Warga Amerika Serikat Kehilangan Rp 193,90 Triliun Akibat Penipuan Kripto

FBI mengungkapkan jumlah kerugian yang dialami investor Amerika Serikat (AS) akibat penipuan kripto 2025 naik 22% dari 2024.

Diterbitkan 08 April 2026, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Investor Amerika Serikat (AS) kehilangan USD 11,4 miliar atau Rp 193,90 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.010) akibat penipuan kripto pada 2025. Hal itu berdasarkan laporan baru dari Biro Investigasi Federal atau the Federal Bureau of Investigation (FBI).

FBI menyebutkan, jumlah kerugian akibat penipuan kripto tahun lalu meningkat 22% dari 2024, menyoroti skala penipuan yang semakin besar.

"Penipuan investasi kripto adalah penipuan jangka panjang yang canggih yang menggunakan manipulasi psikologis, penampilan legitimasi dan eksploitasi,” demikian dalam laporan bertajuk Crypto Crime Report dikutip dari Yahoo Finance, Rabu, (8/4/2026).

Sebagian besar penipuan kripto saat ini dilakukan oleh kelompok kejahatan terorganisir yang berbasis di Asia, banyak di antaranya memakai korban perdagangan manusia sebagai pekerja paksa untuk menjalankan operasi itu.

Penipuan identitas, penipuan bursa kripto, dan penipuan yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) terhadap individu kini melampaui kerugian akibat serangan siber.

FBI mencatat dalam laporannya kalau jumlah orang yang menjadi korban penipua kripto telah meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Pada 2025, terdapat 181.565 pengaduan yang melibatkan penipuan kripto, naik 21% dibandingkan tahun sebelumnya, menurut FBI.

Rata-rata kerugian individu akibat penipuan kripto tahun lalu adalah USD 62.604 atau Rp 1,06 miliar (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah 17.010) dan paling sering melibatkan bitcoin (BTC).

Kerugian juga semakin terkonsentrasi. Hampir 18.600 pelapor masing-masing kehilangan lebih dari USD 100.000 atau Rp 1,70 miliar, menunjukkan banyak korban kehilangan tabungan seumur hidup dan rekening pensiunnya.

Dalam laporan FBI menyebutkan, penipuan kripto kini berada di pusat lonjakan penipuan daring yang lebih luas.

Warga AS mengajukan lebih dari satu juta pengaduan kejahatan siber kepada lembaga penegak hukum federal pada 2025 dengan kerugian melebihi USD 20,8 miliar atau Rp 353,78 triliun.

Penipuan dan kecurangan menyumbang sebagian besar kerugian tahun lalu, mencerminkan apa yang digambarkan FBI sebagai lanskap ancaman yang berkembang pesat.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Pakai AI, Bybit Blokir Penipuan Kripto Senilai USD 300 Juta pada 2025

Sebelumnya, Bursa kripto Bybit mengungkap berhasil mencegah kerugian investor hingga USD 300 juta akibat penipuan kripto pada kuartal keempat 2025. Keberhasilan ini menjadi pencapaian penting dalam program peningkatan keamanan berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang diluncurkan perusahaan.

Dikutip dari Bitcoin.com, Kamis (5/3/2026), Bybit memaparkan hasil tersebut melalui Security Initiative 2025, sebuah inisiatif keamanan yang dibangun dengan model perlindungan berbasis risiko dinamis atau Dynamic Risk-Based protection model.

Kerangka sistem ini memperkenalkan mekanisme perlindungan penarikan dana dengan tiga lapisan keamanan yang dirancang untuk menghentikan aktivitas penipuan sebelum dana benar-benar keluar dari platform.

Langkah ini dilakukan di tengah meningkatnya kasus kejahatan di industri kripto.

Data dari perusahaan analisis blockchain Chainalysis menunjukkan bahwa penipuan dan kejahatan kripto menyebabkan kerugian investor hingga USD 17 miliar sepanjang 2025.

Bybit menggunakan sistem yang disebut Triple-Tier Fraudulent Defense Framework, yang mengelompokkan risiko penarikan dana ke dalam tiga kategori, yakni rendah, menengah, dan tinggi.

Sistem ini memanfaatkan sinyal peringatan dini untuk mendeteksi aktivitas mencurigakan.

Misalnya, sistem dapat mengidentifikasi pola transaksi yang tidak biasa, seperti penarikan dana dalam jumlah besar ke alamat kripto baru.

Untuk risiko menengah, sistem akan memicu peringatan secara langsung, terutama jika akun pengguna terkait dengan kebocoran kredensial atau alamat dompet kripto yang sebelumnya telah ditandai mencurigakan.

Sementara pada risiko tinggi—misalnya ketika transaksi terkait dengan skema penipuan yang telah dikonfirmasi seperti “pig butchering scam”—sistem akan langsung memblokir penarikan dana.

Dalam kondisi tersebut, pengguna juga akan dikenakan periode pendinginan (cooling-off period) selama satu jam sebelum dapat kembali melakukan transaksi.

Dampak dari sistem keamanan ini cukup signifikan.

 

 

 

Blokir 3 Juta Percobaan Pencurian

Pada kuartal keempat 2025 saja, sekitar USD 500 juta transaksi penarikan dana terdeteksi berisiko oleh sistem Bybit.

Dari jumlah tersebut, sekitar USD 300 juta berhasil dicegah, sehingga melindungi lebih dari 4.000 pengguna dari potensi kerugian.

Model AI yang digunakan Bybit juga berhasil mengidentifikasi sekitar 350 alamat kripto berisiko tinggi, yang pada akhirnya melindungi sekitar 8.000 pengguna dari kemungkinan penipuan.

Selain itu, sepanjang 2025 Bybit juga berhasil memblokir lebih dari 3 juta percobaan pencurian akun (credential-stuffing attacks).

Perusahaan juga menggunakan teknologi pelacakan lintas blockchain untuk membekukan sekitar USD 4,32 juta dana yang terkait aktivitas ilegal, sekaligus membantu 335 korban mendapatkan perlindungan.

Bybit juga menekankan pentingnya kerja sama antar pelaku industri dalam memerangi penipuan kripto.

Platform ini mengintegrasikan data intelijen dari sejumlah perusahaan analitik blockchain seperti TRM Labs, Elliptic, dan Chainalysis guna berbagi sinyal penipuan secara terstandarisasi.

Di tengah meningkatnya pengawasan regulator terhadap bursa kripto, langkah keamanan proaktif seperti ini dinilai dapat menjadi faktor penting dalam persaingan industri.

Dalam kondisi ketika penipuan kripto mencapai level tertinggi, upaya pencegahan kini menjadi aspek paling penting dalam menjaga kepercayaan investor.