Sukses

Ikut Terpukul, Kurniawan Dwi Yulianto Minta Tragedi Kanjuruhan Malang Disusut Tuntas

Liputan6.com, Jakarta Tragedi kematian suporter usai laga Arema vs Persebaya Surabaya di Kanjuruhan, Malang, menghadirkan luka yang mendalam bagi sepak bola Indonesia. Mantan pemain timnas Indonesia, Kurniawan Dwi Yulianto juga ikut terpukul atas kejadian yang terjadi Sabtu malam (1/10/2022) itu.

"Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya," ujar Kurniawan saat dihubungi Liputan6.com

Tidak hanya itu, jebolan timnas Primavera itu juga meminta kejadian tersebut diusut tuntas. Bukan hanya mencari pihak-pihak yang bertanggung jawab, tapi juga terkait solusi ke depannya. 

"Harus diusut tuntas," kata Kurniawan. 

"Tidak hanya carai cari penyebab dan kesalahannya saja, tapi harus ada solusi dan antisipasi ke depannya, karena faktor keselamatan semua pihak seharusnya jadi yang utama," kata Kurniawan menambahkan. 

Tragedi Kanjuruhan, Malang, terjadi setelah pertandingan lanjutan Liga 1 antara Arema melawan musuh bebuyutan, Persebaya. Dalam duel ini, Arema kalah dengan skor tipis 2-3. 

Kericuhan menyebabkan 127 orang meninggal dunia. Dua di antaranya diketahui adalah polisi. 

PSSI telah menyatakan bakal mengusut insiden ini. Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan atau akrab disapa Iwan Bule juga memutuskan untuk menghentikan kompetisi Liga 1 selama satu minggu. Selanjutnya, pihak PSSI juga bakal menurunkan tim untuk menginvestigasi kejadian tersebut.  

 

 

 

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.

2 dari 4 halaman

Bukan Bentrok Antarsuporter

Sementara itu, pemerintah menyampaikan kalau insiden Kanjuruhan bukan bentrok antara suporter Arema dan Persebaya. Hal ini seperti disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud Md. Dia menegaskan bahwa tragedi Kanjuruhan, Malang bukanlah peristiwa bentorkan antarsuporter. Sejauh ini, tercatat ada sebanyak 127 orang tewas dalam tragedi itu.

"Perlu saya tegaskan bahwa tragedi Kanjuruhan itu bukan bentrok antarsuporter Persebaya dengan Arema," tutur Mahfud kepada wartawan, Minggu (2/10/2022). 

Menurut Mahfud, suporter Persebaya memang tidak boleh ikut menonton di Stadion Kanjuruhan. Kata dia, yang ada di lapangan saat itu hanya pendukung Arema.

"Oleh sebab itu para korban pada umumnya meninggal karena desak-desakan, saling himpit, dan terinjak-injak, serta sesak napas. Tak ada korban pemukulan atau penganiayaan antarsuporter," kata Mahfud menegaskan.

Hal yang sama sebelumnya juga disampaikan oleh Kapolda Jatim Irjen Pol Nico Afinta. Dia mengungkapkan, pihaknya serta instansi terkait sudah melaksanakan rapat beberapa kali sebelum pertandingan digelar. Pertandingan ini disepakati hanya dihadiri oleh supporter dari Arema saja. Sedangkan suporter Persebaya, hanya menonton bareng (nobar) di wilayah masing-masing.

"Proses pertandingan tidak ada permasalahan hingga selesai," ujar Irjen Nico, Minggu (2/10/2022).

Permasalahan terjadi pada saat pertandingan telah selesai, lantaran ada rasa kekecewaan dari penonton yang melihat tim kesayangannya kalah.

"Selama 23 tahun bertanding (Arema) tidak pernah kalah namun pada malam ini kalah dengan Persebaya," ucap Irjen Nico.

3 dari 4 halaman

Kronologi Kejadian Versi Penonton

Jumlah korban tragedi Kanjuruhan, Malang, diperkirakan bakal meningkat. Sementara sejumlah suporter yang selamat dari insiden tersebut menjelaskan kronologi kejadian melalui akun media sosialnya. 

Salah satunya akun Twitter @RezqiWahyu_05. Menurutnya, dari awal masuk ke stadion semua berjalan aman dan tertib hingga kick off pukul 20.00 WIB. Laga pun berjalan aman tanpa kericuhan sedikit pun.

"Yang ada hanya suporter Arema saling melontarkan psywar ke arah pemain Persebaya," katanya.

Namun saat babak pertama jefda istirahat, ada sekitar dua atau tiga kali kericuhan sedikit di tribun 12-13. Kericuhan tersebut segera diamankan pihak berwenang.

Babak kedua berlanjut dan tim Persebaya berhasil mencetak golnya yang ketiga. Arema FC semakin tampil menyerang menggempur gawang Persebaya, tapi tidak ada gol yang tercipta.

"Semakin banyak serangan, semakin gemas juga kita sebagai suporter yang menontonnya," katanya.

Hingga peluit akhir dibunyikan, Arema tidak bisa menambah golnya, dan harus menerima kekalahan. Di sinilah awal mula tragedi, setelah peluit dibunyikan, para pemain Arema tertunduk lesu dan kecewa. Sementara pelatih Arema dan manager tim mendekati tribbun timur dan menunjukan gestur minta maaf ke suporter.

"Di sisi lain ada satu orang suporter yang dari arah tribun selatan nekat masuk dan mendekati Sergio Silva dan Maringa. Terlihat seperti memberi kritik dan motivasi kepada mereka," katanya.

Dari situ, masuk beberapa orang lagi ke lapangan meluapkan kekecewaan kepada pemain Arema. Terlihat John Alfarizie mencoba memberi pengertian kepada oknum-oknum suporter tesebut. Namun semakin banyak mereka yang berdatangan masuk, semakin ricuh stadion karena dari berbagai sisi stadion juga ikut masuk untuk meluapkan kekecewaannya ke pemain.

Hal itu diikuti dengan lempar-lempar berbagai macam benda ke arah lapangan, para suporter semakin tidak terkendali. Akhirnya para pemain digiring masuk ke dalam ruang ganti dengan pengawalan polisi.

"Setelah pemain masuk, suporter makin tidak terkendali dan makin banyak yang masuk ke lapangan," katanya.

Pihak aparat melakukan berbagai upaya untuk memukul mundur para suporter. "Menurut saya perlakuannya sangat kejam dan sadis, dipentung dengan tongkat panjang, satu suporter dikeroyok aparat, dihantam tameng dan banyak tindakan lainnya," tulis akun tersebut.

 

 

4 dari 4 halaman

Tembakan Gas Air Mata

Namun saat aparat memukul mundur, suporter lainnya dari arah selatan dan utara menyerang aparat. Makin banyak suporter yang masuk kondisi sudah tidak terkendali. Aparat alu menembakan beberapa kali gas air matake arah suporter yang ada di lapangan. Silih berganti suporter menyerang aparatdari sisi selatan dan utara.

"Yang akhirnya, selain hujan lemparan benda dari sisi tribun, di dalam lapangan juga terjadi aksi tembak-tembakan gas air mata ke arah suporter," katanya.

Terhitung puluhan gas air mata sudah ditembakan ke arah suporter, di setiap sudut lapangan telah dikelilingi asap gas air mata. "Ada juga yang langsung ditembakan ke arah suporter, yaitu di tribun 10," katanya. 

Penggunaan gas air mata dalam sepak bola sebenarnya telah dilarang oleh FIFA. Hal ini tertuang lewat aturan yang telah dibuat oleh otoritas tertinggai sepak bola tersebut. (simak beritanya di sini).

Irjen Nico juga membenarkan bila polisi menembakkan gas air mata saat kejadian tersebut. Menurutnya, langkah itu diambil setelah massa mulai menyerang para petugas. 

“Mereka pergi ke satu titik di pintu 12 kemudian ada penumpukan dan di sana (menyebabkan) kekuarngan oksigen, sesak napas. Tim medis di dalam stadion berupaya menolong,” ujar Nico.

Ia mengatakan, tidak semua dari total 42 ribu penonton yang memenuhi Stadion Kanjuruhan berbuat anarkis. Diperkirakan ada sekitar 3 ribu penonton yang merangsek masuk lapangan.

“Jadi kalau semua patuh aturan maka kami akan kerja baik,” ucapnya.

 

(Simak berita selengkapnya pada tautan ini)

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.