Marak Dipakai Saat Pandemi Virus Corona Covid-19, Berikut 3 Bahaya Disinfektan untuk Kesehatan

Pemakaian disinfektan diharapkan bisa memutus rantai penyebaran dan penularan virus corona covid-19.

Diterbitkan 07 April 2020, 21:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Jakarta - Penggunaan disinfektan semakin meningkat saat pandemi virus corona covid-19. Pemakaian disinfektan diharapkan bisa memutus rantai penyebaran dan penularan COVID-19.

Intensitas penggunaannya pun sedang digalakkan diseluruh wilayah, baik oleh pemerintah maupun masyarakat biasa. Kebutuhan masyarakat yang tinggi akan disinfektan, membuat banyak orang berlomba-lomba membuat cairan disinfektan sendiri guna membunuh virus corona covid-19 yang diduga dapat hidup dan bertahan selama beberapa hari pada permukaan benda.

Selain itu, penyemprotan disinfektan pun dilakukan di sejumlah tempat yang memiliki intensitas tinggi terhadap kontak dan interaksi publik seperti fasilitas umum, wilayah perkantoran, hingga pemukiman warga. Namun, penggunaan disinfektan juga memiliki bahaya yang tidak disadari banyak orang.

Penyemprotan dan penggunaan disinfektan yang tidak benar justru malah membahayakan, misalnya disemprotkan secara langsung ke tubuh manusia. Senyawa yang terkandung didalamnya memiliki dampak buruk terhadap kesehatan, apabila bersentuhan langsung dengan kulit dan wajah.

Pada artikel kali ini, Fimela.com akan membahas tiga bahaya disinfektan bagi kesehatan. Tentunya informasi ini sangat penting untuk kamu agar tidak salah kaprah dalam menggunakan cairan ini. Berikut ini adalah tiga bahaya disinfektan.

**Ayo berdonasi untuk perlengkapan medis tenaga kesehatan melawan Virus Corona COVID-19 dengan klik tautan ini.

Mengandung Senyawa dengan Kadar Tinggi

Disinfektan memiliki kandungan senyawa yang beragam diantaranya adalah senyawa chlorin, hydrogen peroksida, creosote, aldehid, quaternary ammonium compunds (quats), idiofor, dan alkohol. Cairan ini juga diketahui memiliki kandungan senyawa yang disebut dengan biosida dan memiliki kadar yang cukup tinggi.

Dikutip dari Klikdokter bahwa formula untuk membuat cairan disinfektan harus terdaftar pada badan EPA (Environmental Protection Agency). Hal tersebut diperlukan mengingat senyawa yang diformulasikan dalam cairan disinfektan bekerja dengan cara merusak sel tubuh kuman, virus, dan bakteri.

Maka dari itu, cairan ini akan lebih efektif jika digunakan dan diaplikasikan pada permukaan benda-benda yang ada disekitar terutama pada benda yang sering digunakan. Contoh benda yang sering digunakan ialah gagang pintu, toilet, meja, kursi, dan lain sebagainya asal tidak langsung disemprotkan ke tubuh manusia.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Pada halaman sebelumnya, kita sudah membahas disinfektan memiliki beragam kandungan senyawa. Bahaya disinfektan yang kedua adalah disinyalir dapat menyebabkan gangguan pernapasan, akibat senyawa yang ada didalamnya apabila terhirup. Tubuh manusia akan merespons hal tersebut, apabila terjadi dalam jangka waktu yang pendek dengan mengeluarkan zat beracun tersebut melalui sistem metabolisme tubuh. Akan tetapi, jika tindakan itu terjadi dalam jangka panjang maka dapat menurunkan sistem pertahanan tubuh. Hal ini tentunya dapat menimbulkan gangguan kesehatan pada sistem pernapasan, karena cairan disinfektan memiliki posibilitas tinggi terhirup secara tidak sengaja ketika disemprotkan secara langsung pada tubuh manusia. Merujuk pada bahaya tersebut, lebih baik hindari penyemprotan cairan disinfektan secara berulang-ulang untuk menghilangkan dan mematikan virus corona. Cukup dengan mencuci tangan untuk menangkal penyebaran virus secara rutin pada waktu-waktu yang penting. Dengan melakukan metode mencuci tangan secara benar dan tepat, kamu sudah dapat mengoptimalkan tindakan pencegahan dan meminimalisir gangguan kesehatan lain yang bisa disebabkan karena penggunaan disinfektan yang tidak benar atau berlebihan.

Halaman
Show All
Liputan6.com, Adyaksa VidiTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan