Sukses

James Gentry, Profesor Disleksia yang Jadikan Jendela sebagai Patokan Menulis

Liputan6.com, Jakarta Disabilitas belajar disleksia yang dimiliki James Gentry, seorang profesor di Tarleton State University berhasil membuktikan keterbatasan tidak membatasinya. Pria yang akrab disapa Jim ini lahir pada 1970 di Amerika, ia mengalami cedera di kepala ketika ia kecil saat bermain bersama teman-temannya.

Ia membagikan kisahnya di laman theconversation, menurutnya, mungkin cedera itu yang membuat dia memiliki masalah belajar. Mungkin juga tidak karena dokter-dokter yang sempat ia datangi tidak begitu yakin.

"Yang saya ketahui adalah ketika saya di taman kanak-kanak, saya tidak bisa mengeja nama saya: James. Itulah ketika saya menjadi Jim. Setelah beberapa saat, saya mengubah ejaan Jim menjadi Mij," kata Jim seperti dikutip dari theconversation.

Kala itu, ia tidak suka sekolah karena adanya pelajaran membaca dan menulis. Ia mengaku sangat payah dalam dua hal tersebut. Bahkan, ia tidak menyukai dirinya sendiri. Pada usia 6 tahun, Jim didiagnosis memiliki disleksia atau masalah di otak yang menyebabkan disabilitas belajar. Saat itu, kesadaran tentang disleksia masih sangat minim bahkan ibu Jim sempat bertanya "Apa itu menular?".

2 dari 4 halaman

Sistem Pelajaran Khusus

Pada 1975, keadaan mulai berubah ketika sebuah kongres bernama Individuals with Disabilities Education Act (IDEA) mendatangi sekolah Jim di Texas. Kongres ini menyediakan layanan pendidikan khusus untuk semua murid difabel. Termasuk di dalamnya ada pengajar-pengajar baru yang disebut guru pendidikan khusus.

"Mereka membangun kurikulum baru yang dibuat khusus untuk anak-anak seperti saya," kata Jim.

Kurikulum tersebut menyajikan pengalaman menulis dan membaca menggunakan strategi belajar yang dikhususkan. Guru Jim membantunya belajar membaca dengan melihat gambar dan memerankan cerita dari teks.

3 dari 4 halaman

Belajar dengan Menggunakan Tanda

Sebagai anak dengan disleksia, Jim memiliki kesulitan juga dalam menentukan kiri dan kanan. Sering kali ia tak mampu menentukan sepatu mana yang kanan dan yang mana kiri. Ia berkisah tentang pemahamannya dalam menentukan kanan kiri.

Suatu ketika pada 1977, jalanan di sekitar rumahnya sedang diaspal, ia menapakkan kakinya di aspal yang masih hangat sehingga menghasilkan tanda dari satu sisi sepatu. Keesokan harinya ia menempelkan satu sisi lagi dan tercetak dengan sempurna. Sejak saat itu ia bisa menentukan sepatu mana yang seharusnya si kaki kiri dan sepatu mana di kaki kanan.

Belajar dengan tanda juga diterapkan dalam menulis. Suatu ketika, guru Jim memintanya untuk menulis dengan benar dari kiri ke kanan. Sedang, pada saat itu ia tak mengerti cara menulis yang benar dan dari kiri ke kanan. Ia bertanya bagaimana cara menulis dari kiri ke kanan. Gurunya memberi tanda, dengan lubang di kertas yang diarahkan ke satu sisi meja. Lubang kertas yang menunjuk sisi meja itu adalah kiri jadi Jim harus menulis dari sisi tersebut.

Jim juga membuat jendela sebagai patokan. Ia menyadari jendela besar di kelasnya tidak mungkin berpindah sehingga jika hendak menulis ia tinggal mengikuti arah jendela. Sejak saat itu, ia tak pernah menulis dari sisi yang salah.

4 dari 4 halaman

Bukan Halangan Meraih Pendidikan Tinggi

Belajar dengan tantangan khusus tentunya tak mudah bagi Jim. Namun, hal tersebut tak menghalanginya untuk terus mengenyam pendidikan. Di dunia perkuliahan kesulitan mengeja masih terasa, masih banyak kesalahan mengeja di tulisannya. Setelah adanya teknologi pemeriksa ejaan ia pun sangat terbantu. Ia berhasil mendapatkan gelar sarjana pendidikan psikologi dengan nilai yang memuaskan.

Ia juga berhasil lulus dan mendapat gelar magister di pendidikan khusus sambil menjadi guru sekolah. Gelar doktor kurikulum dan intruksi pun ia dapatkan dengan hasil yang sangat memuaskan. Ia bekerja sebagai guru dan profesor di Tarleton State University, ia bekerja dengan murid dan orangtua murid untuk fokus pada kemampuan mereka bukan disabilitasnya.  

"Kita semua berbeda dan itu adalah hal yang bagus. Ingat, kau punya sesuatu untuk diberikan kepada dunia: pelajaran, cerita, cara baru untuk berbuat sesuatu atau beberapa kreasi yang dapat mengubah dunia menjadi lebih baik. Berani lah menyelesaikan tantangan. Kami membutuhkanmu, kau pantas dan kau tak sendiri," kata Jim.

Loading
Artikel Selanjutnya
Chandra Berbagi Kiat Jaga Semangat untuk Kawan Difabel
Artikel Selanjutnya
3 dari 10 Anak Disabilitas di Indonesia Tak Pernah Bersekolah