Dari Galacticos ke Tim Kolektif: Luis Enrique Ubah Wajah PSG Jadi Mesin Juara

PSG hadir dengan wajah baru yang lebih kolektif dan tangguh. Di balik perubahan ini, ada sosok pelatih yang tenang namun revolusioner: Luis Enrique.

Diperbarui 30 Mei 2025, 10:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Keberhasilan ini tak lepas dari kontribusi para pemain depan yang rela bekerja keras tanpa bola. Enrique menyebut salah satu kunci utamanya adalah perubahan mentalitas para penyerang. “Mereka kini bekerja sebagai tim, dan itu sulit ditanamkan,” ujarnya di media day UEFA.

Era Baru PSG Tanpa Mbappe

Kylian Mbappe meninggalkan PSG tiga hari setelah kekalahan dari Dortmund di semifinal musim lalu. Ironisnya, kepergiannya justru membuat tim ini tumbuh lebih seimbang. Luis Enrique tak lagi bergantung pada satu sosok untuk memecah kebuntuan.

Ousmane Dembele, yang sebelumnya dikenal sebagai winger inkonsisten, muncul sebagai solusi tak terduga. Ia mencetak 33 gol musim ini, melampaui semua ekspektasi dan mengisi lubang besar yang ditinggalkan Mbappe. Permainannya yang terintegrasi dengan sistem jadi senjata baru PSG.

Kombinasi Dembele dengan Hakimi di sisi kanan menjadi motor serangan yang sulit diprediksi. Bahkan, golnya ke gawang Arsenal di semifinal identik dengan gol saat melawan Liverpool — bukti konsistensi dalam skema dan eksekusi. PSG kini menyerang sebagai unit, bukan sebagai individu.

Fondasi Baru PSG di Tengah Lapangan

Luis Enrique tak hanya mengubah lini depan dan belakang, tapi juga menyentuh jantung permainan: lini tengah. Ia menggantikan Manuel Ugarte dengan Fabian Ruiz demi menambah kekuatan fisik dan ketahanan saat ditekan. Perubahan ini membuka ruang bagi playmaker seperti Vitinha untuk berkembang.

Kedatangan Joao Neves dari Benfica menambah dimensi baru dengan kemampuan distribusi bola dan keseimbangan. Musim ini, jumlah umpan terobosan PSG meningkat, dan mereka tak lagi terlalu bergantung pada crossing. Gaya mainnya lebih vertikal dan cepat.

Kvaratskhelia yang datang di Januari juga membawa perbedaan signifikan. Keahliannya dalam membawa bola memaksa lawan menggandakan penjagaan, membuka ruang untuk pemain lain. Efek domino ini memberi keuntungan besar, terutama dalam laga-laga Eropa di mana ruang sempit sangat menentukan.

Ketika Akhir yang Sempurna Dimulai di Munchen

Final Liga Champions musim ini digelar di Munchen — tempat di mana PSG terakhir kali gagal angkat trofi setelah kalah dari Bayern. Tapi kali ini, mereka datang dengan identitas baru, bukan sekadar tim dengan ambisi mahal. Ini adalah PSG yang dibangun dengan proses, bukan popularitas.

Hanya Marquinhos dan Kimpembe yang tersisa dari skuad 2020. Bahkan dari 11 pemain yang tampil di laga pertama Liga Champions di bawah Luis Enrique, hanya lima yang masih reguler. Proses regenerasi yang cepat tapi terukur menjadi kunci perubahan wajah PSG.

Presiden klub, Nasser Al-Khelaifi, menyebutnya sebagai “perubahan budaya” dan memperpanjang kontrak Enrique hingga 2027. Pelatih asal Spanyol itu menjawab diplomatis soal peluang juara. “Kami sampai sejauh ini dengan cara bermain kami sendiri. Sekarang tinggal melanjutkan itu untuk mewujudkan mimpi,” ujarnya.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Richard Andreas LuturmasTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan