Sukses

Cek Fakta: Tidak Benar Pandemi Flu Babi Tahun 2009 Lebih Bahaya daripada Covid-19

Liputan6.com, Jakarta - Beredar klaim yang menyebut bahwa pandemi virus corona covid-19 saat ini terlalu dibesarkan media. Klaim tersebut membandingkan efek virus corona covid-19 tidak sebesar virus H1N1 atau yang lebih dikenal sebagai flu babi.

Salah satu akun yang mempostingnya adalah Eric Grace. Dia mengunggahnya di Facebook Minggu (2/8/2020).

Dalam postingannya ada meme dengan narasi, "only 56 million cases to until we reach H1N1 (swine flu) cases from 2009!! Remind me again, how long were schools shut down for? What type of masks were popular back then?"

atau dalam bahasa Indonesia, "Hanya 56 juta kasus lagi untuk menyamai kasus H1N1 (flu babi) tahun 2009!! Ingatkan saya lagi, berapa lama sekolah ditutup, masker tipe apa yang populer saat itu?"

Selain itu ia juga mengunggahnya dengan tulisan:

"60.8 million cases 2009 to 2010 150,000 to 575,000 estimated deaths from the swine flu, you can look that up on the CDC website. 4.8 million cases of covid so far, if we keep that rate over the next 8 months well have making it a year, well have about 14.8 million cases."

Lalu benarkah flu babi lebih berbahaya ketimbang covid-19?

2 dari 4 halaman

Penelusuran fakta:

Cek Fakta Liputan6.com menelusuri fakta dengan mengetik kata kunci "swine flu more dangerous than covid-19" di mesin pencarian Google.

Hasilnya ada beberapa artikel terkait seperti dari Jakarta Post dengan judul "COVID-19 is 10 times more deadly than swine flu: WHO" yang tayang sejak 14 April 2020 lalu.

Isinya antara lain menjelaskan pernyataan Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus. "Kita tahu Covid-19 menyebar cepat dan 10 kali lebih mematikan dari pandemi flu babi tahun 2009."

Dalam artikel tersebut juga menjelaskan flu babi atau H1N1 yang pertama kali ditemukan di Meksiko dan AS menewaskan 18.500 orang sebelum Lancet Medical mengestimasi total kematian akibat pandemi tersebut mencapai 151.700 hingga 575.400 orang.

Flu babi dalam artikel itu juga dijelaskan dimulai pada Juni 2009 dan berakhir pada Agustus 2010. Vaksin juga akhirnya ditemukan dan WHO menarik kesimpulan flu babi tidak semengerikan seperti yang diperkirakan.

Sementara artikel lain dari AFP Factcheck berjudul, "Misleading claim circulates online comparing severity of COVID-19 with swine flu"

Mereka meminta penjelasan dari Associate Profesor Helen Petousis dari University of Auckland.

"Tingkat kematian dari flu babi sekitar 1/100. Sementara untuk covid-19 adalah 2-3 orang per 100 kasus. Kematian akibat flu babi 150 ribu hingga setengah juta orang. Sementara covid-19 sudah menimbulkan kematian lebih dari 600 ribu dan kasusnya belum berakhir."

Helen juga mengatakan pasien covid-19 lebih membutuhkan perawatan rumah sakit ketimbang pasien flu babi. "Saat mereka membanjiri layanan kesehatan maka jumlah kematian pasti akan meningkat terus. Apalagi sejauh ini belum ada vaksin melawan covid-19."

3 dari 4 halaman

Kesimpulan:

Klaim yang menyebut pandemi flu babi tahun 2009 lebih bahaya daripada covid-19 adalah salah.

4 dari 4 halaman

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Liputan6.com merupakan media terverifikasi Jaringan Periksa Fakta Internasional atau International Fact Checking Network (IFCN) bersama puluhan media massa lainnya di seluruh dunia. 

Cek Fakta Liputan6.com juga adalah mitra Facebook untuk memberantas hoaks, fake news, atau disinformasi yang beredar di platform media sosial itu. 

Kami juga bekerjasama dengan 21 media nasional dan lokal dalam cekfakta.com untuk memverifikasi berbagai informasi yang tersebar di masyarakat.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan kepada tim CEK FAKTA Liputan6.com di email cekfakta.liputan6@kly.id.