Pembuktian Maman Abdurrahman: Sukses di Usia Muda dan Tua

Saat masih berusia 24 tahun, Maman Abdurrahman sudah didaulat sebagai pemain terbaik Liga Indonesia.

Diterbitkan 16 Mei 2020, 17:50 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

"Saya kaget melihat pemberitaan, tiba tiba Instagram saya ramai, saya difitnah. Saya yakin, seperti penjelasan awal, sehubungan dengan opini yang berkembang setelah tayangan Mata Najwa, saya hanya bilang dengan opini yang berkembang di media sosial, saya banyak diserang."

"Saya harus akui saya melakukan kesalahan secara teknis, bahasanya blunder tapi tidak ada unsur apapun. Waktu itu Alfred Riedl setelah laga bilang, seingat saya, setiap pemain bisa saja melakukan kesalahan. Saya akui saya blunder, secara teknis. Tapi tuduhan suap itu tidak benar. Demi Allah," ucap Maman.

Momok Cedera dan Serasa Hidup Kembali bersama Persija

Nama Maman sempat menghilang dari peredaran setelah meninggalkan Persib untuk bergabung dengan Sriwijaya FC pada 2014. Ia mengalami cedera ligamen ketika bermain di turnamen pramusim.

Cedera tersebut membuat kontrak Maman diputus Sriwijaya FC sesaat sebelum kompetisi 2014 dimulai. Menurutnya cedera itu lumayan membuatnya frustrasi. Akhirnya ia memutuskan untuk vakum dulu, dan selama waktu itu sang pemain fokus dengan penyembuhan kaki.

"Ikut terapi, pengondisian, dan juga banyak habiskan waktu di gym. Waktu itu saya sampai memilih untuk tidak mau tahu soal sepak bola Indonesia karena saking frustrasinya. Selama setahun itu saya nggak tahu apa-apa soal sepak bola Indonesia," ucap Maman pada Juli 2016 dinukil dari Pandit Football.

"Akhirnya kaki saya sembuh. Kemudian dapat telepon dari Om Bambang Nurdiansyah. Beliau mengajak saya untuk bergabung ke Persita. Awalnya manajemen Persita juga ragu mau ambil saya, sebab saya sudah senior dan juga baru sembuh dari cedera. Tapi Alhamdulillah akhirnya mereka memberikan kepercayaan sama saya dan mengontrak saya," tutur Maman.

Di tangan Banur, panggilan Bambang Nurdiansyah, Maman bak hidup kembali. Setelah melewati masa-masa mengerikan bernama cedera, ia mulai rutin bermain reguler.

Banur pula yang membawa Maman ke Persija Jakarta pada akhir 2015. Ketika itu, Banur dipilih untuk menangani tim ibu kota di turnamen Piala Jenderal Sudirman. Perekrutan Maman saat itu dikritik oleh sejumlah pihak. Pasalnya, usianya telah terbilang gaek untuk seorang bek, 33 tahun.

Namun, Maman berhasil menjawab keraguan tersebut dengan penampilannya di atas lapangan. Hingga 2018 atau usianya 36 tahun, ia mampu mengunci posisi starter. Bahkan di tahun yang sama, Maman berhasil meraih trofi Liga Indonesia untuk pertama kalinya.

Terus digerus usia, Maman harus merelakan posisi utama pada 2019. Ia mulai kalah bersaing dari bek yang lebih muda, Ryuji Utomo. Namun, tenaga Maman tetap terpakai. Sempat tidak diperpanjang untuk musim ini, Persija menganulir keputusan tersebut untuk kembali mengikatnya pada tahun ini.

Empat musim terakhir bersama Persija, Maman mencatatkan jumlah penampilan yang fantastis. Saat usianya makin gaek sebagai seorang bek, ia masih mampu mengukir 72 laga bersama tim berjulukan Macan Kemayoran tersebut.

Disadur dari Bola.com (Muhammad Adiyaksa / Hendry Wibowo)

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Muhammad Adi Yaksa, Jonathan Pandapotan Purba, Hendry WibowoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan