HEADLINE: Atlet Indonesia Lampaui Target di Paralimpiade Tokyo 2020, Rentetan Rekornya?

Indonesia menorehkan berbagai sejarah pada Paralimpiade Tokyo 2020, pesta olahraga terbesar bagi atlet disabilitas.

Diperbarui 18 September 2021, 11:46 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Apresiasi kini menunggu para pahlawan bangsa. Pemerintah memastikan hadiah sudah menanti. Nilainya dipastikan tidak kurang dari yang diterima atlet Olimpiade Tokyo 2020.

Sebagai gambaran, peraih emas mendapat Rp 5,5 miliar, perak Rp 2,5 miliar, dan perunggu Rp 1,5 miliar. Bonus juga diberikan kepada pelatih atlet berprestasi. Pelatih yang anak asuhnya merebut emas menerima Rp 2,5 miliar, perak Rp 1 miliar, dan perunggu Rp 600 juta. Sementara atlet dan pelatih yang berpartisipasi di Olimpiade menerima Rp 100 juta.

"Kita minta arahan Pak Presiden dulu karena seperti yang lalu beliau memberikan arahan, lebihkan misalnya, atau sama. Jadi saya akan melapor dulu ke Bapak Presiden. Tapi yang pasti minimal sama dengan peraih medali di Olimpiade. Kita harus memberikan apresiasi terhadap prestasi yang disumbangkan anak bangsa, siapa pun dia," ungkap Menteri Pemuda dan Olahraga Zainudin Amali.

Melebihi Batas

Tantangan bagi Indonesia adalah mempertahankan atau meningkatkan capaian pada ajang berikutnya di Paris 2024. Staf Khusus Presiden Angkie Yudistia yakin atlet Tanah Air bisa melakukannya setelah berkompetisi dengan andalan negara lain di Tokyo.

“Ini sangat membanggakan. Jumlah medali kita di Paralimpiade semakin meningkat setelah Olimpiade. Ini menunjukkan atlet-atlet disabilitas Indonesia memiliki kemampuan untuk berkontribusi serta membanggakan negara dengan cara-cara yang luar biasa hebat,” ujarnya dilansir Kanal Disabilitas Liputan6.com.

Lebih lanjut, Angkie menilai Paralimpiade Tokyo 2020 sebagai momentum positif masa depan atlet-atlet disabilitas. Paralimpiade juga menunjukkan kepada masyarakat bagaimana difabel mampu menembus batas dalam keterbatasan.

"Saya sebagai disabilitas sangat optimistis, ini menjadi momentum positif cerahnya masa depan atlet-atlet disabilitas untuk terus berprestasi di setiap cabang olahraga, tentu dengan pembinaan yang baik dan konsisten," katanya.

"NPC bisa melibatkan banyak pihak, dan saya sebagai Staf Khusus Presiden dan penyandang disabilitas sangat terbuka untuk berkolaborasi bersama dalam melakukan pembinaan bagi atlet-atlet disabilitas agar terus berkembang," sambung Angkie.

Jaring Atlet

Pengurus pun berjanji tidak lekas puas. Komite Paralimpiade Indonesia (NPC) berniat menjaring lebih banyak atlet dari berbagai macam cabang olahraga (cabor).

Selain 7 cabor yang diikuti di Tokyo (powerlifting, atletik, renang, badminton, menembak, tenis meja, balap sepeda), NPC ingin ada tambahan 2 yakni boccia dan panahan. Untuk itu, NPC akan mengirim lebih banyak atlet untuk mengikuti kualifikasi menuju Paralimpiade 2024.

“Dalam desain besar olah raga nasional, NPC telah membuat road map olahraga nasional hingga 2045. NPC mencanangkan masuk urutan 10 besar pada 2045. Untuk mencapai target itu, kita harus melakukan pembinaan secara berkesinambungan,” jelas Wakil Sekretaris Jenderal NPC Indonesia Rima Ferdianto.

“Tahun ini target kita telah terlampaui. Sementara untuk 2024, kita menargetkan tiga medali emas serta lebih banyak cabang olahraga lagi yang tampil di Paris nanti,” pungkasnya.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Fitri Syarifah, Harley Ikhsan, Shinta NM SinagaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan