Timnas Indonesia vs Jepang, Garuda dan Samurai Biru Beda Jalan Menuju Piala Dunia 2026

Timnas Indonesia hanya menempati posisi 130 di peringkat FIFA. Sementara Jepang merupakan wakil terbaik Asia usai menduduki urutan 15. Namun, ada masanya di mana dunia terbalik dengan timnas Indonesia berada di atas Jepang.

Diperbarui 15 November 2024, 00:07 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Careca (Brasil), Pierre Littbarski (Jerman), dan Gerald Vanenburg (Belanda) merupakan gelombang pertama yang hadir menyusul Zico (Brasil) dan Gary Lineker (Inggris) yang tiba terlebih dahulu. Turut datang kemudian hadir Michael Laudrup (Denmark) dan Hristo Stoichkov (Bulgaria).

Kehadiran mereka diharapkan dapat menularkan ilmu sekaligus mendongrak talenta lokal. Hasilnya terlihat tidak lama kemudian. Walau gagal pada percobaan pertama mencapai Piala Dunia (1994) setelah J-League terbentuk, karena hanya bermain imbang pada partai terakhir kualifikasi melawan Irak, Jepang lolos untuk pertama kali di edisi berikutnya tahun 1998. Sejak itu mereka tidak pernah absen dari Piala Dunia.

Resep mendatangkan pemain asing sebenarnya juga diterapkan Indonesia. Mario Kempes (Argentina) dan Emmanuel Maboang Kessack (Kamerun) datang memeriahkan gegap gempita sepak bola nusantara pada dekade terakhir abad ke-20.

Sayang akumulasi berbagai faktor membuat sepak bola Indonesia berjalan di tempat, kalau tidak mau disebut mundur. Indonesia sempat memiliki dualisme kepemimpinan federasi, yang kemudian memaksa pemerintah turun tangan sehingga terkena sanksi FIFA.

Larangan tersebut membuat sepak bola Indonesia mati suri. Butuh proses panjang lagi untuk memulihkan diri, yang coba dijalankan dua pemimpin terakhir federasi.

"Peringkat sepak bola Indonesia bakal turun terus, karena kita tidak bisa mengikuti turnamen dunia yang masuk agenda FIFA dan lainnya," kata pengamat sepak bola Andi Bachtiar Yusuf menjelaskan dampak hukuman FIFA.

Solusi Jangka Menengah dan Panjang Timnas Indonesia

Saat ini, Jepang sudah menjadi kekuatan utama Asia. Pembinaan yang dilakukan sejak tiga dekade silam membuat talenta-talenta mereka bekibaran di berbagai klub Eropa yang menjadi kiblat sepak bola dunia.

Di sisi lain, Indonesia mengubah taktik demi menembus pentas global yakni naturalisasi pemain. Usai diragukan efektivitasnya, langkah terbaru adalah mengidentifikasi pemain-pemain berdarah Merah Putih yang tersebar di berbagai penjuru muka bumi pada berbagai level usia.

Ditemukanlah nama-nama seperti Jay Idzes, Maarten Paes, Ragnar Oratmangoen, Thom Haye, dan teranyar Kevin Diks. Kebijakan tersebut diterapkan di berbagai umur, sehingga dampaknya akan terasa di masa depan dan bukan cuma sebatas solusi jangka pendek.

Bukan cuma itu, kehadiran para diaspora ini juga bisa memberi pengaruh selain hasil di lapangan. Sepak terjang Idzes dan kawan-kawan diharapkan menginspirasi generasi-generasi baru lokal untuk menjajal sepak bola sebagai pilihan karier. Bertambahnya sumber daya tersebut jelas meningkatkan peluang Indonesia mendapatkan pemain berkualitas, sembari tentunya membenahi pembinaan usia dini.

Hebatnya, hasil kebijakan ini sudah terlihat dalam waktu singkat. Empat level timnas (senior, U-23, U-20, U-17) lolos ke Piala Asia untuk kali pertama sepanjang sejarah.

“Kita ingin memfokuskan semua talenta terbaik bangsa Indonesia yang ada di luar negeri untuk memperkuat tim nasional. Pilihan adalah yang mempunyai darah Indonesia,” kata Ketua Umum PSSI Erick Thohir.

“Ini ya bagian komitmen bahwa yang namanya pembangunan tim nasional itu bukan dilihat dari jangka pendek, tapi menengah dan panjang, dan kita sudah siapkan talentanya itu,” tuturnya.

Timnas Indonesia tampil di SUGBK malam ini mengusung mimpi mencapai level sama seperti Jepang. Terlepas apapun hasil pertandingan, Indonesia sepertinya berada di jalan yang benar untuk mewujudkan ambisi.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Harley Ikhsan, Shinta NM SinagaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan