5 Masalah yang Harus Dibenahi Persija jika Ingin Keluar dari Zona Degradasi

Persija Jakarta mengawali Shopee Liga 1 2019 dengan langkah gontai. Marko Simic dan kolega saat ini ada di zona degradasi.

Diterbitkan 08 Agustus 2019, 13:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Blunder Kepergian Teco

Keputusan blunder dilakukan manajemen Persija dengan melepas pelatih, Alessandro Stefano Cugurra Rodrigues, ke Bali United. Teco sukses membangun kekuatan tim, menyulap Persija menjadi tim super yang sulit dikalahkan.

Kepergian Teco rumornya karena konflik dengan CEO Persija, Gede Widiade. Ironisnya, usai pelatih asal Brasil itu pergi, Gede mundur dari jabatannya.

Sepeninggal Teco, Persija mendatangkan pelatih asing senior, Ivan Kolev. Nakhoda asal Bulgaria itu punya cerita sukses di Indonesia di era tahun 2000-an. Ia bahkan sempat jadi pelatih Timnas Indonesia dalam beberapa kesempatan. Cuma itu dulu.

Kolev datang ke Indonesia dengan rapor jelek. Ia sempat lama menganggur di negaranya usai didepak Slavia Sofia. Sebelum ke Persija, arsitek kelahiran 14 Juli 1957 itu sempat menukangi PS TNI (sekarang bernama PS Tira Persikabo). Kariernya juga tak panjang di sana.

Dan benar saja di Persija, Kolev gagal menyajikan kestabilan. Performa tim ibu kota turun naik bak yoyo. Ia kemudian didepak dan digantikan mantan asisten Luis Milla di Timnas Indonesia, Julio Banuelos.

Di tangan Julio penampilan Persija membaik, walau belum bisa dibilang stabil. Sang mentor tak leluasa mengembangkan style permainan karena ia mengandalkan pemain-pemain yang bukan rekrutannya.

Lini Belakang yang Keropos

Musim lalu Persija dikenal sebagai tim yang memiliki pertahanan yang kuat. Tim Macan Kemayoran jadi tim paling sedikit kebobolan (36 gol). Kombinasi Maman Abdulrahman, Gunawan Dwi Cahyo, Jaimerson Xavier, Michael Orah di jantung pertahanan sulit ditembus penyerang-penyerang kubu lawan.

Komposisi pertahanan Persija berubah musim ini. Jaimerson Xavier hengkang ke Madura United. Sementara koleganya Michael Orah dan Gunawan Dwi Cahyo ikut bedol desa bareng Teco ke Bali United.

Persija mendaratkan eks stoper PSM Makassar, Steven Paulle, untuk menambal kepergian tiga bek tengah. Ironisnya pemain asal Prancis itu lebih banyak absen karena gangguan cedera. Persija belakangan kerap tampil dengan duo Maman dengan Tony Sucipto.

Tony yang didatangkan dari Persib Bandung sejatinya berposisi sebagai bek sayap. Ia terlihat keteteran memainkan perannya. Sadar lini pertahanannya keropos, Persija membidik bek Madura United, Fachruddin Aryanto.

Ya, Persija butuh injeksi bek baru secepatnya untuk kembali membangun kerapatan lini belakang yang jadi salah satu senjata utama memenangi persaingan juara Liga 1 2018 lalu.

 

Krisis Kreativitas Lini Depan

Musim lalu lini depan Persija amat menakutkan. Mengandalkan Marko Simic sebagai predator penjebol gawang lawan, skema ofensif 4-2-3-1 amat tajam.

Simic amat tajam karena intens mendapat pasokan bola dari Riko Simanjuntak, Novri Setiawan, dan Renan Silva. Kombinasi lini serang ini tak banyak berubah musim ini, namun jadi tak berjalan maksimal karena terlalu mudah terbaca.

Produktivitas Simic terlihat menurun karena pasokan bola dari Riko dan Novri seringkali dimatikan lawan.  Apesnya karakter permainan Bruno Matos sebagai gelandang serang berbeda dengan Renan Silva.

Bruno lebih individualis dan sering memaksakan diri untuk mengeksekusi peluang emas. Beda dengan Renan yang lebih sering bertindak sebagai pelayan. Di beberapa laga terakhir terlihat jelas ketidakompakan Simic dan Bruno. Banyak peluang emas yang semestinya berbuah gol akhirnya sia-sia karena Bruno terlalu ngotot untuk mengeksekusinya sendiri.

Persoalan ini sejatinya bisa diatasi jika Persija punya stok pemain pelapis. Pada kenyataannya, stok pemain depan menipis.

Praktis untuk posisi Simic, Persija hanya punya seorang serep siap pakai, Bambang Pamungkas. Sang striker sudah amat uzur dan sudah melewati masa emas. Persija butuh penyerang muda yang segar.

Demikian pula di sektor sayap dan gelandang serang. Untuk posisi Bruno, Persija hanya punya Ramdani Lestaluhu, yang belakangan jarang dalam kondisi fit karena cedera punggung. Di sektor winger tak ada figur kuat untuk melapis Novri dan Riko. Jangan heran produktivitas Persija musim ini melorot tajam.

 

Belanja Pemain Asing yang Tak Cermat

Dari empat pemain asing Persija yang ada saat ini, praktis hanya Marko Simic dan Rohit Chand yang performanya terhitung bagus. Sementara itu, Bruno Matos dan Steven Paulle jauh dari harapan.

Bruno pada awal kedatangannya dielu-elukan. Ia mencuat jadi gelandang serang yang amat produktif. Ia dengan ciamik bisa menambal produktivitas Marko Simic yang sempat harus absen lama karena kasus hukum di Australia.

Namun, kinerja ciamik gelandang asal Brasil di turnamen pramusim melorot tajam begitu kompetisi sesungguhnya mulai bergulir. Tak hanya kehilangan produktivitasnya, ia dikritik kurang bisa menjalankan peran sebagai pemain tim.

Aksi individu Bruno menawan tapi terasa tak berguna karena tak membawa dampak nyata buat tim. Lini tengah Persija terlihat lesu darah karena sikap individualis Bruno.

Bagaimana dengan Steven Paulle? Cedera membuat sang bek absen di pertandingan penting. Dampak langsung ketidakhadirannya poros belakang gampang dijebol lawan.

Rumor berhembus karier kedua pemain bakal segera berakhir di Persija pada bursa transfer tengah musim ini.

Sumber: Bola.com

 

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Ario Yosia, Bogi TriyadiTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan