Bola Ganjil: Saint-Etienne dan Gawang Persegi Hampden Park

Saint-Etienne bisa jadi juara Eropa pada 1976 jika bukan karena gawang persegi.

Diterbitkan 07 September 2020, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kekalahan Paris Saint-Germain (PSG) di final Liga Champions 2019/2020 mengandaskan mimpi Prancis untuk kembali menguasai Eropa. Sejauh ini satu-satunya gelar dipersembahkan Olympique Marseille pada 1992/1993.

Rapor buruk klub Negeri Anggur di kompetisi utama antarklub Eropa sebenarnya bukan cerita aneh. Mereka jarang bicara banyak sejak kompetisi dimulai dengan nama Piala Champions.

Salah satu kisah menarik di balik kegagalan itu melibatkan Saint-Etienne. Ironinya, Les Verts dengan bangga mengenang peristiwa menyakitkan yang mereka alami.

Caranya dengan membeli tiang gawang Hampden Park untuk dipajang di museum klub. Saint-Etienne menyetor 20 ribu euro dari Museum Sepak Bola Skotlandia pada 2013 demi memilikinya.

Gawang itu dipakai di Hampden Park pada periode 1903 hingga 1987 sebelum dipensiunkan karena peraturan FIFA.

"Benda ini adalah simbol dari final 1976, laga yang menciptakan hubungan emosional antara masyarakat Prancis dan Saint-Etienne," kata Roland Romeyer, presiden klub ketika itu, dikutip BBC.

Saksikan Video Saint-Etienne Berikut Ini

Periode Emas Saint-Etienne

Prancis hanya bisa iri menyaksikan negara tetangga bangga atas prestasi memenangkan Piala Champions. Capaian terbaik atas nama mereka hanyalah masuk final 1956 dan 1959 melalui Stade Reims.

Sampai Saint-Etienne muncul dan jadi harapan terbesar pada 1970-an. Setelah jadi juara Prancis dua kali, mereka mengukuhkan dominasi dengan berkuasa empat musim beruntun pada 1967-1970.

Saint-Etienne kemudian sempat mengalami periode kekeringan. Sampai akhirnya keputusan presiden Roger Rocher menunjuk legenda klub Robert Herbin sebagai pelatih menjadi titik balik.

Perlahan Herbin mengembalikan kebesaran Saint-Etienne dengan mengombinasikan skuat. Pemain berpengalaman seperti Revelli bersaudara, Patrick dan Herve, serta kapten Jean-Michel Larque diminta mendidik talenta muda berbakat seperti Christian Sarramagna, Dominique Rocheteau, Christian Lopez, Gerard Janvion, dan Dominique Bathenay. Komposisi skuat ini berbuah gelar liga pada 1974-1976.

Perkasa di domestik, Herbin mulai memoles Saint-Etienne untuk bicara lebih banyak di Eropa. Kesan positif pertama muncul di musim 1974/1975. Mereka sukses membalikkan ketertinggalan 1-4 dari wakil Yugoslavia Hajduk Split dan unggul 5-1 pada babak kedua.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Saint-Etienne kembali melakukan comeback pada putaran selanjutnya melawan Ruch Chorzow asal Polandia. Tumbang 2-3 di partai pembuka, mereka lalu berjaya 2-0 demi mencapai semifinal. Sayang Saint-Etienne terhenti di sana. Les Verts mesti mengakui keunggulan juara bertahan Bayern Munchen dengan agregat 0-2.

Halaman
Show All
Harley Ikhsan, Marco TampubolonTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan