Jejak Pemain Asing di Liga Indonesia: Dari Fandi Ahmad Hingga Marko Simic

Sejarah persebaran pemain asing di Liga Indonesia.

Diterbitkan 03 April 2020, 21:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Jakarta - Kehadiran pemain asing di persepakbolaan Indonesia tak dipungkiri menjadi magnet tersendiri buat penikmatnya. Meski tak jarang gatot alias gagal total, klub-klub Liga Indonesia tetap menjadikan legiun asing sebagai aset dalam mengarungi kerasnya roda kompetisi.

Operator liga juga membuka keran lebar-lebar buat klub memiliki pemain asing. Pada Shopee Liga 1 2020, setiap tim diperbolehkan 'mengoleksi' paling banyak empat pemain asing. Dengan catatan, satu di antaranya harus berpaspor Asia.

Bak gayung bersambut, banyak agen pemain yang menilai Indonesia adalah negara yang tepat buat kliennya mengadu nasib. Eropa, Afrika, dan Asia menjadi benua favorit buat klub Liga Indonesia melempar jala seluas-luasnya.

Singapura menjadi salah satu negara pertama yang menyumbangkan pemain asing pertama di Liga Indonesia. Tak cuma satu, tapi dua pemain sekaligus, yakni Fandi Ahmad dan David Lee.

Pada 1980-an, sepak bola Indonesia memang tidak memiliki aturan yang jelas terkait keberadaan pemain asing. Baru pada Liga Indonesia (Ligina) edisi pertama tahun 1994, ada peraturan resmi mengenai hal ini.

Nama Fandi Ahmad memang cukup fenomenal di Singapura pada periode 1980-an. Ia merupakan pahlawan Timnas Singapura dan bisa dibilang devisa buat Asia Tenggara di dunia sepak bola internasional.

Fandi Ahmad resmi bergabung dengan Niac Mitra, klub Galatama dengan nilai kurs saat ini mencapai sekitar Rp 1 miliar. David Lee, berposisi sebagai penjaga gawang, memang tidak semahal Fandi, namun tetap angkanya cukup fantastis bila dibandingkan dengan rata-rata bayaran pesepak bola kala itu.

Keberadaan Fandi Ahmad seakan menjadi pembuka gerbang buat pemain asing untuk meneruskan karier di Tanah Air. Setelah itu, gelombang pemain asing terus membanjiri Liga Indonesia, bahkan mantan bintang Piala Dunia juga tertarik.

Mario Kempes, Roger Milla, Dejan Gluscevic: Lambang Supremasi Tiga Benua di Indonesia

Ketika Timnas Kamerun menciptakan sensasi dengan menembus perempat final Piala Dunia 1990, sosok Roger Milla jadi aktor utama di balik kesuksesan itu.

Siapa sangka usai membela Kamerun di Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat, Milla merumput di Liga Indonesia dengan bergabung membela Pelita Jaya. Di klub milik pengusaha Nirwan Dermawan Bakrie, Milla hanya bermain satu musim pada 1994-1995.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Penampilannya cukup lumayan dengan menciptakan 23 gol dari 23 pertandingan. Di tahun 1996, Milla memutuskan hengkang dari Pelita Jaya untuk selanjutnya berlabuh di Putra Samarinda. Saat membela Putra Samarinda, Milla berhasil menciptakan 18 gol dari 12 pertandingan. Mantan bintang timnas Argentina di Piala Dunia 1978, Mario Kempes, juga pernah berlaga di Liga Indonesia, tepatnya bersama Pelita Jaya pada tahun 1999. Saat datang ke Indonesia usianya yang tak lagi muda (Kempes kelahiran 15 Juli 1954). Striker andalan Albiceleste yang menyabet gelar Piala Dunia 1978 sekaligus jadi top scorer turnamen menyumbang 10 gol di 15 pertandingan yang dilakoni bersama Pelita. Produktivitas yang terhitung lumayan karena saat berkiprah di Liga Indonesia terlihat kalau badan Kempes sudah tampak tambun. Dari benua Eropa, ada juga beberapa pemain yang pernah berlaga di Piala Dunia. Ivan Bosnjak misalnya, pernah berseragam Persija Jakarta. Bosnjak merupakan striker Timnas Kroasia pada Piala Dunia 2006. Namun, sosok Dejan Gluscevic (Yugoslavia/Montenegro) bisa jadi merupakan pemain Eropa paling sukses di Liga Indonesia, setidaknya hingga kini. Nama Dejan Gluscevic langsung menjadi buah bibir publik sepak bola nasional saat keran pemain asing dibuka pada Liga Indonesia 1994-1995. Bermain membawa bendera Pelita Jaya, sosok asal Serbia ini mampu merebut hati suporter. Produktivitasnya yang di atas rata-rata membuat Pelita Jaya jadi magnet penonton. Konsistensinya dalam menjebol gawang lawan mencapai puncaknya saat bermain di Mastrans Bandung Raya (MBR). Memperkuat klub asal Bandung itu, Dejan berhasil mencetak 30 gol dari 33 laga dan mengantarkan MBR meraih gelar juara Liga Indonesia 1995-1996. Gluscevic pernah membawa Timnas Vanuatu U-20 berbicara banyak di Piala Dunia U-20. Pada 2019 kemarin, ia sempat digosipkan bakal diboyong manajemen Persija Jakarta, namun akhirnya Macan Kemayoran memilih mengangkut Edson Tavares.

Halaman
Show All
Gregah Nurikhsani, Jonathan Pandapotan PurbaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan