Amunisi Berlimpah Memaksa Didier Deschamps Ubah Filosofi Prancis di Piala Dunia 2026

Prancis produktif di Piala Dunia 2026 karena memiliki pemain bernaluri serang berlimpah. Namun, sejarah mereka justru terukir saat penyerang utama mandul.

Diterbitkan 02 Juli 2026, 16:02 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Prancis, dengan lini serang yang disebut mematikan, tengah menjalani Piala Dunia 2026 dengan ambisi besar meraih gelar ketiga sepanjang sejarah mereka. Namun, di tengah performa impresif tersebut, muncul pertanyaan apakah mereka akan dapat mengangkat trofi juara.

Kuartet penyerang yang terdiri dari Kylian Mbappe, Ousmane Dembele, Michael Olise, serta Desire Doue atau Bradley Barcola, menjadikan Les Bleus salah satu favorit kuat di turnamen ini. Kehadiran nama-nama tersebut telah membentuk kekuatan ofensif yang sangat ditakuti lawan.

Di fase grup, Prancis berhasil mencetak 10 gol, jumlah terbanyak bersama Belanda dan Jerman. Berbeda dari kedua negara tetangga tersebut, ketajaman Les Bleus tetap terjaga pada putaran pertama babak gugur.

Keganasan Serangan Prancis di Piala Dunia 2026

Performa Prancis di babak awal Piala Dunia 2026 memang menunjukkan dominasi. Mereka berhasil menyingkirkan Swedia dengan skor telak 3-0 pada putaran pertama babak gugur.

Sementara itu, Belanda dan Jerman, yang memiliki jumlah gol fase grup sama dengan Prancis, justru harus tersingkir setelah kalah dalam adu penalti dari lawan masing-masing. Hal ini menyoroti efisiensi dan konsistensi serangan Prancis yang berhasil mempertahankan momentumnya.

Dengan amunisi penyerang yang melimpah, tim Ayam Jantan ini jelas mengincar gelar juara dunia ketiga mereka. Namun, sejarah mereka pada turnamen besar menunjukkan bahwa perjalanan menuju trofi tidak selalu linier dengan performa penyerang utama.

Pola Kemenangan Unik Tanpa Gol Penyerang Utama

Ada sebuah pola menarik dalam sejarah kesuksesan Prancis di turnamen besar. Les Bleus kerap kali meraih gelar juara justru ketika penyerang utama mereka gagal mencatatkan namanya di papan skor.

Contohnya terjadi pada Piala Dunia 1998, di mana Stephane Guivarc'h, penyerang utama saat itu, sama sekali tidak mencetak gol sepanjang turnamen, namun Prancis berhasil menjadi juara.

Fenomena serupa terulang pada Piala Dunia 2018, ketika Olivier Giroud juga tidak menyumbangkan gol, tetapi Prancis kembali sukses mengangkat trofi. Pada Euro 1984, Bernard Lacombe gagal merobek gawang lawan, namun Prancis tetap berhasil menguasai turnamen tersebut.

Pola ini menimbulkan tanda tanya apakah serangan mematikan Prancis di Piala Dunia 2026 bisa berbuah trofi.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Erling Haaland dan Ketergantungan Norwegia di Piala Dunia 2026

Harley IkhsanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan