8 Ciri Orang yang Selalu Pesan Makanan Level Pedas Menurut Psikologi

Kenali ciri orang yang selalu pesan makanan level pedas paling tinggi menurut psikologi, dari jiwa pencari sensasi hingga keberanian mengambil risiko.

Liputan6.com, Jakarta Pernahkah kamu memperhatikan teman yang selalu minta level pedas paling tinggi setiap kali memesan makanan? Ternyata, kebiasaan ini bukan sekadar soal selera, melainkan punya penjelasan menarik dari sisi psikologi.

Secara ringkas, ciri orang yang selalu pesan makanan level pedas paling tinggi menurut psikologi berkaitan erat dengan kepribadian pencari sensasi dan keberanian mengambil risiko. Mereka cenderung menikmati "bahaya" yang sebenarnya aman, persis seperti sensasi naik roller coaster.

Berdasarkan tinjauan ilmiah yang dipublikasikan di PMC NCBI, kesukaan pada makanan pedas sebagian besar dipengaruhi oleh sifat kepribadian seperti sensation seeking dan reward sensitivity. Faktor inilah yang membuat sebagian orang betah, bahkan ketagihan, pada tingkat kepedasan ekstrem.

Berikut ulasan lengkap yang Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Kamis (15/10/2026).

Mengenal Fenomena Pencinta Makanan Level Pedas Paling Tinggi

Sebelum membahas cirinya, penting memahami apa yang sebenarnya terjadi saat seseorang menyantap cabai. Rasa pedas sejatinya bukan rasa, melainkan sinyal nyeri. Senyawa capsaicin pada cabai mengaktifkan reseptor di lidah yang biasanya merespons panas dan rasa sakit, lalu otak membalasnya dengan melepaskan endorfin dan dopamin sebagai pereda alami.

Dalam psikologi, kecenderungan menikmati sensasi yang awalnya menyakitkan ini dikenal sebagai benign masochism atau masokisme jinak. Konsep ini diperkenalkan Paul Rozin, profesor psikologi dari University of Pennsylvania, untuk menjelaskan mengapa manusia bisa menikmati pengalaman yang secara naluriah seharusnya dihindari. Sebagaimana dikutip dari Common Reader Washington University, Rozin memandang kebiasaan menyantap cabai sebagai perilaku pencari sensasi yang justru menyenangkan karena risikonya terkendali.

Pilihan rasa makanan memang kerap dikaitkan dengan karakter seseorang. Dalam buku What Flavor Is Your Personality?, ahli neurologi Dr. Alan Hirsch mengungkapkan bahwa kepribadian seseorang berpengaruh terhadap pilihan makanannya, termasuk kegemaran pada rasa pedas yang sering dihubungkan dengan pribadi yang berani dan senang tantangan.

Ciri Orang yang Selalu Pesan Makanan Level Pedas Paling Tinggi Menurut Psikologi

Lalu, seperti apa gambaran psikologis mereka yang belum puas sebelum makanannya benar-benar membakar lidah? Berikut sejumlah ciri orang yang selalu pesan makanan level pedas paling tinggi menurut psikologi yang kerap ditemukan dalam berbagai penelitian.

Sebuah survei terhadap para penyuka pedas menunjukkan bahwa mayoritas dari mereka cenderung lebih berani mencoba hal baru, merasa lebih puas dengan hidup, dan memandang dirinya menarik serta petualang. Temuan ini memperkuat anggapan bahwa pilihan rasa bisa mencerminkan karakter.

  1. Berjiwa pencari sensasi (sensation seeker). Mereka haus akan pengalaman baru yang intens dan memacu adrenalin, termasuk lewat rasa pedas. Dalam sebuah tes kepribadian populer, pemilih cabai merah bahkan digambarkan sebagai pemberani pencari sensasi.
  2. Berani mengambil risiko. Penggemar level tertinggi tidak takut keluar dari zona nyaman dan menyukai tantangan. Nadia Byrnes, peneliti dari Penn State University, dikutip dari NBC News, menuturkan, "Hubungan prediktif antara kesukaan pada makanan pedas dan satu sifat kepribadian begitu kuat, dan itu sungguh mengejutkan."
  3. Terbuka pada pengalaman baru. Sifat openness membuat mereka gampang menerima hal, rasa, dan orang baru. Tak heran banyak penyuka pedas digambarkan punya kepribadian yang berani dan mudah bergaul.
  4. Peka terhadap penghargaan (reward sensitivity). Mereka terdorong oleh "hadiah" berupa sensasi nikmat dan rasa bangga setelah berhasil menaklukkan tingkat kepedasan ekstrem.
  5. Menikmati bahaya yang aman. Mereka menghadapi rasa sakit tanpa risiko nyata dan merasa lega saat pedasnya berlalu, mirip bentuk masokisme yang menyenangkan.
  6. Toleransi tinggi dan terus menaikkan level. Lidah yang terbiasa membuat mereka tak lagi puas dengan pedas biasa, sehingga selalu mencari takaran yang lebih menantang.
  7. Punya sisi kompetitif dan kebanggaan sosial. Terutama pada pria, kemampuan bertahan pada rasa pedas kerap dipakai untuk menunjukkan ketangguhan, layaknya orang yang suka hidup di zona merah.
  8. Fokus dan konsentrasi yang baik. Penyuka pedas sering dikaitkan dengan fokus dan konsentrasi tinggi, bahkan sebagian dianggap punya kepribadian yang spontan dan siap menghadapi apa saja.

Alasan Psikologis di Balik Kegemaran pada Rasa Pedas Ekstrem

Kenapa rasa sakit justru dinikmati? Saat capsaicin menyentuh lidah, otak menafsirkannya sebagai ancaman dan merespons dengan melepaskan endorfin serta dopamin, zat kimia pereda nyeri sekaligus pemicu rasa senang. Sensasinya mirip runner's high yang dirasakan pelari jarak jauh. Mengacu pada ulasan Aeon, proses alami tubuh ini memicu opiat internal, sehingga para pemakan cabai pada dasarnya sedang "membius" diri sendiri.

Fenomena ini oleh para psikolog disebut benign masochism, yakni menikmati pengalaman yang awalnya negatif karena tubuh keliru menganggapnya berbahaya padahal sebenarnya aman. Paul Rozin, profesor psikologi di University of Pennsylvania, dikutip dari WHYY, menjelaskan, "Contoh terbaiknya adalah roller coaster. Otak dan tubuhmu mengira kamu sedang terjun menuju kematian."

Dari sisi kepribadian, kesukaan pada pedas ekstrem berkaitan erat dengan dua sifat utama, yaitu pencarian sensasi dan kepekaan terhadap penghargaan. Seperti yang diberitakan Big Think, sebuah survei pada 2013 menemukan korelasi positif antara tipe kepribadian pencari sensasi dan peka-hadiah dengan orang yang menyukai makanan pedas. Artinya, dorongan ini lebih soal karakter, bukan sekadar lidah yang kebal.

Yang menarik, kemampuan menikmati "penderitaan ringan" ini dianggap khas manusia. Hewan yang terbiasa diberi makanan berbumbu cabai tetap menghindarinya bila ada pilihan lain. Karena erat dengan karakter, tak heran banyak orang bisa menebak kepribadian seseorang hanya dari kesukaannya pada rasa pedas.

Faktor yang Membentuk Toleransi dan Hasrat pada Rasa Pedas

Tidak semua orang bisa langsung menikmati level pedas tertinggi. Ada beberapa faktor yang membentuk toleransi sekaligus hasrat seseorang terhadap rasa pedas.

Mengutip laporan Penn State University, kegemaran pada cabai sebagian besar merupakan perilaku yang dipelajari, sebagaimana ditemukan Rozin ketika meneliti kebiasaan makan anak-anak di Meksiko. Artinya, lingkungan sejak kecil sangat menentukan.

  1. Faktor genetik. Jumlah dan sensitivitas reseptor TRPV1, reseptor yang diaktifkan capsaicin, berbeda pada tiap orang sehingga ambang pedas setiap individu tidak sama.
  2. Paparan berulang dan desensitisasi. Semakin sering makan pedas, lidah makin kebal sehingga butuh level lebih tinggi. Seorang peneliti pangan, Nolden, dikutip dari The Takeout, menjelaskan, "Kalau kita memakannya lebih banyak dan lebih sering, kita butuh lebih banyak lagi untuk respons terbakar yang sama."
  3. Latar budaya dan kebiasaan. Orang yang tumbuh di lingkungan kaya rempah dan sambal cenderung punya toleransi lebih tinggi sejak dini.
  4. Perbedaan gender. Pria cenderung melaporkan tingkat pencarian sensasi yang lebih tinggi dan lebih mudah menerima makanan pedas dibanding wanita.
  5. Pengaruh tren media sosial. Berbagai tantangan makan pedas di media sosial turut mendorong sebagian orang mencoba tingkat kepedasan yang ekstrem.

Manfaat dan Risiko di Balik Kebiasaan Makan Pedas Level Tertinggi

Di balik cirinya yang unik, kebiasaan makan pedas level tertinggi ternyata punya dua sisi. Selama porsinya wajar, ada sejumlah manfaat makanan pedas yang sayang dilewatkan.

Merujuk studi Harvard bersama China CDC pada 2015, mengonsumsi makanan pedas enam hingga tujuh kali seminggu dikaitkan dengan penurunan angka kematian hingga 14 persen.

  1. Membantu membakar kalori dan mempercepat metabolisme tubuh. Capsaicin dipercaya meningkatkan laju metabolik sekaligus menekan nafsu makan.
  2. Berpotensi memperpanjang umur. Konsumsi rutin dalam batas wajar dikaitkan dengan harapan hidup yang lebih panjang.
  3. Menjaga kesehatan jantung dan menurunkan kolesterol jahat. Rasa pedas membantu melancarkan sirkulasi darah; soal kaitan pedas dan penyakit jantung pun lebih sering jadi perdebatan mitos atau fakta.
  4. Membantu melawan sel kanker. Sebagaimana diungkapkan sebuah studi UCLA, capsaicin terbukti menghambat pertumbuhan sel kanker sekaligus mempertahankan sel sehat.
  5. Meredakan nyeri dan menjaga daya tahan tubuh. Capsaicin lazim dipakai sebagai bahan krim pereda nyeri sekaligus diklaim bisa meningkatkan resistensi tubuh. Cary Present, ahli onkologi di City of Hope Hospital, California, dikutip dari Health, menyatakan, "Yang kita tahu, capsaicin punya kemampuan meningkatkan resistensi tubuh terhadap penyakit."

Meski begitu, level tertinggi tetap menuntut kehati-hatian. Konsumsi berlebihan bisa memicu gangguan lambung, iritasi, hingga diare, seperti diingatkan dalam ulasan soal manfaat serta risiko makan pedas. Bahkan, sebagaimana disampaikan peneliti dari University of South Australia, mengonsumsi 50 gram cabai per hari dalam jangka panjang dikaitkan dengan kondisi yang bisa menurunkan daya ingat.

Tips singkat agar kamu tetap bisa menikmati sensasi pedas tanpa bikin sakit perut:

  • Hindari makan pedas saat perut dalam keadaan kosong.
  • Perhatikan porsi dan kenali batas toleransimu sendiri.
  • Jangan makan pedas menjelang waktu tidur.
  • Minum susu setelah makan pedas untuk meredakan sensasi panas.
  • Pilih cabai dengan tingkat kepedasan lebih ringan bila lambung sensitif.

Dengan begitu, kamu tetap bisa menyalurkan karakter pencari sensasi lewat hobi pedas tanpa mengorbankan kesehatan.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Makanan Pedas

Apakah orang yang suka makanan pedas level tertinggi pasti pemberani?

Tidak selalu mutlak, tetapi secara psikologis kegemaran ini kerap dikaitkan dengan sifat pencari sensasi dan keberanian mengambil risiko. Setiap orang tetap unik, karena faktor budaya, kebiasaan, dan genetik juga ikut berperan dalam membentuk selera.

Kenapa semakin lama butuh level pedas yang semakin tinggi?

Karena paparan rutin pada capsaicin membuat reseptor di lidah mengalami desensitisasi. Akibatnya, tubuh butuh rangsangan yang lebih kuat untuk mendapatkan sensasi "terbakar" yang sama seperti sebelumnya.

Apakah kebiasaan makan pedas level ekstrem berbahaya?

Dalam jumlah wajar, makanan pedas punya banyak manfaat, tetapi konsumsi berlebihan bisa memicu gangguan lambung hingga menurunkan daya ingat. Kuncinya ada pada porsi dan mengenali batas toleransi tubuhmu sendiri.