Liputan6.com, Jakarta - Kepercayaan diri menjadi bagian penting dalam proses tumbuh kembang anak. Kemampuan ini membantu si kecil berani mencoba hal baru, menjalin pertemanan dan menyampaikan pendapat di berbagai situasi. Sayangnya, tidak semua anak mampu menunjukkan keyakinan terhadap dirinya sendiri. Mengenali tanda anak kurang percaya diri dan cara mengatasinya, dapat membantu orang tua memberikan dukungan tepat sejak dini.
Sebagian anak mungkin terlihat pendiam saat bertemu orang baru, sedangkan lainnya cenderung takut melakukan kesalahan atau merasa minder saat membandingkan diri bersama teman sebaya. Perilaku tersebut terkadang dianggap sebagai sifat pemalu biasa, padahal dalam kondisi tertentu bisa mencerminkan keraguan terhadap kemampuan diri. Oleh sebab itu, memahami tanda anak kurang percaya diri dan cara mengatasinya menjadi langkah awal, untuk mendampingi perkembangan emosional anak.
Rasa percaya diri anak jug dipengaruhi oleh berbagai pengalaman, mulai dari pola asuh di rumah, lingkungan sekolah, hingga hubungan bersama teman sebaya. Kritik berlebihan, kebiasaan membandingkan pencapaian, atau pengalaman mendapat ejekan berpotensi membuat anak merasa dirinya kurang berharga. Melalui pemahaman tentang tanda anak kurang percaya diri dan cara mengatasinya, orang tua bisa mengenali kebutuhan emosional si kecil tanpa terburu-buru memberikan penilaian negatif.
Advertisement
Berikut ulasan lengkap yang Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Jumat (9/10/2026).
1. Takut Mencoba Hal Baru
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9366905/original/061618900_1791280111-3.jpg)
Salah satu tanda anak kurang percaya diri adalah enggan mencoba kegiatan baru. Anak mungkin menolak mengikuti permainan, mengikuti kelas tambahan, atau melakukan aktivitas tertentu meskipun sebenarnya tertarik. Ketakutan tersebut bisa muncul akibat kekhawatiran akan gagal atau merasa tidak mampu melakukannya.
Anak yang mengalami kondisi ini terkadang membutuhkan waktu lebih lama untuk merasa nyaman saat menghadapi situasi baru. Mereka mungkin terus bertanya apakah suatu kegiatan sulit atau apakah hasilnya akan bagus.
Cara mengatasinya:
Orang tua dapat membantu anak memulai dari tantangan kecil. Misalnya, ajak anak mencoba permainan sederhana sebelum mengikuti kegiatan kelompok. Berikan dorongan tanpa memaksa dan hargai keberaniannya untuk mencoba, terlepas dari hasil akhirnya.
2. Sering Meragukan Kemampuan Diri Sendiri
Anak yang kurang percaya diri cenderung menganggap dirinya tidak mampu sebelum benar-benar mencoba. Mereka mungkin sering mengatakan, "Aku tidak bisa," "Aku pasti gagal," atau "Temanku lebih pintar."
Pernyataan tersebut dapat menunjukkan bahwa anak memiliki penilaian negatif terhadap dirinya sendiri. Jika terus berulang, kebiasaan ini bisa membuat anak menghindari tantangan dan kehilangan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan.
Cara mengatasinya:
Bantu anak mengenali kemampuan dan kelebihan dirinya. Ketika anak merasa tidak mampu, ajak ia memecah tugas menjadi beberapa langkah kecil agar terasa lebih mudah dilakukan.
Orang tua juga bisa mengingatkan anak tentang pengalaman saat ia berhasil menyelesaikan tantangan sebelumnya. Hindari meremehkan perasaannya atau langsung menyuruhnya berhenti mengeluh.
Advertisement
3. Takut Melakukan Kesalahan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5488590/original/011623200_1769757751-Lifestylememory__2_.jpg)
Anak yang kurang percaya diri sering merasa cemas ketika harus memberikan jawaban, mengerjakan tugas, atau menunjukkan hasil karyanya. Mereka mungkin terlalu lama memikirkan kemungkinan gagal dan memilih tidak melakukan apa pun daripada mengambil risiko.
Ketakutan ini dapat membuat anak sulit belajar dari pengalaman. Padahal, kesalahan merupakan bagian wajar dari proses belajar dan membantu anak memahami cara memperbaiki diri.
Cara mengatasinya:
Ciptakan suasana rumah yang membuat anak merasa aman untuk melakukan kesalahan. Hindari memarahi anak secara berlebihan ketika hasil pekerjaannya belum sesuai harapan.
Jelaskan bahwa kesalahan bukan bukti ketidakmampuan. Ajak anak mengevaluasi apa yang bisa diperbaiki dan berikan kesempatan untuk mencoba kembali.
4. Terlalu Sering Membandingkan Diri dengan Orang Lain
Anak yang kurang percaya diri mungkin sering merasa dirinya kalah dibandingkan saudara atau teman sebaya. Ia bisa merasa tidak cukup pintar, tidak cukup menarik, atau tidak memiliki kemampuan sehebat orang lain.
Kebiasaan membandingkan diri dapat semakin kuat apabila anak sering menerima komentar tentang pencapaian orang lain. Akibatnya, anak berisiko mengukur harga dirinya berdasarkan prestasi atau penampilan orang di sekitarnya.
Cara mengatasinya:
Hindari membandingkan anak dengan saudara, teman, atau anak lain. Sebaiknya, bantu anak melihat perkembangan dirinya sendiri dari waktu ke waktu.
Misalnya, orang tua dapat mengatakan bahwa kemampuan membaca anak semakin baik dibandingkan bulan lalu. Apresiasi proses dan usaha anak agar ia memahami bahwa setiap orang memiliki kecepatan belajar dan kelebihan berbeda.
5. Enggan Mengungkapkan Pendapat
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5547504/original/044226500_1775460669-close-up-mother-holding-tablet.jpg)
Anak yang kurang percaya diri mungkin memilih diam ketika berada dalam kelompok. Ia enggan bertanya kepada guru, takut menyampaikan pendapat, atau selalu mengikuti keputusan teman meskipun memiliki keinginan berbeda.
Perilaku tersebut tidak selalu menunjukkan kurangnya rasa percaya diri. Sebagian anak memang memiliki kepribadian pendiam. Orang tua perlu memperhatikan apakah anak merasa nyaman saat diam atau sebenarnya ingin berbicara tetapi takut mendapat respons negatif.
Cara mengatasinya:
Biasakan berdiskusi bersama anak di rumah. Berikan kesempatan kepadanya untuk memilih menu makanan, menentukan aktivitas akhir pekan, atau menyampaikan pendapat tentang suatu hal.
Dengarkan jawabannya tanpa langsung mengkritik. Ketika anak merasa pendapatnya dihargai, ia dapat belajar bahwa menyampaikan pikiran merupakan hal yang aman dan wajar.
6. Terlalu Bergantung pada Orang Tua
Ketergantungan berlebihan juga dapat menjadi tanda anak kurang percaya diri, terutama ketika ia selalu membutuhkan kepastian dari orang tua untuk melakukan aktivitas sesuai tahap perkembangannya.
Anak mungkin terus bertanya apakah pilihannya benar, meminta bantuan sebelum mencoba sendiri, atau merasa takut ketika harus menyelesaikan tugas sederhana tanpa didampingi. Meski begitu, tingkat kemandirian setiap anak berbeda sesuai usia dan pengalaman.
Cara mengatasinya:
Latih kemandirian secara bertahap. Berikan tugas sederhana sesuai usia, seperti merapikan mainan, memilih pakaian, atau menyiapkan perlengkapan sekolah.
Jika anak meminta bantuan, orang tua tidak harus langsung mengambil alih. Berikan petunjuk seperlunya agar anak dapat menyelesaikan tugas secara mandiri dan merasakan keberhasilan dari usahanya sendiri.
Advertisement
Cara Meningkatkan Rasa Percaya Diri Anak
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6596423/original/010718000_1779434304-pexels-rdne-7605909.jpg)
Selain mengatasi perilaku tertentu, orang tua dapat membangun rasa percaya diri anak melalui kebiasaan sehari-hari. Berikut beberapa langkah yang bisa diterapkan di rumah.
1. Berikan Apresiasi terhadap Usaha Anak
Hargai proses yang dilakukan anak, termasuk ketika hasilnya belum sempurna. Apresiasi yang tulus membantu anak memahami bahwa usaha dan kemauan untuk belajar juga memiliki nilai penting.
2. Hindari Kritik yang Merendahkan
Kritik terhadap perilaku tertentu boleh diberikan, tetapi hindari label seperti bodoh, malas, atau penakut. Jelaskan perilaku yang perlu diperbaiki dan tunjukkan cara melakukannya.
3. Berikan Kesempatan untuk Mengambil Keputusan
Libatkan anak dalam keputusan sederhana sesuai usianya. Misalnya, biarkan ia memilih buku bacaan, menentukan permainan, atau mengatur urutan kegiatan hariannya. Kebiasaan ini dapat melatih kemandirian dan keyakinan dalam menentukan pilihan.
4. Jadilah Contoh dalam Menghadapi Kesalahan
Anak belajar melalui perilaku orang tua. Ketika orang tua melakukan kesalahan, tunjukkan cara mengakuinya, memperbaiki keadaan, dan mencoba kembali tanpa menyalahkan diri secara berlebihan.
5. Ciptakan Lingkungan yang Aman untuk Bercerita
Luangkan waktu untuk mendengarkan cerita anak tentang sekolah, pertemanan, dan perasaannya. Hindari langsung menyela atau memberikan solusi sebelum memahami masalah yang sedang dihadapi.
6. Dorong Anak Mengembangkan Minat dan Bakat
Bantu anak mencoba kegiatan yang menarik baginya, seperti menggambar, olahraga, memasak, membaca, atau bermain musik. Pilih aktivitas sesuai minat anak, bukan semata-mata untuk mengejar prestasi.
7. Ajarkan Anak Menghargai Perkembangannya Sendiri
Ajak anak melihat kemajuan kecil yang telah dicapai. Misalnya, ia kini berani bertanya kepada guru atau mampu menyelesaikan tugas tanpa terlalu banyak bantuan. Kemajuan seperti ini layak diapresiasi.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Tanda Anak Kurang Percaya Diri dan Cara Mengatasinya
1. Apa saja tanda anak kurang percaya diri?
Tanda anak kurang percaya diri meliputi takut mencoba hal baru, sering meragukan kemampuan diri, enggan mengungkapkan pendapat, mudah menyerah, dan terlalu khawatir terhadap penilaian orang lain. Sebagian anak juga sering membandingkan dirinya dengan teman sebaya.
2. Mengapa anak bisa kehilangan rasa percaya diri?
Rasa percaya diri anak dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kritik berlebihan, pengalaman gagal, perundungan, tuntutan terlalu tinggi, atau kebiasaan membandingkan anak dengan orang lain. Perubahan lingkungan dan pengalaman sosial juga dapat memengaruhi keyakinan anak terhadap dirinya sendiri.
3. Apakah anak pemalu pasti kurang percaya diri?
Tidak. Anak pemalu belum tentu memiliki masalah kepercayaan diri. Sebagian anak memang membutuhkan waktu lebih lama untuk merasa nyaman di lingkungan baru. Hal penting untuk diperhatikan ialah apakah rasa malu membuat anak tertekan atau menghambat aktivitas sehari-hari.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4403399/original/021681200_1682044577-cek_fakta_mesin_cuci.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354245/original/038987000_1790044500-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-22T093245.164.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362168/original/042983100_1790759666-WhatsApp_Image_2026-09-18_at_8.42.42_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5485280/original/014174300_1769501374-IMG-20260127-WA0024.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5488589/original/000791000_1769757751-mom-comforting-her-upset-daughter.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364651/original/002458200_1791013905-A6_00020.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363979/original/062618200_1790927438-WhatsApp_Image_2026-10-02_at_14.34.23.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363541/original/082820800_1790873841-Foto_2.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363423/original/047017100_1790859858-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_6.58.42_PM__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362754/original/098924600_1790829492-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_09.43.00__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362269/original/040098400_1790766180-795732a8-c861-4c22-8125-6fbfa58c0b6d.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9353439/original/045930700_1789964558-resume-genius-IESB4iFVuzA-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5326910/original/063618300_1756114879-pexels-moose-photos-170195-1036622.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5213158/original/008355000_1746679492-Perempuan_cerdas_dan_percaya_diri.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3508128/original/009551500_1626075077-thisisengineering-raeng-TXxiFuQLBKQ-unsplash_Fotor.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5141815/original/061399600_1740385456-two-girls-friends-sitting-park.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9321300/original/037059800_1786437165-3437ffd0-1327-4c46-9f7e-5b7b989942dd.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9320609/original/062454600_1786358874-Dokter_Spesialis_Mata_Konsultan_Pediatric_Ophthalmology___Strabismus_JEC_Eye_Hospitals_and_Clinics__Dr._dr._Lely_Retno_Wulandari__SpM__K_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9315169/original/000971700_1785829840-JVIYW3Okh2S3EIG1VY0SF5dimYUMQ9vIPJDgqKdk.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4028230/original/026555300_1653022810-mother-her-son-are-posing-studio-wearing-casual-clothes.jpg)