HEADLINE: Atlet Indonesia Lampaui Target di Paralimpiade Tokyo 2020, Rentetan Rekornya?

Indonesia menorehkan berbagai sejarah pada Paralimpiade Tokyo 2020, pesta olahraga terbesar bagi atlet disabilitas.

Diperbarui 18 September 2021, 11:46 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Paralimpiade Tokyo 2020 meninggalkan kesan mendalam bagi Indonesia. Bagaimana tidak, Kontingen Merah Putih menorehkan berbagai sejarah pada ajang disabilitas itu.

Indonesia membawa pulang 2 medali emas, 3 perak, dan 4 perunggu pada Paralimpiade Tokyo yang ditutup Minggu 5 September 2021. Torehan tersebut menempatkan Tanah Air di posisi ke-43 klasemen perolehan medali.

Hasil ini melesat jauh dibanding edisi sebelumnya. Pada Rio 2016, Indonesia hanya finis di peringkat ke-76 lewat torehan 1 perunggu.

“Saya mewakili seluruh masyarakat Indonesia, seluruh rakyat Indonesia, mengucapkan selamat untuk medali emas cabang para bulu tangkis. Ini kabar yang sangat menggembirakan, sangat membanggakan kita semuanya. Selamat semuanya. Saya tunggu nanti di Istana,” kata Presiden Joko Widodo saat menghubungi atlet peraih emas Paralimpiade 2020 melalui video call.

Rangkaian Rekor

Prestasi Indonesia tercapai berkat rangkaian rekor. Salah satunya dengan merebut perak pertama dalam 33 tahun. Adalah Ni Nengah Widiasih yang melakukannya.

Kini ada 2 atlet yang merebut medali Paralimpiade di edisi berbeda. Selain perak Tokyo 2020, Widi membawa pulang perunggu di Rio 2016. Sementara David Jacobs memetik perunggu London 2012 dan Tokyo 2020.

Saptoyoga Purnomo kemudian mempersembahkan medali pertama Indonesia dari atletik setelah menunggu 45 tahun. Dia merebut perunggu di nomor 100m T37.

Puncaknya adalah raihan emas pertama usai paceklik 41 tahun. Ganda putri Leani Ratri Oktila/Khalimatus Sadiyah memastikan itu dengan menempati podium pertama badminton kategori SL3-SU5.

Selain yang sudah disebut, peraih medali Indonesia lain di Paralimpiade 2020 adalah Hary Susanto, Dheva Anrimusthi, Suryo Nugroho, dan Fredy Setiawan.

Apresiasi Menanti

Sebanyak 23 atlet mewakili Indonesia di Paralimpiade Tokyo. Dengan raihan 2 emas, 3 perak, dan 4 perunggu, Tanah Air menempati peringkat 43 klasemen akhir.

Indonesia menjadi negara Asia Tenggara terbaik ketiga setelah Thailand (5 emas, 5 perak, 8 perunggu) dan Malaysia (3-2-0). Sementara Tiongkok jadi juara umum (96-60-51). Jumlah medali emas Negeri Tirai Bambu lebih dari dua kali lipat penghuni runner-up Inggris Raya (41-38-45).

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Apresiasi kini menunggu para pahlawan bangsa. Pemerintah memastikan hadiah sudah menanti. Nilainya dipastikan tidak kurang dari yang diterima atlet Olimpiade Tokyo 2020. Sebagai gambaran, peraih emas mendapat Rp 5,5 miliar, perak Rp 2,5 miliar, dan perunggu Rp 1,5 miliar. Bonus juga diberikan kepada pelatih atlet berprestasi. Pelatih yang anak asuhnya merebut emas menerima Rp 2,5 miliar, perak Rp 1 miliar, dan perunggu Rp 600 juta. Sementara atlet dan pelatih yang berpartisipasi di Olimpiade menerima Rp 100 juta. "Kita minta arahan Pak Presiden dulu karena seperti yang lalu beliau memberikan arahan, lebihkan misalnya, atau sama. Jadi saya akan melapor dulu ke Bapak Presiden. Tapi yang pasti minimal sama dengan peraih medali di Olimpiade. Kita harus memberikan apresiasi terhadap prestasi yang disumbangkan anak bangsa, siapa pun dia," ungkap Menteri Pemuda dan Olahraga Zainudin Amali.

Halaman
Show All
Fitri Syarifah, Harley Ikhsan, Shinta NM SinagaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan