8 Cara Kenali Orang yang Bahagia dari Kebiasaan Sehari-hari, Terlihat dari Hal Sederhana

Ingin tahu apakah seseorang benar-benar bahagia? Seimak 8 cara kenali orang yang bahagia dari kebiasaan sehari-hari yang sering luput dari perhatian.

Liputan6.com, Jakarta - Kebahagiaan tidak selalu terlihat dari senyum lebar, tawa yang keras, atau kehidupan yang tampak sempurna di media sosial. Dalam kehidupan sehari-hari, orang yang merasa cukup bahagia justru bisa menunjukkan kebiasaan sederhana, seperti menikmati waktu bersama orang terdekat, menghargai bantuan kecil, hingga tidak terlalu sibuk membandingkan pencapaiannya dengan kehidupan orang lain.

Dalam psikologi, kebahagiaan berkaitan dengan kesejahteraan subjektif, termasuk bagaimana seseorang menilai kehidupannya dan merasakan emosi positif maupun negatif. Artinya, bahagia bukan berarti seseorang selalu merasa senang atau tidak pernah mengalami kesedihan. Seseorang tetap bisa merasa bahagia meskipun sedang menghadapi masalah, mengalami kegagalan, atau menjalani hari yang melelahkan.

Penelitian yang dirangkum oleh Greater Good Science Center dari University of California, Berkeley, dan berbagai publikasi psikologi juga menyoroti pentingnya rasa syukur, hubungan sosial, serta kemampuan menikmati pengalaman positif dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan-kebiasaan tersebut dapat mendukung kesejahteraan, meskipun tidak bisa digunakan sebagai ukuran tunggal untuk menilai perasaan seseorang. Lantas bagaimana cara kenali orang yang bahagia dari kebiasaan sehari-hari? Melansir dari berbagai sumber, Sabtu (17/10/2026), simak ulasan informasinya berikut ini.

1. Terbiasa Mensyukuri Hal-Hal Kecil dalam Kehidupan

Salah satu kebiasaan yang sering dikaitkan dengan kesejahteraan psikologis adalah kemampuan menghargai hal-hal sederhana. Orang yang memiliki kebiasaan bersyukur tidak selalu menunggu mendapatkan pekerjaan impian, membeli barang mahal, atau mencapai target besar untuk merasakan kebahagiaan. Mereka juga dapat menghargai pengalaman kecil yang membuat hari terasa lebih menyenangkan.

Misalnya, seseorang merasa senang karena bisa menikmati sarapan dengan tenang, mendapatkan kabar dari teman lama, atau menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda. Hal-hal tersebut mungkin terlihat biasa bagi orang lain, tetapi memiliki arti tersendiri bagi dirinya. Kebiasaan memperhatikan pengalaman positif dapat membantu seseorang tidak hanya berfokus pada kekurangan atau masalah yang sedang dihadapi.

Menurut pembahasan psikologi yang diterbitkan Harvard Health Publishing, rasa syukur berkaitan dengan emosi yang lebih positif, kepuasan hidup, dan hubungan sosial yang lebih baik. Praktik sederhana seperti menuliskan beberapa hal yang disyukuri juga dapat membantu seseorang lebih menyadari pengalaman positif dalam hidupnya.

Meski demikian, bersyukur bukan berarti harus menganggap semua masalah sebagai sesuatu yang baik. Seseorang tetap boleh kecewa, marah, atau sedih ketika menghadapi keadaan sulit. Perbedaannya terletak pada kemampuan untuk tetap melihat hal-hal yang berharga tanpa menyangkal kenyataan yang sedang terjadi.

2. Menikmati Waktu Bersama Orang Terdekat

Kebiasaan berikutnya adalah meluangkan waktu untuk membangun hubungan yang bermakna. Orang yang merasa bahagia bisa menunjukkan hal ini melalui perhatian sederhana, seperti menyempatkan diri mengobrol dengan keluarga, menghubungi teman, atau mendengarkan cerita pasangan tanpa terus-menerus memeriksa ponsel.

Hubungan sosial yang berkualitas dapat memberikan rasa terhubung, dukungan emosional, dan perasaan bahwa seseorang tidak harus menghadapi semua persoalan sendirian. Kebahagiaan dalam konteks ini bukan soal memiliki banyak teman atau selalu berada di tengah keramaian. Hubungan yang hangat dengan beberapa orang yang dipercaya juga dapat menjadi sumber kesejahteraan.

American Psychological Association (APA) turut membahas penelitian mengenai hubungan sosial dan kebahagiaan. Interaksi sehari-hari, termasuk percakapan singkat dan menghubungi teman lama, dapat memberikan manfaat bagi suasana hati dan kesejahteraan.

Namun, orang yang bahagia tidak harus selalu ekstrover. Ada pula orang yang lebih nyaman dengan lingkaran pertemanan kecil atau membutuhkan banyak waktu sendiri. Hal yang lebih penting adalah apakah hubungan yang dimiliki terasa aman, saling menghargai, dan memberikan ruang bagi setiap orang untuk menjadi dirinya sendiri.

3. Tidak Terus-menerus Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Di tengah kehidupan yang semakin dekat dengan media sosial, membandingkan diri dengan orang lain menjadi kebiasaan yang mudah terjadi. Seseorang mungkin melihat teman sebaya memiliki karier lebih mapan, rumah lebih bagus, atau kehidupan keluarga yang tampak harmonis. Jika terus dilakukan, kebiasaan ini bisa membuat pencapaian sendiri terasa kurang berarti.

Orang yang memiliki hubungan lebih sehat dengan dirinya cenderung berusaha menilai kehidupan berdasarkan kebutuhan, nilai, dan tujuan pribadi. Mereka dapat mengagumi keberhasilan orang lain tanpa selalu menganggapnya sebagai bukti bahwa dirinya tertinggal. Ketika melihat teman mendapatkan promosi jabatan, misalnya, mereka bisa ikut senang sambil tetap fokus pada langkah yang ingin dicapai sendiri.

Sikap tersebut bukan berarti seseorang tidak memiliki ambisi. Justru, seseorang tetap bisa memiliki target besar tanpa menjadikan kehidupan orang lain sebagai satu-satunya tolok ukur keberhasilan. Ia memahami bahwa setiap orang mempunyai kondisi keluarga, kesempatan, sumber daya, dan perjalanan hidup yang berbeda.

Kebiasaan ini juga membantu seseorang lebih realistis dalam melihat media sosial. Foto liburan, pencapaian karier, dan momen romantis yang dibagikan orang lain hanyalah sebagian dari kehidupan mereka, bukan gambaran lengkap tentang kesehariannya. Dengan begitu, seseorang dapat menikmati pencapaian sendiri tanpa harus terus-menerus mengejar standar yang ditetapkan orang lain.

4. Mampu Menikmati Waktu Sendiri Tanpa Merasa Selalu Harus Sibuk

Tidak semua kebahagiaan berasal dari aktivitas bersama orang lain. Ada orang yang menikmati waktu sendiri dengan membaca buku, merawat tanaman, memasak, berjalan santai, atau sekadar beristirahat setelah menyelesaikan pekerjaan. Kemampuan menikmati momen tersebut dapat menjadi bagian dari hubungan yang lebih nyaman dengan diri sendiri.

Orang yang merasa cukup nyaman dengan dirinya tidak selalu menganggap waktu kosong sebagai sesuatu yang harus segera diisi. Mereka dapat beristirahat tanpa merasa wajib produktif setiap saat. Ketika memiliki waktu luang, mereka mungkin memilih kegiatan sederhana yang memberikan ketenangan daripada memaksakan diri mengikuti semua aktivitas orang lain.

Meski demikian, menikmati kesendirian berbeda dari menarik diri karena merasa kesepian atau takut berinteraksi. Waktu sendiri yang dipilih secara sadar bisa terasa menyegarkan, sedangkan isolasi yang tidak diinginkan dapat membuat seseorang merasa semakin terputus dari lingkungan sosialnya. Karena itu, penting untuk melihat apakah kesendirian memberikan rasa nyaman atau justru menambah beban emosional.

Dalam pembahasan mengenai praktik membangun kebahagiaan, Greater Good Science Center juga menyoroti kegiatan menikmati pengalaman positif atau savoring. Praktik ini melibatkan perhatian terhadap momen yang menyenangkan, bukan sekadar melewatinya sambil memikirkan hal lain.

Kebiasaan menikmati waktu sendiri pun tidak harus berupa meditasi atau kegiatan khusus. Duduk menikmati secangkir teh, menyiram tanaman pada pagi hari, atau mendengarkan musik favorit tanpa tergesa-gesa dapat menjadi cara sederhana untuk memberikan perhatian pada pengalaman saat ini.

5. Mudah Mengapresiasi dan Mengucapkan Terima Kasih kepada Orang Lain

Perhatikan bagaimana seseorang merespons bantuan kecil yang diterimanya. Apakah ia terbiasa mengucapkan terima kasih, mengakui usaha orang lain, dan menunjukkan apresiasi secara tulus? Kebiasaan seperti ini dapat menjadi petunjuk tentang bagaimana seseorang membangun hubungan dengan lingkungan sekitarnya.

Mengapresiasi orang lain tidak selalu membutuhkan hadiah atau pujian yang berlebihan. Ucapan terima kasih kepada rekan kerja yang membantu menyelesaikan tugas, menghargai makanan yang disiapkan anggota keluarga, atau mengakui usaha teman yang sedang belajar bisa menjadi bentuk perhatian yang berarti.

Rasa syukur yang diekspresikan kepada orang lain juga dapat memperkuat hubungan sosial. Pembahasan penelitian di Greater Good Science Center menunjukkan bahwa apresiasi berperan dalam membangun dan mempertahankan hubungan, termasuk persahabatan dan hubungan romantis.

Orang yang terbiasa mengapresiasi orang lain tidak berarti selalu merasa bahagia. Namun, kebiasaan ini dapat menciptakan interaksi yang lebih hangat dan membantu kedua pihak merasa dihargai. Hubungan yang sehat pun tidak hanya dibangun melalui ucapan terima kasih, tetapi juga melalui sikap saling menghormati, kesediaan membantu, dan kemampuan mengakui kesalahan.

6. Bisa Menghadapi Masalah Tanpa Berpura-Pura Selalu Baik-Baik Saja

Orang yang bahagia bukan berarti orang yang tidak pernah mengeluh atau selalu terlihat ceria. Salah satu hal yang lebih bermakna justru kemampuan menghadapi emosi yang tidak menyenangkan tanpa menganggapnya sebagai akhir dari segalanya.

Ketika menghadapi kegagalan, misalnya, seseorang mungkin merasa kecewa dan membutuhkan waktu untuk memulihkan diri. Namun, setelah emosinya lebih stabil, ia dapat mulai mencari solusi, meminta bantuan, atau mengevaluasi hal-hal yang masih bisa diperbaiki. Ia tidak harus langsung berpikir positif untuk membuktikan bahwa dirinya kuat.

Kebiasaan ini juga terlihat dari kesediaan seseorang mengakui bahwa dirinya sedang lelah atau membutuhkan dukungan. Alih-alih memaksakan senyum agar terlihat baik-baik saja, ia dapat berbicara dengan orang yang dipercaya atau mengambil waktu untuk beristirahat. Mengakui perasaan bukan tanda kelemahan, melainkan bagian dari memahami kebutuhan diri.

Dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan tersebut membuat kebahagiaan tidak bergantung sepenuhnya pada keadaan yang selalu ideal. Seseorang dapat merasakan kepuasan hidup sekaligus mengalami kesedihan pada waktu tertentu. Kedua pengalaman itu tidak harus saling meniadakan.

Karena itu, jangan langsung menganggap orang yang jarang mengeluh sebagai orang paling bahagia. Ada orang yang memilih diam ketika sedang menghadapi masalah, sementara orang lain lebih terbuka dalam mengungkapkan perasaannya. Kondisi emosional seseorang tidak bisa disimpulkan hanya dari seberapa sering ia terlihat tersenyum atau bercerita tentang kesulitannya.

7. Senang Melakukan Kebaikan Kecil tanpa Selalu Mengharapkan Balasan

Kebiasaan membantu orang lain juga dapat menjadi bagian dari kehidupan yang terasa bermakna. Bentuknya tidak harus berupa sumbangan besar atau tindakan heroik. Memberikan informasi kepada orang yang membutuhkan, membantu rekan kerja yang kesulitan, atau mendengarkan teman yang sedang menghadapi masalah merupakan contoh sederhana yang bisa dilakukan sehari-hari.

Bagi sebagian orang, tindakan tersebut memberikan perasaan terhubung dengan lingkungan dan kesempatan untuk memberikan dampak positif. Mereka tidak selalu mengukur manfaat sebuah tindakan dari seberapa besar pujian atau pengakuan yang diterima. Kepuasan dapat muncul karena mengetahui bahwa tindakannya membantu meringankan kesulitan orang lain.

Penelitian yang dibahas oleh APA mengenai rasa syukur dan perilaku prososial juga menunjukkan adanya hubungan antara keduanya. Sementara itu, berbagai pembahasan psikologi kesejahteraan menyoroti peran hubungan sosial dan tindakan yang bermanfaat bagi orang lain dalam kehidupan yang bermakna.

Meski begitu, kebaikan tidak harus dilakukan dengan mengorbankan kebutuhan pribadi. Orang yang bahagia tetap boleh berkata tidak ketika sedang kelelahan atau tidak mampu membantu. Batasan yang sehat justru memungkinkan seseorang memberikan perhatian secara lebih tulus tanpa terus-menerus merasa terbebani.

Dengan kata lain, kebiasaan berbuat baik bisa menjadi salah satu petunjuk tentang cara seseorang membangun hubungan dengan orang lain, tetapi bukan bukti pasti bahwa hidupnya selalu menyenangkan. Setiap orang memiliki kapasitas, situasi, dan cara berbeda dalam menunjukkan kepedulian.

8. Memiliki Hal-Hal Sederhana yang Dinantikan dalam Hidup

Kebiasaan terakhir yang bisa diamati adalah memiliki kegiatan atau momen kecil yang dinantikan. Bagi seseorang, hal itu mungkin berupa sarapan bersama keluarga setiap akhir pekan, menyelesaikan buku yang sedang dibaca, berkebun pada pagi hari, atau bertemu teman setelah lama tidak berjumpa.

Momen yang dinantikan tidak harus mahal atau membutuhkan perencanaan rumit. Justru, kegiatan sederhana dapat memberikan struktur dan rasa antusias dalam menjalani hari. Ketika seseorang mempunyai sesuatu yang dianggap bermakna, rutinitas yang tampak monoton pun bisa terasa lebih menyenangkan.

Misalnya, seorang pekerja mungkin menantikan waktu memasak setelah pulang kantor. Kegiatan tersebut bukan hanya soal menyiapkan makanan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk beristirahat dan menikmati aktivitas yang disukai. Orang lain mungkin lebih senang merencanakan perjalanan singkat atau menghabiskan waktu bersama hewan peliharaan.

Namun, kebahagiaan tidak harus selalu ditandai oleh antusiasme yang tinggi. Ada orang yang menjalani hidup dengan tenang dan tidak banyak menunjukkan ekspresi. Hal terpenting adalah adanya ruang untuk menikmati kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan, nilai, dan minat pribadi.

Kebiasaan memperhatikan pengalaman positif, menjaga hubungan sosial, dan mengembangkan praktik rasa syukur termasuk sejumlah pendekatan yang diteliti dalam psikologi untuk mendukung kesejahteraan. Meski hasilnya dapat berbeda pada setiap orang, kegiatan yang terasa bermakna bisa menjadi salah satu cara untuk membuat kehidupan sehari-hari lebih memuaskan.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Cara Mengenali Orang yang Bahagia dari Kebiasaan

1. Apa ciri paling sederhana dari orang yang bahagia?

Salah satu petunjuknya adalah kemampuan menghargai hal-hal kecil, seperti menikmati waktu bersama orang terdekat, mengapresiasi bantuan, atau merasa puas setelah melakukan kegiatan yang bermakna. Namun, tidak ada satu ciri yang bisa memastikan seseorang benar-benar bahagia.

2. Apakah orang yang sering tersenyum pasti bahagia?

Tidak selalu. Senyum bisa menunjukkan kegembiraan, keramahan, atau kebiasaan sosial, tetapi juga bisa digunakan untuk menyembunyikan perasaan yang sedang sulit. Untuk memahami kondisi seseorang, diperlukan konteks yang lebih luas daripada ekspresi wajahnya saja.

3. Apakah orang bahagia selalu berpikir positif?

Tidak. Orang yang bahagia tetap bisa merasa sedih, marah, kecewa, atau cemas. Kebahagiaan tidak berarti menghilangkan emosi negatif, melainkan dapat berjalan berdampingan dengan kemampuan menghadapi berbagai pengalaman hidup.

4. Apakah menikmati waktu sendiri merupakan tanda kebahagiaan?

Bisa menjadi salah satu petunjuk, terutama jika kesendirian dipilih secara sadar dan memberikan rasa nyaman. Namun, menikmati waktu sendiri tidak otomatis berarti seseorang bahagia. Perlu dibedakan antara kesendirian yang menyenangkan dan perasaan kesepian yang tidak diinginkan.

5. Apakah kebiasaan bersyukur benar-benar berkaitan dengan kebahagiaan?

Ya, penelitian psikologi menunjukkan hubungan antara praktik rasa syukur dengan emosi positif dan kepuasan hidup. Akan tetapi, dampaknya dapat berbeda pada setiap individu, dan bersyukur bukan pengganti bantuan yang diperlukan ketika seseorang menghadapi masalah serius.