Liputan6.com, Jakarta - Kegagalan bisa datang ketika seseorang sudah mengerahkan seluruh tenaga, waktu, dan pikirannya untuk mencapai sebuah tujuan. Bisnis yang dirintis bertahun-tahun mungkin tidak berjalan sesuai harapan, pekerjaan impian bisa saja gagal didapatkan, atau rencana besar justru berakhir dengan kekecewaan. Pada saat seperti itu, tidak sedikit orang yang mulai meragukan kemampuan diri sendiri dan merasa semua usaha yang dilakukan menjadi sia-sia.
Namun, kegagalan tidak selalu menjadi akhir dari perjalanan. Cara seseorang menanggapi pengalaman tersebut dapat memengaruhi langkah berikutnya. Ada orang yang memilih berhenti karena merasa tidak mampu, sementara yang lain mencoba memahami penyebab kegagalannya, memperbaiki strategi, lalu kembali melangkah dengan persiapan yang lebih matang.
Salah satu konsep psikologi yang relevan dengan hal ini adalah growth mindset, yakni cara pandang bahwa kemampuan dapat dikembangkan melalui latihan, strategi yang tepat, pengalaman, dan bantuan orang lain. American Psychological Association (APA) menjelaskan bahwa orang dengan pola pikir berkembang cenderung melihat tantangan sebagai bagian dari proses belajar, bukan semata-mata bukti bahwa dirinya tidak mampu. Meski demikian, pola pikir positif bukan jaminan kesuksesan, melainkan salah satu bekal untuk menghadapi kesulitan dengan lebih konstruktif.
Advertisement
Lantas apa saja pola pikir orang sukses dalam menghadapi kegagalan? Melansir dari berbagai sumber, Selasa (20/10/2026), simak ulasan informasinya berikut ini.
1. Menganggap kegagalan sebagai bahan evaluasi, bukan akhir perjalanan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9375122/original/081818800_1792130458-242e6809-58e6-48a6-ad4e-36b75a1320b1.jpg)
Salah satu pola pikir yang membantu seseorang bangkit dari kegagalan adalah kemampuan memisahkan hasil yang buruk dari penilaian terhadap dirinya sendiri. Ketika sebuah usaha tidak berhasil, seseorang tidak langsung menyimpulkan bahwa dirinya bodoh, tidak berbakat, atau tidak pantas mendapatkan kesempatan yang lebih baik.
Sebaliknya, kegagalan dipandang sebagai pengalaman yang perlu diperiksa. Apakah persiapannya kurang matang? Apakah strategi yang digunakan sudah sesuai? Apakah keputusan yang diambil berdasarkan informasi yang cukup? Pertanyaan semacam ini membantu seseorang menemukan hal konkret yang bisa diperbaiki daripada terus-menerus menyalahkan diri sendiri.
Pendekatan tersebut sejalan dengan growth mindset. Materi APA tentang pola pikir berkembang menjelaskan bahwa kesalahan dapat menjadi kesempatan untuk mencoba strategi baru, mencari bantuan, dan meningkatkan kemampuan. Artinya, kegagalan bukan sesuatu yang harus dirayakan, tetapi juga tidak perlu dianggap sebagai vonis permanen atas kemampuan seseorang.
Cara menerapkannya: setelah mengalami kegagalan, tuliskan tiga hal: apa yang tidak berjalan sesuai rencana, faktor apa yang mungkin memengaruhinya, dan perubahan apa yang akan dilakukan jika mencoba kembali. Evaluasi yang spesifik membuat pengalaman buruk lebih berguna daripada sekadar memikirkannya berulang kali.
Advertisement
2. Fokus pada hal yang bisa dikendalikan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3179277/original/028324900_1594714559-smiling-blonde-business-woman-using-laptop-computer_171337-2867.jpg)
Tidak semua hal dalam kehidupan berada di bawah kendali seseorang. Hasil wawancara kerja, kondisi ekonomi, keputusan pelanggan, persaingan bisnis, hingga penilaian orang lain dapat dipengaruhi banyak faktor di luar kemampuan pribadi. Orang yang mampu menghadapi kegagalan secara konstruktif berusaha membedakan hal yang bisa diperbaiki dari hal yang memang tidak dapat dikendalikan.
Misalnya, seseorang yang gagal mendapatkan pekerjaan mungkin tidak bisa mengubah keputusan perekrut. Namun, ia masih bisa mengevaluasi kualitas CV, memperbaiki cara menjawab pertanyaan wawancara, mempelajari keterampilan yang dibutuhkan, dan memperluas jaringan profesional. Perhatian dialihkan dari hasil yang sudah terjadi menuju langkah yang masih bisa dilakukan.
Cara berpikir ini bukan berarti mengabaikan faktor eksternal atau menganggap semua kegagalan terjadi karena kesalahan pribadi. Sebaliknya, seseorang belajar mengenali batas pengaruhnya agar tidak menghabiskan energi untuk hal yang tidak dapat diubah. APA juga menekankan pentingnya strategi menghadapi kesulitan, termasuk memahami situasi dan memikirkan langkah yang realistis untuk mengatasinya.
Cara menerapkannya: bagi masalah menjadi dua kelompok, yaitu hal yang bisa dikendalikan dan hal yang tidak bisa dikendalikan. Setelah itu, pilih satu tindakan nyata dari kelompok pertama. Langkah sederhana ini membantu seseorang kembali merasa memiliki arah setelah mengalami kekecewaan.
3. Berani mengakui kesalahan tanpa terus menghukum diri sendiri
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5193449/original/065553800_1745225107-pexels-rdne-8489049.jpg)
Menghadapi kegagalan membutuhkan keberanian untuk mengakui bahwa keputusan atau tindakan tertentu mungkin kurang tepat. Sebagian orang justru terjebak dalam kebiasaan membela diri, mencari kambing hitam, atau menolak masukan karena takut terlihat tidak kompeten. Padahal, kesalahan yang tidak dikenali akan lebih sulit diperbaiki.
Orang yang mau berkembang dapat mengakui kekeliruan tanpa menjadikan kesalahan tersebut sebagai identitas dirinya. Ia bisa berkata, "Keputusan saya kali ini kurang tepat," tanpa harus menyimpulkan, "Saya selalu membuat keputusan yang buruk." Perbedaan kalimat tersebut terlihat sederhana, tetapi membantu memisahkan evaluasi terhadap tindakan dari penilaian menyeluruh terhadap diri sendiri.
Mengakui kesalahan juga berarti bersedia mendengarkan umpan balik. Kritik yang disampaikan secara masuk akal dapat memberikan sudut pandang yang luput dari perhatian. Meski tidak semua kritik benar atau perlu diikuti, seseorang dapat menimbang isinya, mengambil bagian yang bermanfaat, dan mengabaikan komentar yang tidak relevan.
Cara menerapkannya: ketika menerima hasil yang mengecewakan, hindari langsung mencari pembenaran. Coba tanyakan kepada diri sendiri, "Bagian mana yang menjadi tanggung jawab saya, dan apa yang bisa saya perbaiki?" Jika kesalahan merugikan orang lain, sertai evaluasi dengan permintaan maaf dan tindakan untuk memperbaiki dampaknya.
Advertisement
4. Memilih belajar dan memperbaiki strategi, bukan hanya bekerja lebih keras
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3179112/original/093002800_1594705555-young-student-sitting-table-use-laptop_1157-27559.jpg)
Banyak orang mengira bahwa kegagalan hanya bisa diatasi dengan menambah jam kerja, mengeluarkan tenaga lebih besar, atau terus mengulangi cara yang sama. Padahal, usaha yang lebih besar tidak selalu menghasilkan perubahan apabila strategi dasarnya masih keliru.
Orang yang bersedia belajar akan mengevaluasi bukan hanya seberapa keras dirinya berusaha, tetapi juga apakah pendekatan yang digunakan sudah efektif. Pebisnis, misalnya, bisa meninjau kembali kebutuhan pelanggan sebelum mengeluarkan modal tambahan. Pelajar dapat mengganti metode belajar jika membaca berulang kali tidak membantunya memahami materi. Sementara itu, pekerja bisa meminta umpan balik untuk mengetahui bagian keterampilannya yang masih perlu ditingkatkan.
Dalam pembahasan growth mindset, APA menyoroti pentingnya usaha yang disertai strategi belajar dan kesempatan memperoleh bantuan. Dengan kata lain, ketekunan akan lebih berguna ketika diikuti kemauan untuk menyesuaikan cara kerja. Penelitian tentang intervensi growth mindset juga menunjukkan hasil yang beragam, sehingga pola pikir ini sebaiknya dipahami sebagai salah satu pendekatan pendukung, bukan rumus ajaib untuk mencapai keberhasilan.
Cara menerapkannya: sebelum mengulangi usaha yang gagal, tentukan satu perubahan yang dapat diuji. Perubahan itu bisa berupa cara menyusun rencana, metode belajar, pendekatan kepada pelanggan, atau kebiasaan meminta masukan. Dengan begitu, percobaan berikutnya menghasilkan informasi baru, bukan sekadar mengulang pengalaman yang sama.
5. Tidak menjadikan keberhasilan orang lain sebagai alasan untuk menyerah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4939271/original/009049700_1725776064-Ilustrasi_orang_konsisten__percaya_diri__sukses.jpg)
Melihat orang lain berhasil ketika diri sendiri sedang mengalami kesulitan bisa memunculkan rasa tertinggal. Teman sebaya mungkin sudah mendapatkan promosi, membangun bisnis yang berkembang, atau mencapai target yang selama ini diinginkan. Perbandingan tersebut dapat membuat seseorang merasa dirinya tidak cukup baik, terutama ketika hanya melihat hasil akhir orang lain tanpa mengetahui proses di baliknya.
Pola pikir yang lebih konstruktif adalah menjadikan keberhasilan orang lain sebagai sumber informasi, bukan ukuran mutlak harga diri. Seseorang dapat mempelajari keterampilan yang digunakan orang lain, cara mereka mengatur waktu, atau strategi yang membantu mereka menghadapi tantangan. Namun, pelajaran tersebut tetap perlu disesuaikan dengan keadaan, sumber daya, dan tujuan pribadi.
Penting pula memahami bahwa perjalanan setiap orang berbeda. Ada yang memiliki dukungan keluarga, akses pendidikan, modal, atau kesempatan yang tidak dimiliki orang lain. Karena itu, tidak adil jika seluruh perbedaan hasil hanya dijelaskan melalui kerja keras atau pola pikir. Faktor lingkungan dan kesempatan juga dapat berperan besar dalam perjalanan seseorang.
Cara menerapkannya: ketika merasa tertinggal, batasi kebiasaan membandingkan pencapaian secara terus-menerus. Alih-alih bertanya, "Mengapa saya belum seperti dia?", cobalah bertanya, "Keterampilan apa yang bisa saya pelajari dari pengalamannya?" Pertanyaan kedua lebih mudah diterjemahkan menjadi tindakan yang bermanfaat.
Advertisement
6. Bersedia meminta bantuan ketika tidak bisa menyelesaikan masalah sendiri
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2964405/original/001428900_1573474223-Canva_Studio.jpeg)
Ada anggapan bahwa orang kuat harus mampu menghadapi semua masalah sendirian. Akibatnya, sebagian orang enggan meminta bantuan karena takut dianggap lemah atau tidak kompeten. Padahal, mengenali keterbatasan dan mencari dukungan yang tepat justru bisa membantu seseorang melihat persoalan dengan lebih jernih.
Bantuan tidak selalu berarti menyerahkan tanggung jawab kepada orang lain. Seseorang dapat berdiskusi dengan mentor, meminta saran rekan kerja, mengikuti pelatihan, atau mencari pendapat dari orang yang memiliki pengalaman relevan. Perspektif baru terkadang membantu menemukan kesalahan yang sebelumnya sulit terlihat karena terlalu dekat dengan masalah.
APA memasukkan ketersediaan dan kualitas dukungan sosial sebagai salah satu faktor yang berkontribusi terhadap resiliensi, yaitu kemampuan beradaptasi saat menghadapi pengalaman sulit. Resiliensi bukan berarti tidak pernah merasa sedih atau kecewa, melainkan kemampuan untuk menyesuaikan diri dan mencari cara menghadapi keadaan yang menantang.
Cara menerapkannya: kenali bagian masalah yang belum bisa diselesaikan sendiri, lalu cari orang yang tepat untuk diajak berdiskusi. Sampaikan persoalan secara spesifik dan jelaskan jenis bantuan yang dibutuhkan. Masukan yang tepat dapat membantu menyusun langkah baru, meskipun keputusan akhir tetap berada di tangan diri sendiri.
7. Memahami bahwa berhenti sejenak bukan berarti menyerah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3508125/original/034549100_1626074980-priscilla-du-preez-AOdELn6senM-unsplash_Fotor.jpg)
Pola pikir pantang menyerah sering kali dianggap sebagai keharusan untuk terus berjalan dalam kondisi apa pun. Padahal, ketekunan yang sehat juga membutuhkan kemampuan mengenali kapan seseorang perlu beristirahat, mengubah arah, atau bahkan menghentikan rencana yang tidak lagi masuk akal.
Seseorang yang mengalami kegagalan bisa merasa harus segera membuktikan dirinya mampu. Ia kemudian terus bekerja meskipun kelelahan, mempertahankan usaha yang merugikan, atau menolak mengubah keputusan hanya karena sudah telanjur menginvestasikan banyak waktu dan uang. Dalam situasi seperti ini, kegigihan tanpa evaluasi justru berisiko memperbesar kerugian.
Mengambil jeda dapat memberikan ruang untuk memulihkan energi dan menilai situasi dengan lebih tenang. Setelah itu, seseorang bisa menentukan apakah tujuannya masih relevan, apakah strateginya perlu diperbaiki, atau apakah sudah waktunya memilih jalur lain. Berubah arah tidak selalu berarti gagal; terkadang keputusan tersebut merupakan hasil evaluasi yang lebih matang.
Cara menerapkannya: tentukan batas yang jelas untuk mengevaluasi kemajuan, biaya, waktu, dan dampak suatu usaha. Jika hasilnya terus tidak sesuai harapan, pertimbangkan pilihan yang tersedia berdasarkan bukti, bukan semata-mata gengsi atau rasa takut dianggap menyerah. Tujuannya bukan bertahan dengan segala cara, melainkan mengambil keputusan yang paling masuk akal.
Advertisement
Pertanyaan & Jawaban Seputar Pola Pikir Orang Sukses dalam Menghadapi Kegagalan
1. Apa pola pikir utama orang sukses saat menghadapi kegagalan?
Salah satunya adalah melihat kegagalan sebagai bahan evaluasi, bukan bukti bahwa dirinya tidak mampu selamanya. Dengan cara ini, seseorang dapat mengidentifikasi kesalahan, memperbaiki strategi, dan menentukan langkah selanjutnya secara lebih realistis.
2. Mengapa kegagalan bisa menjadi kesempatan untuk belajar?
Kegagalan dapat memperlihatkan bagian dari rencana atau strategi yang belum berjalan dengan baik. Jika dievaluasi secara objektif, pengalaman tersebut dapat menjadi sumber informasi untuk mengambil keputusan yang lebih matang pada kesempatan berikutnya.
3. Apa hubungan growth mindset dengan kegagalan?
Growth mindset merupakan pola pikir yang memandang kemampuan sebagai sesuatu yang dapat dikembangkan melalui latihan, strategi, pengalaman, dan dukungan. Pola pikir ini membantu seseorang melihat tantangan sebagai bagian dari proses belajar, meskipun tidak menjamin keberhasilan secara otomatis.
4. Bagaimana cara bangkit setelah mengalami kegagalan besar?
Berikan waktu untuk memproses emosi, kemudian evaluasi situasi secara bertahap. Identifikasi hal yang bisa dikendalikan, tentukan satu langkah kecil yang realistis, dan mintalah bantuan jika diperlukan. Tidak harus menyelesaikan semua persoalan sekaligus.
5. Apakah orang sukses tidak pernah takut gagal?
Tidak. Orang yang berhasil mencapai tujuannya juga dapat merasa takut, kecewa, atau ragu. Perbedaannya bukan selalu terletak pada ketiadaan rasa takut, melainkan pada cara mengelola risiko, mengambil keputusan, dan merespons hasil yang tidak sesuai harapan.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2845750/original/003475400_1562319949-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5288151/original/067339000_1752895807-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__29_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9377480/original/078319600_1792466079-Cek_Fakta__Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9328649/original/001837900_1787203589-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-20T122532.000.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3508128/original/009551500_1626075077-thisisengineering-raeng-TXxiFuQLBKQ-unsplash_Fotor.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4592832/original/027346900_1695985243-that-woman-sat-bed-raised-her-hand-put-laptop-pillow_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4705662/original/001851700_1704333030-Ilustrasi_resign__pindah_kerja__mengundurkan_diri.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9377607/original/025429400_1792470977-6876688f-e0f1-410c-b705-c229a4cadacb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9377548/original/078713300_1792468972-Gemini_Generated_Image_ypmzoyypmzoyypmz.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9377450/original/090605200_1792464505-05966b6c-6b17-40f2-b5ff-514c5d386fb5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367454/original/065654900_1791349173-hl.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9377375/original/098663100_1792458776-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5149617/original/041348000_1740994603-Main_media_sosial.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9377367/original/079593200_1792458319-Gemini_Generated_Image_e9m19te9m19te9m1.jpg)