Sukses

Mengatasi Hambatan Pengasuhan Anak Down Syndrome dengan Terapi, Apa Cukup?

Liputan6.com, Jakarta Anak dengan Down syndrome pada umumnya memiliki perkembangan intelektual yang lebih lambat ketimbang anak lain.

Keterlambatan tersebut dapat menimbulkan berbagai hambatan pengasuhan seperti stres pada orangtua. Guna mengatasi masalah tersebut, maka upaya mengurangi hambatan perlu dilakukan.

Dalam penelitian yang ditulis Miftah Setyaning Rahma dan Endang Sri Indrawati dari Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah, ada tiga ibu dari anak Down syndrome yang menjadi subjek penelitian.

Ketiga subjek tersebut mengaku melakukan upaya mengurangi hambatan pengasuhan dengan cara mendaftarkan anak dalam kelas terapi dan sekolah.

Hal ini dilakukan agar anak terstimulasi perkembangannya dan terlatih dalam mempelajari banyak hal di tempat terapi dan sekolah.

“Namun, memasukkan ke terapi dan ke sekolah hanya merupakan salah satu upaya untuk mengatasi hambatan dalam pengasuhan anak Down syndrome,” tulis peneliti dalam jurnal Pengalaman Pengasuhan Anak Down Syndrome dikutip Rabu (20/1/2021).

Peneliti menambahkan, walaupun diterapi dan dimasukkan ke sekolah namun ketika di rumah, subjek selaku orangtua akan melatih dan mengulangi beberapa hal yang telah diajarkan di tempat terapi dan sekolah.

“Jadi bukan semata-mata melepaskan pengasuhan anak walaupun ketiga subjek adalah ibu yang bekerja.”

Dengan kata lain, walau anak mengikuti terapi dan sekolah, tapi orangtua tetap memiliki peran penting dalam pengasuhan di rumah guna mendukung keberhasilan terapi yang tengah dijalani.

Beberapa jenis terapi yang dijalani anak dari ketiga subjek itu adalah fisioterapi, terapi okupasi, dan terapi wicara. Para subjek juga memiliki keinginan untuk mengikutsertakan anak mereka dalam terapi musik.

2 dari 4 halaman

Menerima Dukungan Sosial dan Keluarga

Upaya mengatasi hambatan pengasuhan lainnya bagi ketiga subjek adalah menerima dukungan dari sosial dan keluarga terhadap mereka.

Peneliti juga melansir hasil penelitian Ghoniyah dan Savira (2015) yang menunjukkan bahwa dukungan sosial dari pihak keluarga dalam mengasuh anak Down syndrome membuat ibu mampu mengatasi permasalahan yang muncul.

Ketiga subjek dapat menyelesaikan hambatan yang dihadapi dalam mengasuh anak Down syndrome karena adanya dukungan sosial dari keluarga mereka masing-masing.

“Menurut hasil penelitian Lestari dan Mariyati (2015) ada beberapa faktor pendukung resiliensi yang muncul pada ibu yang memiliki anak Down syndrome, salah satunya faktor dukungan keluarga.” “Dukungan keluarga pada ketiga subjek membuat mereka dapat beresiliensi dalam menghadapi pengalamannya memiliki anak Down syndrome,” tutup peneliti.

3 dari 4 halaman

Infografis Tunjangan Khusus Penyandang Disabilitas di Jakarta

4 dari 4 halaman

Simak Video Berikut Ini: