5 Masalah yang Harus Dibenahi Persija jika Ingin Keluar dari Zona Degradasi

Persija Jakarta mengawali Shopee Liga 1 2019 dengan langkah gontai. Marko Simic dan kolega saat ini ada di zona degradasi.

Diterbitkan 08 Agustus 2019, 13:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Jakarta - Persija Jakarta gagal meraih trofi Piala Indonesia 2018-2019 usai kalah agregat 1-2 dari PSM Makassar di final. Hasil ini mempertegas adanya persoalan yang mendera tim Macan Kemayoran.

Persija musim 2018 amat perkasa, tim ibu kota meraih double gelar Liga 1 dan Piala Presiden. Jejak superioritas Persija seperti tak berbekas memasuki musim 2019 ini.

Di mulai dengan kegagalan mereka mempertahankan gelar Piala Presiden dan selanjutnya performa jelek di Piala AFC. Persija terpental dari persaingan di fase penyisihan. Kontradiksi dengan pencapaian musim sebelumnya, di mana Persija sempat lolos ke semifinal Piala AFC zona Asia Timur.

Tren negatif tak berhenti hanya sampai di situ. Persija mengawali Shopee Liga 1 2019 dengan langkah gontai. Marko Simic dkk. saat ini ada di zona degradasi.

Masih ada harapan mereka untuk bisa juara kompetisi kasta elite, karena Liga 1 baru berjalan seperempat jalan. Persija pun saat ini memainkan laga lebih sedikit dibanding tim kompetitor.

Tapi, jika Persija tak juga bisa bangkit dari keterpurukan dalam waktu dekat, mereka dipastikan kehilangan kesempatan untuk mengulang kisah sukses musim lalu.

Ada apa gerangan dengan Persija? Berikut aneka persoalan yang harus diselesaikan tim Macan Kemayoran. Simak detailnya di bawah ini:

Kedalaman Skuat yang Tipis

Usai menjadi juara Liga 1 2018, Persija ditinggal sejumlah pemain kunci yang dibajak pesaing. Deretan pemain yang hengkang antara lain: Jaimerson Xavier (Madura United), Rudi Widodo, Asri Akbar (Borneo FC), Valentino Telaubun (Persipura Jayapura), Alua Septianus (PSIS Semarang), Renan Silva (Borneo FC), Gunawan Dwi Cahyo (Bali United).

Sayangnya, kepergian pemain-pemain di atas tidak diikuti dengan belanja pemain yang agresif untuk menutup lubang. Ya benar, pemain-pemain yang disebut di atas tak semuanya berstatus pemain inti, namun kehadiran mereka menjaga kedalaman skuat.

Saat ada pemain pilar yang cedera atau akumulasi kartu, mereka siap jadi pengganti. Skuat Persija amat tipis. Hampir di setiap laga Persija tampil dengan pemain yang itu-itu saja. Julio Banuelos tak bisa leluasa berkreasi karena memang stok pemain yang ada sedikit.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Keputusan blunder dilakukan manajemen Persija dengan melepas pelatih, Alessandro Stefano Cugurra Rodrigues, ke Bali United. Teco sukses membangun kekuatan tim, menyulap Persija menjadi tim super yang sulit dikalahkan. Kepergian Teco rumornya karena konflik dengan CEO Persija, Gede Widiade. Ironisnya, usai pelatih asal Brasil itu pergi, Gede mundur dari jabatannya. Sepeninggal Teco, Persija mendatangkan pelatih asing senior, Ivan Kolev. Nakhoda asal Bulgaria itu punya cerita sukses di Indonesia di era tahun 2000-an. Ia bahkan sempat jadi pelatih Timnas Indonesia dalam beberapa kesempatan. Cuma itu dulu. Kolev datang ke Indonesia dengan rapor jelek. Ia sempat lama menganggur di negaranya usai didepak Slavia Sofia. Sebelum ke Persija, arsitek kelahiran 14 Juli 1957 itu sempat menukangi PS TNI (sekarang bernama PS Tira Persikabo). Kariernya juga tak panjang di sana. Dan benar saja di Persija, Kolev gagal menyajikan kestabilan. Performa tim ibu kota turun naik bak yoyo. Ia kemudian didepak dan digantikan mantan asisten Luis Milla di Timnas Indonesia, Julio Banuelos. Di tangan Julio penampilan Persija membaik, walau belum bisa dibilang stabil. Sang mentor tak leluasa mengembangkan style permainan karena ia mengandalkan pemain-pemain yang bukan rekrutannya.

Halaman
Show All
Ario Yosia, Bogi TriyadiTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan