One Championship: Membedah Teknik Bodyslam dalam Seni Bela Diri Campuran

Dua atlet muda One Championship, Aziz “The Krauser” Calim dan Putri “Ami” Padmi, berbagi pengalaman mereka tentang teknik ini.

Diterbitkan 27 Maret 2020, 15:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Seni bela diri campuran memang memadukan berbagai seni bela diri klasik maupun konvensional; sehingga menjadikannya ajang yang apik bagi para penonton untuk menyaksikan petarung-petarung luar biasa dengan penguasaan lintas disiplin.

Salah satu teknik serang dalam laga di atas ring adalah bodyslam atau bantingan. Walau tidak secara umum diterima publik bela diri karena sering dianggap terlalu membahayakan atlet, namun penerapan bodyslam dengan teknik tepat bisa jadi andalan maupun bencana bagi seorang petarung.

Dua atlet muda One Championship, Aziz “The Krauser” Calim dan Putri “Ami” Padmi, berbagi pengalaman mereka tentang teknik ini baik sebagai penyerang maupun sebagai objek bantingan lawan.

Aziz, atlet kelahiran Jeddah yang kini menetap di Solo, Jawa Tengah ini menjabarkan peran bodyslam dalam sebuah laga. Meski mengakui hal itu jarang ia terapkan, atlet berusia 22 tahun ini mengakui keefektifan gerakan tersebut.

“Kalau mau bodyslam ke lawan itu ada pertimbangan variasi berbagai posisi. Seperti misalnya dari clinch lalu lawan kita jumping close guard, atau dari posisi triangle dan armbar ke lawan maka kita bisa terapkan slam,” kata Aziz dalam rilis yang diterima Liputan6.com.

“Saya malah lebih sering pakai bantingan seperti suplex dari belakang; kita angkat lawan sedikit pakai pinggul lalu buang ke sisi samping lawan. Teknik throws juga banyak saya gunakan di pertandingan, lebih sering daripada body slam,” lanjut atlet yang berangkat dari Shotokan Karate.

 

Menu Wajib Saat Latihan

Menurut Aziz, menguasai teknik bodyslam merupakan hal yang wajib bagi petarung, namun intensitas latihannya akan tergantung pada game plan serta lawan yang akan dihadapi.

“Kalau body slam sebagai bagian integral dari game plan sih pastinya ada,” tutur atlet yang bernaung di bawah Han Academy ini.

>Dalam kondisi defensif, ada beberapa hal yang bisa seorang atlet lakukan untuk mencegah lawannya melancarkan bantingan. Salah satu diantaranya adalah dengan tidak membiarkan lawan berada dalam posisi ideal.

“Ada beberapa posisi yang bisa kita slam. Misalnya saya yang lakukan triangle dan saya prediksi lawan akan melakukan body slam; maka saya pegang salah satu kakinya agar membatalkan serangan slam itu,” ujar petarung divisi strawweight itu.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Dari posisi armbar bawah saya bisa pegang tangan lawan dan saat ia mau mencoba body slam maka saya lepaskan armbar dan lancarkan takedown. Saya tidak terlalu suka teknik jumping close guard karena saya ini seorang striker. Biasanya, atlet yang menerapkan jumping close guard itu lebih menyukai ground game.”

Halaman
Show All
Jonathan Pandapotan Purba, Achmad Yani YustiawanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan