Ahli Ungkap Kondisi Paru-Paru Seseorang Saat Terinfeksi Corona Covid-19

Video ini membahas bagaimana Corona Covid-19 menyebabkan kondisi yang berpotensi sebagai sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS).

Diterbitkan 26 Maret 2020, 13:50 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Banyak orang yang diduga terpapar Corona Covid-19 memiliki gejala ringan. Sebagian pasien mengalami penyakit pernapasan parah dan mungkin perlu dirawat untuk perawatan intensif.

Dalam sebuah video baru, ahli patologi paru-paru Sanjay Mukhopadhyay, MD, menjabarkan secara rinci bagaimana gambaran paru-paru yang terinfeksi Corona Covid-19.

Video berdurasi 15 menit ini membahas bagaimana Covid-19 menyebabkan kondisi yang berpotensi sebagai sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS). Lantas, apa hubungan antara coronavirus dan ARDS?

Para peneliti menemukan 50 dari 54 pasien yang meninggal akibat Covid-19 mengembangkan ARDS sementara hanya sembilan dari 137 yang selamat yang menderita ARDS.

"Ini adalah kontribusi yang sangat, sangat signifikan untuk kematian pada pasien ini," kata Dr. Mukhopadhyay.

Jika Anda menderita ARDS, Anda akan memiliki gejala seperti sesak napas mendadak, napas cepat, pusing, detak jantung yang cepat, dan keringat berlebih.

Menurutnya, terdapat empat hal utama yang akan dicari dokter adalah:

- Jika Anda memiliki kondisi akut, dimulai dalam waktu satu minggu sejak pertama terkontaminasi atau muncul gejala baru atau memburuk.

- Jika sesak napas bukan disebabkan oleh gagal jantung atau kelebihan cairan.

- Memiliki kadar oksigen yang rendah dalam darah Anda (hipoksia berat).

- Kedua paru-paru tampak putih dan buram (normalnya hitam) pada rontgen dada (disebut kekeruhan paru-paru bilateral).

 

 

**Ayo berdonasi untuk perlengkapan medis tenaga kesehatan melawan Virus Corona COVID-19 dengan klik tautan ini.

Jadi Bagaimana ARDS Merusak Paru-Paru?

Pasien yang menderita ARDS akan mengalami kerusakan pada dinding kantung udara di paru-paru yang membantu oksigen masuk ke dalam sel darah merah kita. Itulah yang oleh dokter disebut kerusakan difusi alvelolar.

Dalam paru-paru yang sehat, oksigen di dalam kantung udara ini (alveolus) bergerak ke pembuluh darah kecil (kapiler). Pembuluh kecil ini, pada gilirannya, mengirimkan oksigen ke sel darah merah Anda.

Dr. Mukhopadhyay menjelaskan proses evolusi membuat dinding alveolus menipis sehingga mempermudah pengiriman oksigen ke sel darah merah.

"Virus corona merusak dinding sel dan selaput alveolus serta pembuluh kapiler. Puing-puing yang menumpuk oleh semua kerusakan itu melapisi dinding alveolus mirip sepert cat yang menutupi dinding," kata Dr. Mukhopadhyay, seperti dikutip ClevelandClinic.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Kerusakan kapiler juga menyebabkan mereka membocorkan protein plasma sehingga menambah ketebalan dinding. Menurut Dr. Mukhopadhyay, dinding alveolus menjadi lebih tebal dari yang seharsunya. Semakin tebal dinding ini, semakin sulit untuk mentransfer oksigen, semakin Anda merasa sesak napas, dan semakin memperparah penyakit hingga bisa berdampak kematian. Dr. Mukhopadhyay berharap dengan penjelasan ini membuat orang lebih serius menghadapi wabah saat ini. "Tolong jangan anggap ini hanya sebagai 'infeksi virus lain yang akan berlalu, mohon lakukan semua tindakan pencegahan yang dianjurkan CDC. Tolong lindungi diri Anda, keluarga Anda, dan orang lain. Terlebih lagi jika pasien Covid-19 sampai mengalami pneumonia," katanya. Prof John Wilson, ahli pernapasan dari Royal Australasian College of Physicians mengatakan, saat pasien Covid-19 mengalami batuk dan demam, itu merupakan akibat dari infeksi saluran napas yang mencapai cabang pernapasan. Infeksi ini akan mengiritasi jalan napas jika tidak segera tertangani yang bahkan setitik debu bisa merangsang batuk. Infeksi yang terus menyebar hingga alveolus (kantung udara) maka akan berakhir pneumonia. "Paru-paru tidak mampu mendapatkan oksigen yang cukup untuk aliran darah, sehingga mengurangi kemampuan tubuh untuk mengambil oksigen dan menyingkirkan karbon dioksida. Itulah penyebab kematian umum pada penderita pneumonia berat," katanya.

Halaman
Show All
Liputan6.com, Achmad Yani YustiawanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan