Bola Ganjil: Poros Ukraina di Balik Sukses Uni Soviet

Kesuksesan tim nasional kerap dibantu dominasi klub. Dynamo Kiev juga demikian untuk Uni Soviet.

Diterbitkan 19 April 2022, 00:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Timnas Spanyol meraup berbagai kesuksesan sepak bola pada satu dekade awal di abad ke-21. La Furia Roja berhasil memenangkan tiga turnamen beruntun.

Prestasi berawal di Piala Eropa 2008. Pada ajang bernama resmi Euro 2008 tersebut, Spanyol mengakhiri paceklik 44 tahun dengan memenangkan kompetisi di Austria-Swiss. Trofi Henri Delaunay diangkat usai menaklukkan Jerman pada laga puncak.

Titel kembali datang dua tahun berselang. Spanyol jadi juara Piala Dunia untuk pertama kali sepanjang sejarah usai melewati turnamen di Afrika Selatan. Kali ini mereka membungkam Belanda di final.

Negeri Matador menggenapi capaian di Euro 2012. Mereka kembali menggoreskan rekor setelah menghajar Italia pada partai pamungkas ajang di Polandia-Ukraina. Spanyol mencatatkan diri sebagai pionir penguasa Piala Eropa secara beruntun.

Kunci sukses Spanyol hanya satu: Barcelona. Mereka bertumpu pada pemain klub yang juga sedang mengarungi periode emas.

Kehadiran Carles Puyol di jantung pertahanan serta kombinasi Xavi Hernandez dan Andres Iniesta pada lini tengah membantu mereka mendominasi lawan.

Pengaruh Barcelona semakin kuat dengan kehadiran Sergio Busquets, Gerard Pique, Cesc Fabregas, Pedro Rodriguez, Víctor Valdes, hingga David Villa.

Sukses Spanyol sebenarnya bukan cerita baru. Sudah banyak negara meraih prestasi berkat pengaruh pemain satu klub tertentu. Jerman Barat contohnya, yang kerap mengandalkan penggawa Bayern Munchen.

Namun, ada satu nama yang dilupakan yakni peran Dynamo Kiev bagi Uni Soviet pada 1980-an.

 

Superioritas Dynamo Kiev

Berkat pendekatan sistematis Valeriy Lobanovskiy, Dynamo Kiev merajai pentas domestik dan internasional. Mereka mengungguli tim-tim pusat (Moskow) dan memenangkan Piala Winners dalam dua kesempatan.

Uni Soviet pun tergoda dan coba membonceng prestasi. Mereka menunjuk Lobanovskiy sebagai nakhoda.

Lobanovskiy sepakat dan mengajak anak asuhnya untuk membela timnas. Sayang kebijakannya terhalang kepentingan politis. Terlepas itu, Lobanovskiy masih bisa mendaftarkan 11 dari 20 anggota skuat untuk Piala Eropa 1988.

Dia merekrut Volodymyr Bessonov, Oleg Kuznetsov, Anatoliy Demyanenko, Vasiliy Rats, Gennadiy Litovchenko, Aleksandr Zavarov, Oleg Protasov, Igor Belanov, Alexei Mikhailichenko, Viktor Chanov, dan Sergei Baltacha untuk mengikuti turnamen di Jerman Barat.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Halaman
Show All
Harley Ikhsan, Marco TampubolonTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan