Mochamad Iriawan: Tragedi Kanjuruhan Menyedihkan dan Kelam Sekali, Saya Sangat Terpukul

Keputusan mengejutkan diambil Iriawan dengan memastikan dirinya tidak akan mencalonkan diri lagi untuk posisi yang sama pada periode 2023-2027.

Diperbarui 15 Februari 2023, 14:02 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Tak banyak polisi yang punya pengalaman seperti Komisaris Jenderal (Purn) Mochamad Iriawan. Tak hanya dikenal matang di bidang reserse kriminal, pria kelahiran Jakarta, 31 Maret 1962 ini pernah menjabat sebagai kapolda di tiga wilayah berbeda.

Perwira tinggi lulusan Akpol 1984 ini saat menjabat Direktur Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Metro Jaya pernah menangani kasus kontroversial pembunuhan berencana pengusaha Nasrudin Zulkarnaen yang melibatkan Ketua KPK kala itu, Antasari Azhar.

Sejak itu, perjalanan kariernya terus mananjak. Ia kemudian ditugaskan menjadi Kapolda Nusa Tenggara Barat pada 2012 dan berselang setahun menjabat sebagai Kapolda Jawa Barat pada akhir 2013.

Dari Kapolda Jawa Barat, Iriawan ditarik ke Mabes Polri. Ia diberi tugas sebagai Kadivkum Polri dan berlanjut sebagai Kadivpropam Polri. Tak lama kemudian, pada 2016 ia diangkat menjadi Kapolda Metro Jaya.

Dalam tugas barunya, Iriawan ikut turun ke lapangan dan terlibat secara langsung dalam pengamanan aksi damai 4 November 20016 yang menuntut penahanan Gubernur petahana DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Ia pun menjadi garda terdepan pengamanan Jakarta yang sedang menggelar hajatan Pilgub DKI 2017.

Usai memimpin kepolisian di wilayah Ibu Kota, Iriawan kemudian menjabat Asisten Kapolri Bidang Operasi dan Sekretaris Utama Lemhannas. Kenyang dengan pengalaman di kepolisian, pada 18 Juni 2018, Iriawan dilantik Mendagri Tjahjo Kumolo sebagai Penjabat Gubernur Jawa Barat menggantikan Ahmad Heryawan hingga 5 September 2018.

Dunia baru kembali didapat Iriawan ketika dia memenangkan pemilihan Ketua Umum PSSI dalam Kongres Luar Biasa PSSI di Hotel Shangri-La Jakarta pada 2 November 2019. Atas kemenangan itu dia didapuk sebagai Ketua Umum PSSI periode 2019–2023.

Namun, impian Iriawan menyelesaikan tugasnya di PSSI dengan mulus menjadi buyar akibat terjadinya tragedi memilukan di Stadion Kanjuruhan Malang pada Sabtu (1/10/2022). Dalam peristiwa yang disebut Tragedi Kanjuruhan tersebut sebanyak 132 nyawa melayang dalam kerusuhan di dalam stadion.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Meski sudah minta maaf dan berjanji mengusut kasus tersebut, Iriawan tetap didesak untuk mundur sebagai bentuk pertanggungjawaban. Selain itu, desakan untuk digelarnya Kongres Luar Biasa PSSI mengemuka yang akhirnya diputuskan bakal digelar pada 16 Februari 2023. Keputusan mengejutkan diambil Iriawan dengan memastikan dirinya tidak akan mencalonkan diri lagi untuk posisi yang sama pada periode 2023-2027. Hal itu disampaikan Iriawan usai Kongres Biasa PSSI 2023 di Jakarta, Minggu (15/1/2023). Lantas, apa pengalaman berkesan yang didapat Iriawan selama memimpin PSSI dan apa yang akan dilakukan seorang Iwan Bule setelah tidak lagi menjabat? Berikut petikan wawancara Mochamad Iriawan dengan Marco Tampubolon dalam program Bincang Liputan6.

Halaman
Show All
Rinaldo, AY YustiawanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan