Sukses

Si Kabayan, Paduan Balet dengan Cerita Rakyat yang Memukau

Citizen6, Jakarta Di Indonesia, balet masih dianggap pertunjukan yang eksklusif. Balet dianggap tarian yang hanya bisa dinikmati kalangan menengah ke atas. Terlebih, kisah yang diangkat ke dalam pertunjukan balet biasanya memang berasal dari dataran Eropa. Menepis anggapan tersebut, Marlupi Dance Academy sajikan pertunjukan balet 'Si Kabayan, Indonesian Folklore in Ballet' di Taman Ismail Marzuki.

Berbeda dengan pertunjukan balet yang mengangkat kisah klasik, kali ini penonton dipastikan familiar dengan kisahnya. Sebab, yang diangkat memang cerita rakyat Sunda, yakni si Kabayan. Dua balerina yang meraih ujian tertinggi balet Solo Seal Award dari London Royal Academy of Dance, didaulat menjadi pemain utama. Michael Halim berperan sebagai Kabayan yang humoris dan ramah, sedangkan Resti Oktaviani memerankan Nyi Iteung yang lugu dan menawan.

Uniknya, tak hanya kisah si Kabayan tersebut yang memanjakan penonton. Di sela-sela kisah utama, penonton akan tergelak bahkan tersenyum-senyum melihat beberapa anak kecil yang menari balet dalam kostum yang menggemaskan. Lagu anak-anak seperti Balonku, Paman Datang, dan lainnya, mengiringi gerakan balet sederhana yang bisa dilakukan anak-anak seusia mereka.

dok. pribadi 

Sehabis jeda istirahat, barulah pusat pengisahan disuguhkan. Si Kabayan menyatakan keinginan untuk mempersunting Nyi Iteung pada ibunya. Karena ingin memberikan kado terindah, ia pun berpetualang di pulau-pulau di Indonesia. Saat itu, tarian-tarian tradisional berpadu balet disajikan. Lima jenis tarian tradisional dari pulau Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, dan Papua memukau penonton.

Total 75 penari dari berbagai usia diturunkan pada pertunjukan kali ini. Bagi Managing Director Marlupi Dance Academy, Fifi Sijangga, pementasan ini sebagai salah satu upaya memasyarakatkan balet di Indonesia.

dok. pribadi 

"Kami ingin balet Indonesia tidak dipandang sebelah mata. Dan mungkin ini salah satu cara agar balet Indonesia terkenal di luar negeri, dengan ciri khas Indonesia sendiri," tutur Fifi, Sabtu (31/10/2015).

Menurut dia, kesulitan-kesulitan yang mengiringi pembuatan karya ini yakni gerakan balet yang mesti disesuaikan. Setidaknya, ada unsur Indonesianya yang tampak saat para pemain menari. Kostum juga menjadi kendala tersendiri. Sekali lagi, penyesuaian kostum balet yang ringan dengan kostum tradisional Indonesia yang mewahlah alasannya.

"Tapi terbukti, setelah semua kesulitan itu. Pertunjukan ini sukses dan berhasil memikat penonton," tutup Fifi. (sul)

**Ingin berbagi informasi dari dan untuk kita di Citizen6? Caranya bisa dibaca di sini

**Ingin berdiskusi tentang topik-topik menarik lainnya, yuk berbagi di Forum Liputan6