Selain Tragedi Kanjuruhan, Ini 5 Kericuhan Sepak Bola Paling Mengerikan Berikut Sanksinya: Ada yang Sampai Dihukum Mati!

Tak hanya di Kanjuruhan, insiden sepak bola mengerikan telah terjadi di berbagai negara. Tragedi Estadio Nacional, Peru, dan Accra Sports’ Stadium, Ghana, bahkan menelan korban jiwa lebih besar dibanding Indonesia. Simak data mengenai lima peristiwa sepak bola paling mematikan pada artikel berikut!

Diterbitkan 03 Oktober 2022, 17:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Indonesia tengah diselimuti dukacita akibat insiden nahas yang terjadi pasca laga Arema FC vs Persebaya Surabaya dalam pekan ke-11 Liga 1 2022/2023 di Stadion Kanjuruhan, Malang, pada Sabtu (1/10/2022) malam WIB.

Peristiwa bermula ketika pendukung Singo Edan tak terima klub jagoannya kalah tipis 2–3 dari tim tamu. Suporter langsung menyerbu ke lapangan setelah wasit meniupkan peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan.

Petugas keamanan sempat mencoba menghalau serbuan pendukung. Gas air mata pun ditembakkan demi mengantisipasi kericuhan. Namun, kondisi justru menjadi makin kacau.

Data korban tewas dalam tragedi Kanjuruhan sebelumnya masih cenderung simpang siur. Semula, korban dilaporkan sebanyak 127 orang, lalu bertambah menjadi 129 orang.

Namun, jika merujuk pada data hasil pemutakhiran Polri, serta pernyataan Kemenko Polhukam Mahfud MD pada Senin (3/10/2022) pagi, jumlah korban tewas di tragedi Kanjuruhan mencapai 125 orang. Angka ini menjadikannya sebagai insiden sepak bola terbesar ketiga dalam sejarah.

Pihak terkait berupaya melakukan penyelidikan untuk mengungkap tuntas kasus ini. Pemerintah bahkan telah mengumumkan langkah penanganan dengan membentuk tim gabungan independen pencari fakta alias TGIPF.

Menurut Mahfud MD, satuan itu nantinya bertugas untuk mengungkap fakta terkait tragedi Arema di Kanjuruhan. Kerja TGIPF diupayakan selesai dalam dua hingga tiga minggu ke depan.

Hingga kini belum ada kabar resmi terkait pihak yang bersalah dalam insiden itu. Namun, Polri dikabarkan masih melakukan pemeriksaan internal terhadap 18 anggota polisi terkait pengggunaan gas air mata di tragedi Kanjuruhan.

Insiden mengerikan yang melibatkan polisi dan suporter sebelumnya telah terjadi di berbagai negara. Tragedi Estadio Nacional, Peru, dan Accra Sports’ Stadium, Ghana, bahkan menelan korban jiwa lebih besar dibanding Indonesia. Simak data mengenai lima tragedi sepak bola paling mematikan pada halaman selanjutnya!

Tragedi Estadio Nacional

Tragedi Estadio Nacional terjadi pada 1964. Kala itu, Timnas Peru tengah meladeni perlawanan Argentina di babak kualifikasi kedua Olimpiade Tokyo. Disaksikan oleh kurang lebih 53.000 penonton, duel antara kedua kesebelasan berlangsung sengit.

Argentina memimpin lebih dulu dengan 1–0 saat pertandingan waktu normal hanya tersisa dua menit. Peru secara ajaib mencetak gol penyeimbang. Namun sayang, angka tersebut dianulir oleh wasit Angel Eduardo Pazos–orang Uruguay yang dianggap condong ke Argentina.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Keputusan tersebut lantas membuat ribuan suporter Peru naik pitam. Seorang penonton bahkan turun ke lapangan untuk memukul wasit, diikuti dengan penggemar lain. Polisi lantas menyerang mereka secara brutal dengan tongkat dan anjing. Aparat keamanan juga sempat melepaskan tembakan gas air mata ke kerumunan. Alhasil, ribuan suporter berupaya melarikan diri dari stadion. Nahas, jalan keluar terkunci rapat. Gas air mata yang kian banyak memicu histeria massa dan menyebabkan kehancuran besar. Berikut adalah rincian data mengenai tragedi di Stadion Nasional Lima. Lokasi Kejadian: Estadio Nacional, Lima, Peru Waktu Kejadian: 24 Mei 1964 Jumlah Korban Tewas: 328 orang Pihak yang Dinyatakan Bersalah: Jorge Azambuja (komandan polisi yang memerintahkan penembakan gas air mata), Benjamin Castaneda (hakim yang menangani kasus) Sanksi: Azambuja dihukum 30 bulan penjara, Castaneda dikenai denda karena terlambat menyerahkan laporan

Halaman
Show All
Theresia Melinda Indrasari, Marco TampubolonTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan