Dari Raket Rp200 Ribu ke Gerbang PB Djarum: Cerita Bocah Lombok Kejar Mimpi Lewat Audisi Umum

Muhammad Rofiqi Abidin jadi contoh sensasional di Audisi Umum PB Djarum 2025. Meski memiliki keterbatasan ekonomi, dia tak menyerah mengejar impian di audisi umum, hingga rela menempuh perjalanan 30 jam naik kapal laut dan travel.

Diterbitkan 10 September 2025, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Raket pertama itu kemudian jadi senjata utama Rofiqi, yang saban hari rajin berlatih di pinggir jalan bersama ayahnya.

Dari situlah bakatnya mulai terlihat. Dengan rezeki yang ada, Zaenal berhasil mewujudkan mimpi Rofiqi bergabung dengan klub bulu tangkis lokal Lombok Star.

Ekonomi, Air Mata, dan Restu

Masuk klub bukan akhir perjuangan. Selain faktor ekonomi yang membayangi, restu ibunya sempat tak kunjung datang.

Menurut Zaenal, istrinya enggan menyetujui keputusan Rofiqi bermain bulu tangkis sebab lebih ingin putra bungsunya mondok, mengikuti jejak sang kakak.

Di sisi lain, Zaenal masih ingat betul momen kelulusan SD anaknya yang menggelitik dia untuk membantu mencarikan restu. Kala itu, nama Rofiqi terpampang di layar dengan keterangan cita-cita 'menjadi pemain bulu tangkis dunia', yang sontak membuat air mata Zaenal menetes.

"Waktu di sekolah SD (acara kelulusan), tertulis (di layar) cita-cita anak saya, Muhammad Rofiqi Abidin, ingin menjadi pemain bulu tangkis dunia. Saya sempat meneteskan air mata sambil menunduk. (Saya bilang), ya Allah, anak saya sangat besar cita-citanya, sementara keberatan ekonomi juga ada," aku Zaenal.

Cemoohan Tak Patahkan Semangat

Zaenal mantap mendorong putranya mengejar mimpi, pertama-tama dengan ikut Audisi Umum PB Djarum. Semula, ada beberapa pihak yang meragukan sebab Rofiqi belum teruji di Lombok. Dia sering kalah di turnamen serta belum pernah naik podium,

"Kita memang sempat diremehkan. (Kata orang) kenapa pergi ke Djarum? Karena di Lombok saja tidak pernah naik podium" kata Zaenal.

Namun, Rofiqi tidak gentar. Sebaliknya, dia justru bekerja lebih giat. Dua bulan jelang audisi, dia berlatih keras: skipping 1.000 kali usai salat subuh, lari 4 kilometer menuju klub, hingga tambahan satu jam latihan main setiap hari.

"Dia ikut apa yang saya arahkan. Selesai salat subuh, dia skipping 1.000 sampai 1.500 kali, selepas itu berangkat sekolah," kata Zaenal lagi.

"Setiap hari dia latihan (main), satu jam selama dua bulan. Setiap pergi ke klub dia selalu lari sampai gedung," tambah sang ayah dengan wajah bangga.

Nekat Pinjam Uang, Demi Kudus

Hanya saja, semua persiapan tak berarti tanpa ongkos ke Kudus. Maka, dengan keberanian setara anaknya, Zaenal nekat meminjam Rp3.000.000 dari bank. Uang itu diirit seketat mungkin agar cukup untuk perjalanan dan biaya hidup selama audisi.

"Tiga juta itu kita pinjam dengan bayaran cicilan. Sampai sini kita irit-irit lah," tuturnya.

Di GOR Djarum Jati, Rofiqi akhirnya berdiri tegak di antara ribuan anak yang juga mengejar mimpi. Tak ada yang bisa menjamin dia akan lolos atau gagal.

Tapi satu hal yang pasti: perjalanan panjang ini menjadi bukti bahwa tekad sesederhana celengan Rp200.000 bisa menjadi awal langkah besar untuk mewujudkan mimpi di hari esok

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Theresia Melinda Indrasari, Harley IkhsanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan