Sukses

Cek Fakta: Benarkah Pneumonia Bakterial Berasal dari Penggunaan Masker Secara Rutin?

Liputan6.com, Jakarta - Media sosial Facebook kembali dihebohkan dengan teori konspirasi soal virus corona covid-19. Kali ini disebutkan bahwa pneumonia bakterial berasal dari penggunaan masker.

Adalah Tanisha Rochelle Atkins-Streling yang mengunggah informasi pneumonia bakterial berasal dari penggunaan masker secara rutin. Begini narasi yang dia buat:

"Hmmm sangat menarik.. ternyata memakai masker menyebabkan pneumonia bakterial yang sepertinya kambuh dari Flu Spanyol 1918... Orang yang memakai maskerlah yang dikubur."

Dia mengunggah informasi itu pada 22 Oktober 2020. Sejak ada di Facebook, informasi tersebut sudah dibagikan ulang oleh warganet lainnya hingga 36 kali.

Lalu, benarkah pneumonia bakterial berasal dari penggunaan masker secara rutin?

 

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

2 dari 4 halaman

Penelusuran Fakta

Cek Fakta Liputan6.com menelusuri kebenaran informasi tersebut melalui Google. Hasil penelusuran mengarahkan ke situs National Institues of Health (NIH) dengan judul: "Bacterial Pneumonia Caused Most Deaths in 1918 Influenza Pandemic". Artikel tersebut sudah tayang pada 19 Agustus 2008.

Dari artikel tersebut, dijelaskan kalau mayoritas kematian selama pandemi influenza tahun 1918 bukan hanya karena virus influenza. Sebagian besar, kematian disebabkan oleh pneumonia bakterial setelah infeksi virus influenza.

Laporan itu dibuat dari salah satu bagian NIH, yakni para peneliti National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID).

"Besarnya bukti yang kami periksa dari analisis historis dan modern soal pandemi influenza 1918, mendukung skenario di mana kerusakan virus diikuti oleh pneumonia bakteri menyebabkan sebagian besar kematian," kata Direktur NIAID, Anthony S. Fauci.

"Intinya, virus ini mendaratkan pukulan pertama, semendara bakteri mengirimkan pukulan yang lebih mematikan," kata Fauci, yang sekarang merupakan kepata satgas covid-19 di Amerika Serikat.

Masih dalam artikel tersebut, ahli patologi, Jeffrey Taubenberger MD, Ph.D., memeriksa sampai jaringan paru-paru dari 58 tentara di pangkalan militer Amerika Serikat yang meninggal karena influenza pada 1918.

"Hasil autopsi mengungkapkan, spektrum kerusakan jaringan memperlihatkan adanya perubahan karakteristik pneumonia virus primer dan bukti perbaikan jaringan hingga bukti pneumonia bakteri sekunder yang parah dan akut," ujar Dr. Taubenberger.

Hasil penelusuran juga mengarahkan ke artikel di AFP Fact Check berjudul: "Bacterial pneumonia, a complication of influenza, not linked to mask wearing". Artikel itu dipublikasikan pada 23 Oktober 2020.

Dalam artikel tersebut mengatakan, para ahli tidak menyebut penggunaan masker secara terus menerus bisa mengakibatkan pneumonia bakteri.

"Tidak ada penelitian terkemuka yang menghubungkan penggunaan masker dengan peningkatan pneumonia bakteri," kata dokter perawatan kritis dan penyakit menular di University of Virginia, Taison Bell.

"Dalam setiap musim influenza, kami benar-benar mengharapkan proporsi tertentu dari pasien. Pneumonia bakterial adalah komplikasi yang Anda mulai pelajari di sekolah kedokteran," ujarnya menambahkan.

Bell melanjutkan, selama ada pandemi, sangat dianjutkan setiap orang lebih sering mencuci tangan hingga menghindari kerumunan, selain memakai masker. Itu menjadi langkah awal mencegah penyakit di masa pandemi.

 

3 dari 4 halaman

Kesimpulan

Informasi yang menyebut pneumonia bakterial berasal dari penggunaan masker secara rutin adalah salah. Faktanya, sesuai pemaparan para ahli, pneumonia bakterial merupakan penyakit komplikasi dari penyakit primer.

4 dari 4 halaman

Tentang Cek Fakta

Liputan6.com merupakan media terverifikasi Jaringan Periksa Fakta Internasional atau International Fact Checking Network (IFCN) bersama puluhan media massa lainnya di seluruh dunia. 

Cek Fakta Liputan6.com juga adalah mitra Facebook untuk memberantas hoaks, fake news, atau disinformasi yang beredar di platform media sosial itu. 

Kami juga bekerjasama dengan 21 media nasional dan lokal dalam cekfakta.com untuk memverifikasi berbagai informasi yang tersebar di masyarakat.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan kepada tim CEK FAKTA Liputan6.com di email cekfakta.liputan6@kly.id.