Sukses

Hati-hati Guyonan Juga Bisa Masuk Kategori Hoaks

Liputan6.com, Jakarta- Kabar hoaks kerap dibungkus dengan berbagai macam bentuk, baik tulisan, foto, dan gambar. Bahkan konten yang bertujuan sebagai bahan lelucon pun bisa masuk kategori hoaks.

Dalam artikel "Fake news. It’s complicated" yang dimuat situs firstdraftnews.org ada tujuh jenis disinfromasi dan misinformasi, salah satunya adalah satire atau parodi.

"Konten jenis ini biasanya tidak memiliki potensi atau kandungan niat jahat, namun bisa mengecoh.Satire merupakan konten yang dibuat untuk menyindir pada pihak tertentu. Kemasan konten berunsur parodi, ironi, bahkan sarkasme. Secara keumuman, satire dibuat sebagai bentuk kritik terhadap personal maupun kelompok dalam menanggapi isu yang tengah terjadi.Sebenarnya, satire tidak termasuk konten yang membahayakan. Akan tetapi, sebagian masyarakat masih banyak yang menanggapi informasi dalam konten tersebut sebagai sesuatu yang serius dan menganggapnya sebagai kebenaran," kata situs tersebut."

Cek Fakta Liputan6.com pun pernah menelusuri kabar viral guyonan yang mengarah pada konten hoaks, dengan judul artikel "Cek Fakta: Setelah Corona Muncul Virus Zika? Itu Guyonan yang Tak Lucu". Kabar tersebut mengklaim ada virus baru yang lebih ganas dari Virus Corona, yaitu Virus Zika.

Berikut isi klaim tersebut.

"Hati2 dan waspadalah...!!Belum selesai persoalan Corona Virus...sekarang muncul lagi virus baru yaitu :" VIRUS ZIKA"Di sinyalir virus Zika lebih ganas daripada Corona Virus .Kepada dulur2 harap berhati-hati... benar2 jaga kesehatan...Virus Zika sudah Sampai Lampung, Jakarta , Bandung , Surabaya, Bali dan tersebar di beberapa kota besar di Indonesia.Hal ini bisa menjadi endemi yg meresahkan masyarakat.

Ciri2 penyakit ZIKA :- kepala terasa pusing cenut-cenut- mudah marah/emosi- demam, dan kluar kringet dingin- uring-uringan/gelisah

Penyakit ZIKA cepat berkembang apabila:1.ZIKA ditagih hutang2.ZIKA ditagih kreditan3.ZIKA dompet kosong4.ZIKA tanggal tua5.ZIKA perut lapar

Maka waspadalah......ZIKA tertular pada anda... Jangan terlalu serius dalam peristiwa hidup selamat membaca..."

Kesimpulan hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com dari klaim tersebut masuk dalam kategori disinformasi, sebab informasi yang disebarkan bisa mengecoh pembacanya, terutama mereka yang tak membacanya hingga akhir.

 Artikel firstdraftnews.org juga menyebut:

"We certainly should worry about people (including journalists) unwittingly sharing misinformation, but far more concerning are the systematic disinformation campaigns. Previous attempts to influence public opinion relied on ‘one-to-many’ broadcast technologies but, social networks allow ‘atoms’ of propaganda to be directly targeted at users who are more likely to accept and share a particular message. Once they inadvertently share a misleading or fabricated article, image, video or meme, the next person who sees it in their social feed probably trusts the original poster, and goes on to share it themselves. These ‘atoms’ then rocket through the information ecosystem at high speed powered by trusted peer-to-peer networks.

This is far more worrying than fake news sites created by profit driven Macedonian teenagers."

Dalam artikel ini mengungkapkan, perang informasi menimbulkan kekhawatiran, artikel, gambar, video atau meme yang menyesatkan atau dibuat-buat, yang disebar kemudian dipercaya dan disebar kembali sangat berbahaya.

Loading
Artikel Selanjutnya
4 Mitos Seputar Covid-19, Benar atau Salah?
Artikel Selanjutnya
Cek Fakta: Video Ibadah Gereja di Riau Diganggu Suara Speaker? Ini Faktanya