Virus Corona Bermutasi, Vaksin Covid-19 Masih Efektif?

Patutkah kita cemas menghadapi mutasi terbaru virus Corona yang sebelumnya sudah membuat dunia kelimpungan?

Diterbitkan 20 Juni 2020, 10:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

"Kembali lagi ke pertanyaan, vaksin Covid-19 nanti kira-kira ampuh enggak? So far, selama enggak ada mutasi yang berarti ya enggak ada masalah. Adanya variasi SARS-CoV-2 juga belum dilaporkan menemukan suatu kekhawatiran terhadap pengembangan vaksin Covid-19."

Dalam hal ini, variasi virus Corona yang dilaporkan, belum ada satupun yang menunjukkan bisa memengaruhi efek jenis vaksin yang akan dikembangkan. Terkait dampak variasi SARS-CoV-2 terhadap penyakit, hingga saat ini belum ada data yang jelas.

"Kita sudah ada data genom, tapi tidak ditautkan dengan data pasien. Untuk mengetahui, seberapa makin parah atau ganas virus, ya harus tahu dong, virus dengan sequence ini berkaitan (dengan) gejala pasien seperti apa. Selama ini, data di GISAID hanya sequence genom saja," lanjut Ahmad.

"Tidak ada laporan variasi sequence genom tertentu yang mana membuat pasien kondisinya lemah, parah, berat, kritis, dan meninggal. Yang mana itu (genom) kita enggak tahu. Lalu dari variasi sequence genom, pasien mana saja yang diabetes, hipertensi, dan penyakit komorbid lain juga enggak tercatat. Secara keseluruhan, pola mutasi (variasi) yang ada, belum ada bukti genom mana yang lebih berbahaya dan bikin gejala parah."

Beda dari SARS-CoV Terdahulu

Yang menjadi salah satu fokus ilmuwan, SARS-CoV-2 ini berbeda dari genom sebelumnya. SARS-CoV-2 punya kemampuan menyembunyikan diri sampai mendekat ke sel target.

"Secara genom pun berbeda jauh. Beda 20 persen. Ibarat kata kita berbicara spesies yang berbeda sama sekali. SARS-CoV-2 punya intensitas ikatan virus kepada sel manusia jauh lebih kuat. Ikatannya 10 kali lipat lebih kuat. Kalau bicara lem, dia mengikatnya lebih kencang dan enggak gampang lepas," Ahmad menjelaskan.

"Yang menarik juga, dia enggak hanya bisa mengikat dengan kuat. SARS-CoV-2 itu pintar menyelinap. Ada protein di bagian tanduk. Tanduk inilah yang mengikat AC2 reseptor sel manusia. Titik ikatan dengan protein tanduk pun enggak gampang dikenali sistem imun. Lebih susah dideteksi sel imun."

Ahmad menggambarkan, seandainya SARS-CoV dan SARS-CoV-2 menginfeksi orang yang sama, maka daya tahan tubuh lebih cepat mengenali yang Sars-CoV. Lebih susah mengenali Sars-CoV-2 karena tonjolan 'tanduk' yang berperan sebagai pintu masuk ke sel manusia masih disembunyikan oleh Sars-CoV-2.

"Dia mengeluarkan taring ketika sudah mendekati target. Masalahnya target ini kan punya banyak enzim, begitu enzim mendekat, dia secara enggak sengaja akan mengaktifkan tonjolan tanduk pada virus. Yang tadinya kelihatan (terdeteksi) menjadi kelihatan," terang Ahmad.

"Artinya, sudah dekat untuk menginfeksi. SARS-CoV-2 secara keseluruhan punya kemampuan jauh lebih cepat dan susah dikenali. Makanya, masa inkubasinya lama."

Variasi Virus dan Gejala Klinis

SARS-CoV-2 memang susah dideteksi sistem imun. Sistem imun tidak mudah melihat dari awal kehadiran SARS-CoV-2. Masa inkubasi lebih lama, sehingga orang menampakkan gejala cukup lama. Berbeda dengan SARS-CoV, ketika seseorang terinfeksi, beberapa hari kelihatan gejala.

"Variasi genom ada sekitar 20.000, kita masih belum mengetahui variasi mana yang berkorelasi dengan gejala ringan, sedang, dan berat. Sebagian penelitian di luar negeri ada yang mengklaim, varian SARS-CoV-2 tertentu berkorelasi pada tingkat keparahan. Tapi mereka penelitiannya dengan jumlah pasien terbatas dan fokus pada modelling," Ahmad menjelaskan.

"Untuk mengetahui dampak mutasi, misalnya, apakah pengikatan virus lebih kuat atau ringan, kita juga harus mengumpulkan data pasien. Kita sudah ada 13 genom virus, sementara kasus Covid-19 di Indonesia sudah 40.000 lebih. Kalau kita mau studi variasi SARS-CoV-2 berpengaruh pada gejala klinis pasien, ya harus men-sequence genom 40.000-an dari kasus Covid-19 itu."

Di sisi lain, Ahmad menyebut, penyebab kematian pasien SARS-CoV-2 banyak terjadi akibat penggumpalan darah pada paru-paru. "Pembuluh darah paru-paru itu tipis sekali. Bila ada sumbatan darah, pertukaran oksigen tidak berjalan lancar. Kondisi ini terjadi secara masif."

"Dampaknya hanya pada pasien Covid-19 yang kritis. Terjadi inflamasi terjadi penggumpalan darah serta akibat efek badai sitokin," tutup Ahmad.

Badai sitokin merupakan kondisi tubuh mengalami infeksi dan peradangan akibat serangan virus Corona. Virus tersebut menginfeksi sel-sel tubuh yang sehat, yang mengakibatkan kerusakan organ.

 

Disadur dari: Kanal Health Liputan6.com (Penulis: Fitri Haryanti Harsono, Editor: Fitri Syarifah, published 19/6/2020)

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Liputan6.com, Harley IkhsanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan