Iklim Sepak Bola Putri Indonesia Semakin Kuat, Berkat Kompetisi Berjenjang

Jumlah peserta sepak bola terus meningkat di berbagai daerah berkat kompetisi yang semakin banyak dan berjenjang.

OlehThomas
Diperbarui 19 Mei 2025, 06:31 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Sepak bola putri Indonesia semakin berkembang pesat. Kehadiran kompetisi berjenjang membuat semakin banyak yang tertarik menekuni sepak bola putri. Hal ini terbukti dengan meningkatnya jumlah peserta MilkLife Soccer Challenge di setiap kali penyelenggaraan turnamen.

Seperti yang terjadi pada MilkLife Soccer Challenge - Solo 2025. Kilas balik ke tahun lalu, pada gelaran MilkLife Soccer Challenge Solo Seri 1 2024, sebanyak 389 siswi berpartisipasi. Jumlah ini meningkat dua kali lipat pada seri kedua yang terselenggara pada Oktober 2024 menjadi 830 peserta.

Kali ini, sebanyak 1.016 siswi dari 58 Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) turut meramaikan ajang sepak bola putri yang diinisiasi oleh Bakti Olahraga Djarum Foundation dan MilkLife tersebut.

Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation Yoppy Rosimin mengatakan peningkatan kuantitas peserta di Solo selaras dengan kualitas yang ditunjukkan para pesepak bola putri di lapangan hijau. Hal ini tak lepas dari iklim kompetitif yang tercipta dari kompetisi sepak bola putri yang berjenjang mulai dari Kelompok Umur (KU) 10 hingga KU 16.

Selain adanya kepastian wadah unjuk kemampuan tersebut, dua peserta jebolan MilkLife Soccer Challenge asal Solo yang baru pulang usai berlaga di ajang JSSL Singapore 7’s 2025 pada April lalu, turut menjadi inspirasi yang memantik minat putri-putri Solo menggeluti sepak bola.

Mereka adalah Ika Wonda dari SD Kristen Manahan Surakarta dan Adinda Resti Widayani asal SDN Tempel Surakarta. Keduanya berhasil menjadi runner up di ajang bergengsi tersebut saat memperkuat tim MilkLife Shakers (U-12).

“Peningkatan jumlah peserta dari seri ke seri ini membuktikan kemauan dan ketertarikan para putri menggeluti dunia sepak bola semakin bertambah besar. Kami berkomitmen untuk terus mendorong tumbuhnya ekosistem sepak bola putri dari level usia lebih dini dan mengikuti berbagai turnamen tingkat nasional maupun internasional. Dengan kompetisi dan karir berjenjang, kami berharap hal ini dapat memantik motivasi mereka untuk terus mengasah kemampuan,” ujar Yoppy.

Talenta Terus Bertambah

Head Coach Assistant MilkLife Soccer Challenge Asep Sunarya menyebut talenta pesepak bola putri di Solo terus bertambah. Bahkan tim Talent Scouting MilkLife Soccer Challenge telah mengantongi puluhan nama berbakat yang bisa diasah untuk menjadi pesepakbola putri tangguh di masa mendatang.

Selama turnamen MilkLife Soccer Challenge Solo 2025 berlangsung, Coach Asep mengamati peta persaingan para peserta saat menunjukkan kemampuan mengolah ‘si kulit bundar’ lebih ketat.

“Kemampuan secara individu maupun tim teramati sudah banyak yang berkembang. Hal ini juga menunjukkan para putri juga sudah banyak yang ikut latihan di sekolah sepak bola (SSB) sehingga turnamen kali ini sangat kompetitif. Kami sudah mendapatkan kurang lebih 60 nama yang akan dipanggil mengikuti extra training. Jumlah ini sangat menggembirakan karena pasti akan semakin kompetitif pada seri selanjutnya,” kata Asep.

Epic Comeback

Sementara itu pada laga final, MLSC Solo 2025, kemenangan manis didapat tim Kelompok Umur (KU) 12 SD Djama’atul Ichwan Surakarta. Di sektor KU 10, SD Al Azhar Syifa Budi Surakarta mampu memberikan ‘epic comeback’ menjadi juara setelah menunggu selama setahun.

Laga pamungkas KU 12 antara SD Djama’atul Ichwan Surakarta dan MIN Surakarta berjalan cukup alot. Tim MIN Surakarta membuka babak pertama dengan gol yang tercipta dari tendangan Avara Aulia Zahra, tepat satu menit setelah wasit meniup peluit. Keunggulan sementara itu membuat kedua tim saling jual beli serangan untuk menciptakan peluang. Sayangnya tidak ada gol terpecah lagi, sehingga babak pertama berakhir dengan skor 0-1.

Usai turun minum, tim SD Djama’atul Ichwan Surakarta bangkit dengan terus memberikan penekanan di lini pertahanan lawan. Upaya Kafiya Ratu Assidqi dan kawan-kawan untuk mengejar ketertinggalan pun membuahkan hasil. Gol penyama kedudukan pun dihasilkan berkat kerja sama apik yang mampu dieksekusi sempurna oleh Maiza Alfareza Totalia di menit 22. Melanjutkan pertandingan, saling potong umpan silang pun terus terjadi.

Kedudukan imbang 1-1 pun bertahan hingga wasit meniup peluit panjang yang memaksa keadaan masuk ke babak penalti.Dalam babak adu penalti yang dramatis itu, algojo SD Djama’atul Ichwan Surakarta mampu mengumpulkan empat poin. Sementara MIN Surakarta mengemas tiga poin. Kemenangan tersebut menjadi buah manis dan pantang menyerah anak asuhan Anjas Andika Pratama dalam ajang sepak bola putri usia dini tersebut.

Sementara itu di KU 10, SD Al Azhar Syifa Budi Surakarta mampu meraih gelar juara usai mengalahkan MIN 9 Sragen dengan skor telak 6-2. Enam gol itu dikemas cantik oleh Syarafana Maritza Anggara selama dua babak berjalan berkat kerjasama tim yang baik dalam menciptakan peluang gol.

Meski babak pertama tim asuhan Hakim Hanafi itu belum maksimal memanfaatkan peluang lewat tendangan penalti, namun mereka mampu bangkit. Di menit ke-12. Syarafana melakukan tendangan bebas langsung tertuju pada gawang yang membuat tim SD Al Azhar Syifa Budi Surakarta unggul 1-0. Namun MIN 9 Sragen langsung membuat dua gol balasan lewat tendangan keras pemain depan Salsabilla Mustika Prasetyo.

Setelah restart, SD Al Azhar Syifa Budi Surakarta tak kehilangan motivasi untuk menang. Mereka lebih agresif untuk menyerang yang membuahkan empat gol lain yang memastikan tim SD Al Azhar Syifa Budi naik ke podium tertinggi KU 10 MilkLife Soccer Challenge - Solo 2025.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
ThomasTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan