Sukses

Orangtua dengan Anak Penyandang Disabilitas Tetap Perlu Memerhatikan Diri Sendiri

Liputan6.com, Jakarta Memiliki anak dengan disabilitas ganda membuat praktisi terapi kebiasaan kognitif (CBT) Grace Melia sempat mengalami depresi.

“Dengan mengurus anak special need, saya pernah terkena depresi. Saya pernah mengakses bantuan mental health professional karena ternyata punya anak special need itu benar-benar menguras energi saya,” ujar Grace dalam webinar Konekin ditulis pada Sabtu (31/10/2020).

Tak hanya mengganggu kesehatan mentalnya, memiliki anak berkebutuhan khusus (ABK) juga membuat hubungannya dengan suami retak karena tidak terjalin komunikasi yang baik.

Belajar dari pengalaman, Grace kini sadar bahwa sebagai orangtua dari ABK ia perlu memerhatikan diri sendiri juga.

“Saya diberitahukan psikiater bahwa kita sebagai manusia kita perlu memerhatikan diri sendiri apalagi kalau kita punya anak berkebutuhan khusus yang stress levelnya lebih tinggi dari anak biasa.”

Sebagai orangtua dengan ABK, tambahnya, kemampuan dan waktu untuk memperhatikan diri sendiri harus lebih baik dari orangtua dengan anak biasa.

“Karena dengan selfcare yang baik itu kita sudah mengurus diri sendiri dengan kesejahteraan yang terjaga barulah kita akan berfungsi lebih baik lagi sebagai orangtua dari ABK, sebagai pasangan, sebagai teman dan sebagainya.”

2 dari 4 halaman

Tahapan Berduka

Ia juga menjelaskan tentang tahapan berduka atau tahap penerimaan pada anaknya yang berkebutuhan khusus.

“Kalau kita mendapat diagnose bahwa anak kita berkebutuhan khusus maka pasti tidak mudah menerimanya, rasa tidak percaya, heran, awalnya pasti ada penolakan dan itu ternyata memang ada fasenya.”

Fase-fase yang dapat terjadi dalam penerimaan ABK adalah  penolakan, marah, bertanya-tanya, depresi, dan penerimaan.

Dengan mengetahui tahapan tersebut, maka orangtua akan terbantu untuk menyadari bahwa setiap tahapan yang dirasakan adalah sesuatu yang wajar bagi manusia.

“Apa yang kita rasakan, penolakan, kecemasan, kekhawatiran, dan rasa lelah kita itu sebetulnya wajar dan manusiawi sehingga tidak perlu ditolak, tidak perlu malu, dan tidak perlu ingin selalu menampilkan bahwa kita adalah sosok yang kuat.”

Grace memberi contoh, ketika mengetahui anaknya berkebutuhan khusus ia langsung merasa khawatir dan bertanya-tanya bagaimana masa depan anaknya. Penolakan pun terjadi ketika ia mulai mengetahui bahwa anaknya tuli.

“Saya biasanya bacain dongeng untuk anak saya, tapi setelah tahu dia tuli, saya rasanya ingin menjauh dari dia, rasanya tidak ingin mendekat padanya kecuali saat menyusui.”

Seiring berjalannya waktu, tahapan demi tahapan akan dilalui dan akhirnya setiap orangtua akan sampai di tahap penerimaan.

 

3 dari 4 halaman

Infografis Disabilitas

4 dari 4 halaman

Simak Video Berikut Ini: