertemuan sederhana yang mengubah hidup aku banget. Aku dikenalkan dengan satu yayasan di Wiyata Guna Bandung. Itu adalah pertama kalinya aku bersentuhan dengan teman-teman disabilitas," katanya, saat acara grand launching aplikasi Hear Me, beberapa waktu lalu.

Harus tampil di depan puluhan penyandang tunanetra kala itu, membuat Yura sangat gugup. Mungkin banyak orang yang mengira seorang penyanyi terlihat bahagia terus hidupnya, kata dia. Padahal di momen itu, Yura sedang mengalami hal yang tidak mengenakan.

"Tapi ya namanya juga the show must go on, Kita harus terus perform dan niatnya untuk menghibur orang lain. Dan hari itu, aku kaget banget melihat antusias teman-teman tunanetra disana menyanyikan lagu-laguku. Dan di situ aku punya feeling, pengen aku kasih satu mic ke salah satu anak di sana," katanya.

Belakangan ia ketahui, nama anak itu Delia. "Delia menyanyikan lagu Berawal dari Tatap dengan sangat indahnya. Lalu ada kalimat sederhana dari dia. Dia bilang, aku ingin menjadi penyanyi seperti Kak Yura, supaya bisa bikin bangga orang tua dan bisa bikin banyak orang senang."

"Kalimat itu tuh sederhana tapi untuk aku yang mendengar kalimat itu saat aku di titik terendah aku, itu tuh benar-benar bisa jadi penguat banget buat aku. Bahwa temen-temen aja yang sedang ada cobaan atau ada kekurangan, mereka memberi spirit dan energi yang luar biasa besar untuk Yura untuk bisa melanjutkan semangat bikin karya lagi dan merakit album kedua,' ungkap Yura.

Sejak itu Yura mengatakan makin semangat untuk terus maju dan yakin untuk menjadikan lagu Merakit sebagai penguat dan pembakar semangat untuk aku sendiri dan mudah-mudahan juga untuk semua teman-teman yang mendengar. 

 

2 dari 4 halaman

Bertemu Bunda Galuh

Yura pun antusias menceritakan pertemuannya dengan Bunda Galuh yang merupakan teman Tuli. Menurut Yura, ia banyak membantu mengajarkan bahasa isyarat untuk lagu Merakit.

"Ternyata, pemakaian bahasa isyarat sendiri punya perlakuan yang cukup unik karena bisa mengisyaratkan sebuah lagu dan di video yang diadaptasi dengan bahasa isyarat sastra. Jadi, kan bahasa isyarat yang sehari-hari juga seperi kata-kata kita dalam bahasa Indonesia lah. Bahasa kita sehari-hari pasti bahasanya juga beda dengan bahasa sastra yang ditulis dengan lebih puitis, dengan lebih indah. Dan begitu pula yang aku dapatkan dari Bunda Galuh, saat kita ingin mengekspresikan sebuah lagu juga ada satu bentuk gestur dari bahasa isyarat yang juga bisa mewakili makna yang dalam dari sastra Indonesia itu sendiri," katanya.

Isyarat tangan yang digunakan misalnya, akan sedikit berbeda dibandingkan bahasa isyarat di percakapan sehari-hari. "Jadi bahasa isyarat ini bisa semakin menumbuhkan pesan yang ada di dalam lagu ini dan menambahkan rasa yang ada di dalamnya. Dan adaptasi bahasa isyarat sastra yang digunakan ini yang membuat bahasa isyarat terasa semakin indah, dan lebih dipahami oleh teman-teman tuli," ungkap Yura.

Karena pendalaman bahasa isyarat untuk sebuah lagu ternyata butuh waktu, akhirnya bunda Galuh meminta izin memegang tangan dan punggung Yura untuk bisa merasakan getaran suara langsung. "Saat itu, Yura merasa seperti ada getaran yang belum pernah ada getaran yang ada sebelumnya. Bahwa teman tuli bisa terkoneksi dengan musik saat Yura bernyanyi langsung. Dan seketika itu Yura nangis, bunda Galuh juga nangis," ujarnya.

"Dari hampir 30 sekian tahun bunda Galuh hidup di dunia, ini baru pertama kalinya merasakan getaran seorang penyanyi, "oh ternyata inilah yang namanya musik," kata dia. Dan dari situ juga bunda merasa lagu merakit ini sangat powerful dan ingin sekali pesan positif yang ada di lagu merakit ini juga bisa dinikmati oleh teman-teman tuli lainnya. Itulah mengapa lagu merakit ini dibikin versi isyaratnya. Sehingga bisa juga dinikmati oleh teman dengar, begitu juga dengan teman tuli. Dan melalui kolaborasi ini, bunda Galuh sama Yura berusaha meneruskan usaha-usaha baik yang sudah dilakukan banyak sekali individu lain untuk memberi pemahaman yang baik tentang tuli," pungkasnya.

 

3 dari 4 halaman

Infografis Pakai Masker Boleh Gaya, Biar Covid-19 Mati Gaya

4 dari 4 halaman

Simak Video Berikut Ini: