Bola Ganjil: Filosofi Cacat Los Galacticos Real Madrid

Kebijakan Los Galacticos Real Madrid tidak sepenuhnya sempurna. Simak kisah kegagalan penerapan filosofi ini pada 1958.

Diterbitkan 11 November 2020, 00:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Pemain baru Real Madrid harus menyesuaikan diri dengan Di Stefano jika mau bertahan lama. Pengaruhnya sangat kuat mengingat kontribusi bagi klub serta statusnya sebagai pemain senior.

Tidak semua bisa menghadapi kondisi ini. Puskas dan Kopa pun kesulitan pada awal karier sebagai penggawa Los Blancos. Terlebih mereka merupakan pusat permainan di klub sebelumnya.

Pada akhirnya Puskas dan Kopa beradaptasi. Mereka terima jadi pendukung Di Stefano dan bersama-sama mereka bersinar.

Didi tidak tidak mau atau tidak bisa melakukannya. Setelah 19 penampilan Didi bersama tim, manajemen klub akhirnya sadar tersebut. Mereka lalu meminjamkannya ke Valencia.

Di sana Didi terbebas dari kekangan dan langsung bersinar menjadi sumber kreativitas tim. Valencia pun berusaha membelinya secara permanen.

Namun, Real Madrid hanya mau melepas ke klub Didi sebelumnya, Botafogo. Tidak masalah, Didi terus cemerlang di kampung halaman dan kembali jadi pilar saat Brasil mempertahankan gelar di Piala Dunia 1962.

Setali Tiga Uang

Kasus Simonsson kurang lebih sama. Karena Didi mengisi slot pemain asing, Real Madrid baru bisa mendatangkannya secara resmi pada 1960. Sembari menunggu, dia bersinar bersama Orgryte untuk memenangkan gelar pesepak bola dan atlet terbaik Swedia 1959.

Simonsson juga merasakan masalah serupa seperti Didi. Semula dia diharapkan jadi ujung tombak tim dengan Di Stefano bermain sedikit lebih ke belakang untuk mengurangi beban kakinya yang semakin menua.

Namun taktik ini tidak berhasil. Simonsson hanya membela Real Madrid tiga kali sebelum dipinjamkan ke Real Sociedad. Pada 1963, dia mengikuti jejak Didi dengan kembali ke Orgryte.

Terulang pada 2014

Dengan total hanya 22 penampilan, kasus Didi dan Simonsson semestinya jadi pelajaran bagi Real Madrid. Nyatanya, mereka mengulang kesalahan serupa 56 tahun berselang.

Los Blancos merekrut dua bintang dari Piala Dunia, yakni James Rodriguez dan Toni Kroos, tanpa memperhitungkan kebutuhan tim. Klub hanya bertindak memanfaatkan popularitas pemain yang bersinar di turnamen.

Hasilnya hampir sama. Kroos boleh cemerlang karena Real Madrid baru saja kehilangan Xabi Alonso. Namun, Rodriguez kesulitan maksilam dalam tim yang sudah punya Cristiano Ronaldo, Gareth Bale, dan Isco Alarcon.

Sempat dititipkan ke Bayern Munchen, Rodriguez akhirnya dilepas gratis ke Everton musim panas lalu.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Harley Ikhsan, Marco TampubolonTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan