Sukses

Sebaran Hoaks Seputar Vaksin Covid-19 Sentuh 2.882, Terbanyak Beredar Lewat Facebook

Liputan6.com, Jakarta- Informasi seputar vaksin Covid-19 beredar di media sosial dengan beragam tampilan, namun tidak semua kabar seputar upaya meningkatkan kekebalan dari penularan Covid-19 tersebut benar atau hoaks.

Keberadaan hoaks seputar Covid-19 tersebut dapat menyesatakan jika kita tidak mewaspadainya, dengan memastikan kekebenaran informasi yang didapat sebelum pmempercayainya.

Hal ini merupakan salah satu cara agar kita terhindar dari hoaks yang dapat merugikan. Untuk memastikan benar atau salah informasi yang diperoleh kita bisa melakukannya sediri secara online, simak carannya dalam halaman berikut ini.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) pun mencatat jumlah sebaran hoaks seputar vaksin di media sosial hingga 15 Mei 2022 mencapai 2.882 unggahan dengan temuan hoaks vaksin Covid-19 sebanyak 499 konten.

Hoaks vaksin Covid-19 terbanyak tersebar lewat Facebook dengan 2.680 unggahan,Twitter menempati urutan terbanyak kedua, dengan sebaran hoaks seputar vaksin Covid-19 mencapai 112 unggahan.

YouTube menjadi tempat sebaran hoaks seputar vaksin Covid-19 ketiga, sebanyak 43 hoaks tersebar lewat aplikasi berbagi video tersebut. Berikutnya adalah TikTok, dengan sebaran hoaks mencapai 23 unggahan.

Kominfo pun terus melakukan tidakan terhadapa hoaks seputar vaksin Covid-19 tersebut, pada periode yang sama sebanyak 2.882 hoaks seputar vaksin telah dihapus.

 

2 dari 4 halaman

Kumpulan Hoaks Seputar Vaksin Covid-19

Hoaks seputar vaksin Covid-19 masih beredar di media sosial, kabar ini pun menimbulkan keresahan bagi yang mempercayainya.

Untuk menghindari hoaks ada sejumlah cara, salah satunya adalah tidak langsung mempercayai informasi yang didapat sebelum memastikan kebenarannya telebih dahulu.

Selain itu kita juga bisa mendeteksi informasi yang didapat hoaks atau bukan, dengan cara seperti yang ada dalam halaman berikut ini.

Cek Fakta Liputan6.com pun telah menelusuri sejumlah informasi seputar vaksin Covid-19 yang beredar di media sosial, hasilnya sebagian terbukti hoaks.

Berikut kumpulan hoaks seputar vaksin Covid-19.

1. Moderna Membuat Covid-19

Cek Fakta Liputan6.com mendapati klaim Moderna membuat Covid-19. Informasi tersebut diunggah salah satu akun Facebook, pada 19 Maret 2022.

Klaim Moderna membuat Covid-19 berupa tulisan yang mencantumkan tautan situs The Expose News sebagai berikut.

"💥 Bukti lengkap Moderna membuat Covid-19💥

https://dailyexpose.uk/.../exhaustive-proof-moderna-made.../@inapatriot

Covid-19 adalah virus buatan manusia, dan Moderna Inc., perusahaan farmasi dan bioteknologi Amerika yang telah menghasilkan miliaran dolar melalui penjualan injeksi Covid-19 eksperimental, bertanggung jawab untuk menciptakannya. Tidak percaya kami? Kemudian baca bukti lengkap di bawah ini dan periksa sendiri.

Via: The Expose News"

Benarkah klaim Moderna membuat Covid-19? Simak hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com dalam halaman berikut ini.

 

2. Orang yang Tidak Divaksin Lebih Sehat Dibanding Divaksin

Cek Fakta Liputan6.com mendapati klaim orang yang tidak divaksin lebih sehat ketimbang yang divaksin. Informasi tersebut diunggah salah satu akun Facebook, pada 12 April 2022.

Unggahan klaim orang yang tidak divaksin lebih sehat ketimbang yang divaksin, berupa tangkapan layar dengan tulisan sebagi berikut.

"BIG Study finds unvaccinated are heal thier than vaccinated"

Benarkah klaim orang yang tidak divaksin lebih sehat ketimbang yang divaksin? Simak hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com dalam halaman berikut ini.

 

3. Anggota Polisi Kendari Meninggal saat Pengamanan Demo karena KIPI Vaksin

Cek Fakta Liputan6.com mendapati klaim anggota Polisi yang melakukan pengamanan demo di Kendari meninggal karena KIPI vaksin. Informasi tersebut diunggah salah satu akun Facebook, pada 12 April 2022.

Klaim anggota Polisi yang melakukan pengamanan demo di Kendari meninggal karena KIPI vaksin, berupa tangkapan layar artikel berjudul "Seorang Anggota Polisi Meninggal Dunia Saat Pengamanan Demo di Kendari" yang dimuat situs sultranesia.id.

Pada unggahan tersebut terdapat tulisan sebagai berikut.

"Yang nanti jadi kambing hitam pasti demonstran padahal dia sesak nafas dan lemah lalu meninggal pasti karena efek samping enjusss"

Unggahan tersebut diberi ketersebut diberi keterangan sebagai berikut.

"Murni sesak yaa... KIPI bukan krn Demo yaa... ntar di bikin2 Alasan kriminalisasi demoo".

Benarkah klaim anggota Polisi yang melakukan pengamanan demo di Kendari meninggal karena KIPI vaksin? Simak hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com dalam halaman berikut ini.

3 dari 4 halaman

Kemenkes Minta Warga Tak Sebarkan Hoaks Vaksin Covid-19

Juru Bicara Vaksinasi Kementerian Kesehatan dr Siti Nadia Tarmizi meminta, warga tidak mempercayai informasi palsu atau hoaks terkati vaksin Covid-19.

"Masih saja ada informasi-informasi tidak benar atau hoaks seputar vaksin dan vaksinasi. Masyarakat kami minta untuk menyaring seluruh informasi yang diterima dan jangan langsung percaya dan menyebarluaskannya," kata Nadia dikutip dari Antara, Minggu (3/10/2021).

Karena itu, ia meminta, pemerintah daerah agar lebih giat melakukan sosialisasi dan edukasi tentang vaksin Covid-19 dengan melibatkan tokoh agama dan tokoh masyarakat.

Dia mengatakan, pemerintah mengoptimalkan semua langkah untuk percepatan penyebarluasan vaksin ke seluruh daerah. Menurut Nadia, hingga kini masih ada sejumlah daerah dan target sasaran yang capaiannya rendah.

Nadia mengajak, pihak daerah untuk menyusun strategi sesuai dengan permasalahan atau hambatan spesifik di daerah masing-masing dalam percepatan vaksinasi Covid-19.

Kedatangan vaksin tahap 81 sebanyak 453.960 dosis vaksin Pfizer langsung didistribusikan ke tujuh provinsi di Kalimantan dan Sumatera.

"Vaksin tahap 81 mendarat di Jakarta pada Jumat 1 Oktober 2021. Setelah transit di Jakarta, vaksin langsung diberangkatkan ke 7 provinsi di Indonesia. Tentu saja dalam seluruh proses tersebut diterapkan jalur distribusi rantai dingin dengan suhu di bawah -70 derajat Celsius guna menjaga kualitas vaksin Pfizer," tutur Nadia.

Nadia menjelaskan, tujuh provinsi tersebut adalah Kalimantan Barat, Kalimantan Utara melalui Berau, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, serta Bangka Belitung.

4 dari 4 halaman

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Melawan hoaks sama saja melawan pembodohan. Itu yang mendasari kami membuat Kanal Cek Fakta Liputan6.com pada 2018 dan hingga kini aktif memberikan literasi media pada masyarakat luas.

Sejak 2 Juli 2018, Cek Fakta Liputan6.com bergabung dalam International Fact Checking Network (IFCN) dan menjadi patner Facebook. Kami juga bagian dari inisiatif cekfakta.com. Kerja sama dengan pihak manapun, tak akan mempengaruhi independensi kami.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan di email cekfakta.liputan6@kly.id.

Ingin lebih cepat mendapat jawaban? Hubungi Chatbot WhatsApp Liputan6 Cek Fakta di 0811-9787-670 atau klik tautan berikut ini.