Sukses

BKF Sebut Perlu Ada Standar Rating Risiko untuk Kripto

Liputan6.com, Jakarta - Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, menyatakan perlu dipertimbangkan adanya prasyarat penting bagi keberhasilan konsep pemajakan produk berisiko seperti kripto, yaitu adanya suatu standar rating risiko yang disepakati untuk diadopsi oleh para pelaku pasar domestik. 

Pertimbangan itu tercantum dalam laporan Ekonomi dan Keuangan Mingguan edisi 20 sampai 27 Juni 2022 dalam situs BKF Kemenkeu

Menurut BKF, standar ini dapat dibangun berdasarkan standar yang telah diperkenalkan oleh lembaga independen yang memiliki reputasi pasar yang baik dan bersifat global. 

Beberapa variabel yang diukur dalam suatu standar rating risiko produk yaitu pertama, indeks risiko yang meliputi volatilitas harga, selisih harga terendah dan tertinggi dalam suatu periode, dan lainnya. 

Kedua, indeks teknologi yang mengukur kapasitas dan kemampuan suatu produk kripto termasuk kecepatan dan biaya transaksi, skalabilitas dan kompatibilitas dengan jaringan blockchain lain dan sebagainya. 

Ketiga, indeks Penerimaan Pasar yang mengukur sejauh mana produk kripto dimanfaatkan pasar sebagai instrumen tukar dan seberapa jauh perkembangan proyek dan program pemanfaatan yang berjalan di atas jaringannya. 

Menurut BKF, hasil dari penilaian terhadap risiko produk kripto ini dapat dijadikan referensi bagi otoritas pasar untuk memberikan atau tidak memberikan izin bagi listing suatu produk kripto di bursa dalam negeri. 

Penilaian ini sekaligus juga dapat dijadikan referensi pengenaan pajak atas risiko produk kripto yang diperdagangkan di pasar dalam negeri dalam rangka mengurangi kecenderungan investor untuk mengambil risiko yang tinggi demi memperoleh selisih keuntungan yang besar. 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Begini Prospek Pasar Kripto di Tengah Dominasi Sentimen Negatif

Sebelumnya, pergerakan market kripto sejak awal Juli 2022, tidak cukup memuaskan. Selama akhir pekan lalu, sejumlah aset kripto berkapitalisasi besar atau big cap masih bergerak di bawah level resistance-nya. Meskipun sempat menguat, secara keseluruhan kripto masih berada di kisaran harga yang telah ditempati sejak lama. 

Misalnya Bitcoin dalam meskipun menguat, harganya masih terjebak di kisaran USD 20.000 atau sekitar Rp 299,5 juta. Walaupun ada penguatan tinggi, sejauh ini Bitcoin hanya bisa menyentuh USD 21.000.

Trader Tokocrypto, Afid Sugiono menjelaskan pergerakan kripto ke depan berdasarkan analisis data on-chain dan sisi teknikal, aset kripto masih berpotensi melemah cukup dalam, meskipun level harga aset kripto saat ini terbilang sideways atau datar. 

"Pergerakan pasar kripto sejatinya mengikuti sentimen investor secara umum yang tengah menghindari risiko, sama seperti yang tercermin dari pelemahan di pasar saham AS," ujar Afid kepada Liputan6.com, Selasa (5/7/2022). 

Sampai saat ini, investor yakin ekonomi AS sesegera mungkin akan masuk ke jurang resesi. Mereka juga takut pertumbuhan ekonomi AS bakal makin terjerembab mengingat bank sentral AS, The Fed, berkali-kali menegaskan kekukuhannya untuk mengerek suku bunga acuan demi mengekang inflasi.

"Dari sisi teknikal, Bitcoin saat ini memiliki support terdekat di level USD 17.700 dengan resistance terdekat di USD 21.051. Namun, terlihat pekan ini investor masih bersikeras untuk mempertahankan harga BTC tidak anjlok di bawah USD 19.000,” kata Afid.

Namun, menurut Afid jika melihat volume trading pada pekan ini tampak masih anjok yang cukup dalam, sehingga semakin besar pula potensi BTC untuk melanjutkan pelemahannya dan menguji level support kuatnya di USD 15.500 dalam jangka panjang.

3 dari 4 halaman

Perusahaan Pemberi Pinjaman Kripto Vauld Hentikan Penarikan dan Penyetoran

Sebelumnya, bertambah lagi deretan perusahaan kripto yang terdampak akibat penurunan harga belakangan ini.

Kali ini giliran, pemberi pinjaman kripto, Vauld, pada Senin, 4 Juli 2022 waktu setempat menghentikan semua penarikan, perdagangan, dan penyetoran di platformnya. Menurut laporan, perusahaan saat ini menjajaki opsi restrukturisasi potensial.

CEO Vauld, Darshan Bathija mengatakan, dalam sebuah posting blog pada Senin perusahaan menghadapi "tantangan keuangan" karena "kondisi pasar yang bergejolak.

“Kesulitan keuangan dari mitra bisnis utama kami pasti mempengaruhi kami, dan iklim pasar saat ini yang telah menyebabkan pelanggan menarik lebih dari USD 197,7 juta (Rp 2,9 triliun) dari platform sejak 12 Juni,” kata Bathija dikutip dari CNBC, Selasa (5/7/2022).

Perusahaan yang berbasis di Singapura itu mengatakan sedang bekerja dengan penasihat keuangan dan hukumnya untuk menjelajahi dan menganalisis semua opsi yang mungkin, termasuk opsi restrukturisasi potensial, yang paling baik melindungi kepentingan pemangku kepentingan Vauld.

Langkah Vauld untuk menghentikan penarikan terjadi kurang dari tiga minggu setelah CEO Bathija mengatakan perusahaan terus beroperasi seperti biasa meskipun kondisi pasar bergejolak. 

Dalam posting blog 16 Juni lalu, Bathija mengatakan penarikan sedang "diproses seperti biasa dan ini akan terus terjadi di masa depan."

4 dari 4 halaman

Imbas Anjloknya Pasar Kripto

Namun, Vauld telah menjadi korban terbaru dari anjloknya harga cryptocurrency tahun ini. Bitcoin memiliki kinerja kuartalan terburuk sejak 2011 di kuartal kedua 2022. Miliaran dolar terhapus dari nilai pasar cryptocurrency dalam periode tiga bulan.

Perusahaan pemberi pinjaman kripto seperti Vauld telah menghadapi masalah likuiditas. Celsius bulan lalu menghentikan penarikan untuk pelanggan dengan alasan “kondisi pasar yang ekstrem.”

Vauld mengatakan sedang dalam diskusi dengan calon investor di perusahaan. Perusahaan mengatakan telah mempekerjakan Kroll Pte Limited sebagai penasihat keuangannya, serta Cyril Amarchand Mangaldas, dan Rajah & Tann Singapore LLP sebagai penasihat hukumnya masing-masing di India dan Singapura.

Keruntuhan pasar telah mengekspos kekurangan dalam sejumlah proyek cryptocurrency dan model bisnis. Sementara itu, dana lindung nilai cryptocurrency utama Three Arrows Capital jatuh ke dalam likuidasi setelah gagal membayar lebih dari USD 660 juta pinjaman dari Voyager Digital.