Hadapi Tantangan AI dan Hoaks, Komdigi Perkuat Literasi Digital Nasional

Menteri Kominfo Meutya Hafid mengatakan, Temu Nasional Pegiat Literasi Digital 2025 digelar untuk menguatkan literasi digital pada 2026.

Diterbitkan 17 Desember 2025, 19:23 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menggelar kegiatan Temu Nasional Pegiat Literasi Digital 2025. Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengatakan, kegiatan ini untuk menguatkan literasi digital pada 2026.

"Jadi hari ini kita bertemu dengan para Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), Pandu Literasi Digital, Siberkreasi, yang menjadi bagian Kemkomdigi, dan mereka datang seluruh dari seluruh Indonesia, dalam kerangka rembug bersama untuk menguatkan literasi digital untuk tahun 2026," ujar Meutya Hafid di acara Temu Nasional Pegiat Literasi Digital 2025, Jakarta, Rabu (17/12/2025).

Dia mengatakan, hadirnya kecerdasan artificial atau AI menjadi tantangan literasi digital pada tahun tahun berikutnya.

"Kita tau tantangan tahun ini, tahun depan berikutnya dengan berbagai macam percepatan digital termasuk dengan hadirnya kecerdasan artificial, akan menjadi tantangan tersendiri dari masyarakat memilah mana infomasi yang benar, mana informasi yang hoaks," kata Meutya.

Sehingga, lanjut dia, Komdigi perlu relawan pegiat literasi digital untuk edukasi dan sosialisasi di berbagai daerah di Indonesia.

"Komdigi itu punya di seluruh provinsi dan hari ini kita kumpulkan beberapa perwakilannya. Yang hadir kurang lebih 600 orang, baik dari relawan TIK, Pandu Literasi Digital, dan Siberkreasi, nah merekalah yang nanti membantu bagaimana penguatan literasi digital bisa terjadi dari Sabang sampai Merauke," jelas Meutya.

Meutya menerangkan, relawan yang ada di Komdigi memiliki peran penting dalam menyebarkan literasi digital di Tanah Air. Sebab, dunia digital terus berubah sangat berbeda dari beberapa tahun terakhir

"Teman teman relawan TIK yang sudah lama dari 2014, 2017 (Siberkreasi) hingga hari ini, itu ranah digitalnya sudah amat sangat berbeda. Sudah amat penuh dengan berbagai hal, dulu sosial media yang kita kenal tahun 2014, 2017, sudah menjadi barang yang sama sekali berbeda di tahun 2024 juga 2025. Dan, akan menjadi hal yang baru dan berbeda ke depan adanya adanya kecerdasan artificial," ujar dia.

Dia mengatakan, masyarakat pun sulit mendapatkan informasi yang benar di tengah hiruk pikuk informasi. Bahkan kini kesehatan mental menjadi banyak diperbincangkan di tengah ranah digital yang berkembang cepat.

 

Penipuan di Dunia Digital Terus Berkembang

Meutya menilai, kini tidak cukup lagi meminta masyarakat agar menggunakan internet secara bijak. Sebab, hoaks atau penipuan di dunia digital juga makin berkembang.

"Karena orang itu melakukan kejahatan, penipuan digital itu hari per hari, ilmu berbeda beda. Kita baru tau ilmu penipuan ini, mereka sudah menipu dengan cara lainnya," kata dia.

Dia pun meminta masukan dari relawan pegiat literasi digital mengenai edukasi dan sosialisasi yang lebih kreatif kepada masyarakat.

"Yang kita harapkan membantu bagaimana membuat modul yang paling kena, ini satu lagi, bicara sama anak anak yang lebih muda, jadi kalaupun narasi sudah dapat, cara menyampaikannya bagaimana," kata Meutya.

Dia pun menambahkan, kini masyarakat tanpa sadar sudah sudah dikontrol oleh gawai dan sosial media.

"Yang namanya browsing tanpa sadar, tangan kita otomatis melakukan browsing, dan ini yang berbahaya, apalagi konten konten semakin pendek. Katanya para ahli kesehatan, ingatan manusia juga menjadi agak sulit menerima bahan yang panjang. Dan ini yang harus kita ingat adalah kalau saat ini terjadi seperti ini bagaimana ke depannya, bagaimana anak anak kita," kata dia.

Apreasiasi Relawan di Tengah Bencana

Meutya pun mengapresiasi relawan relawan yang turut membantu pemulihan bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

"Kita amat mengapresiasi atas giat relawan TIK yang tidak hanya menyambung konektivitas atau membantu memulihkan konektivitas di daerah daerah tersebut, tapi juga memberikan informasi dan membantu dengan giat giat kemanusiaan," ucap dia.

Meutya mengatakan, rencana dan ide kegiatan Temu Nasional Pegiat Literasi Digital 2025 sudah datang sebelum adanya bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar.

"Namun demikian saya melihat enggak usah ditunda. Justru saat inilah mempersatukan bagaimana kekuatan relawan di berbagai daerah di Indonesia, kita harapkan walaupun namanya relawan TIK, Siberkreasi, itu tidak hanya mengurusi urusan informasi komunikasi tapi yang kita lihat teman teman relawan TIK di Aceh, Sumut, Sumbar sudah melakukan giat giat yang awalnya pure kemanusiaan tanpa embel embel tugas dari TIK nya, tapi kemudian membantu," ucap dia.