Cara Margaret Thatcher Hadapi Kekerasan Suporter

Kekerasan suporter juga pernah membuat pemerintah Inggris kelimpungan.

Diterbitkan 28 September 2018, 21:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Menteri dalam Negeri era Thatcher, Douglas Hurd, lantas membuat penelitian untuk mengetahui cara menghentikan aksi kekersasan tersebut. Seperti dilansir Independent dua tahun lalu, Hurd juga memerintahkan polisi senior untuk menyelidiki kenapa kenapa sering terjadi kerusuhan di kota dan desa setelah pesta miras di hari Jumat dan Sabtu.

Hasil kajian Hurd tersimpan dalam file kementerian yang selama ini tetutup. Namun Badan Arsip Nasional di Kew, London Barat, basil mengungkapnya ke publik. Dalam laporannya, Hurd ternyata melihat ada kemiripan antara kekerasan di desa dan hooligan sepak bola.

Dalam catatan memorandum dari bulan Juni 1988, Hurd menemukan sebanyak 83.000 tindak kekerasan di desa maupun pinggiran kota Inggris pada tahun sebelumnya. Lebih dari setengah terjadi pada 1980 yang akhirnya menambah beban kepolisian.

"Tidak ada yang berubah dalam tindak kekerasan yang terjadi. Kericuhan yang disebabkan pemabuk, Teddy boys di tahun 50-an, mod dan rocker di era 60-an, punk dan skinhead merupakan tradisi yang berlanjut. Hanya saja saat itu jauh lebih buruk," tulis Hurd.

Efek Miras

Laporan dari lembaga kepolisian menyebutkan bahwa minuman keras berperan besar dalam tindak kekerasan yang terjadi pada masa itu. Hampir 90 persen perkelahian dan kerusuhan yang terjadi di pedesaan barkaitan langsung dengan minuman beralkohol itu. 

Hurd juga menemukan fakta bahwa para perusuh di pedesaan memiliki usia yang sama dengan hooligan brutal. "Banyak mereka yang berusia 16-25 tahun yang terlibat dalam kekacauan ini memiliki potensi laten untuk melakukan tindak kekerasan," tulis Hurd. 

Eksistensi menjadi penting bagi usia seperti itu. Dan ketangguhan menjadi salah satu indikator kedewasaan bagi mereka. Situasi semakin buruk saat minuman keras membuat para pelaku kekerasan kehilangan kontrol diri dan membuat mereka melewati batas. 

"Perlu ada batasan internal dan eksternal untuk membawa mereka kembali," tulis Hurd.

Situasi ini diperparah dengan pengawasan dari orang tua yang minim. Pendidikan juga dianggap gagal membenahi budi pekerti pada siswa dan hanya fokus tehadap angka-angka. 

"Orang tua mereka menonton TV di rumah dan pendidikan gagal mengajarkan disiplin dan tanggung jawab kepada mereka. Pendidikan juga gagal mengajak mereka untuk menemukan cara lain untuk bersenang-senang," tulis Hurd dalam laporannya. 

 

Pasukan Khusus Bukan Solusi

Lalu bagiamana langkah mengatasinya? Dengan personel polisi yang terbatas, Hurd sangat tidak setuju dengan wacana membentuk pasukan khusus untuk mengendalikan tindak kekerasan tersebut mengingat lokasinya tersebar di banyak tempat di seluruh Inggris.

Upaya ini menurutnya hanya membuat polisi menghabiskan waktu untuk berburu kerusuhan dari satu daerah ke daerah yang lain. Sebaliknya, Hurd memilih untuk menempuh jalur lain. Pria kelahiran 8 Maret 1930 tersebut mengajukan undang-undang perizinan yang lebih ketat, penuntutan cepat, hukuman yang berat, dan penyempurnaan prosedur kepolisian.

Inggris memang belum sepenuhnya terbebas dari ancaman hooligan. Namun angka kerusuhan yang terjadi di Negeri Ratu Elizabeth itu terbilang menurun tajam saat ini. Hal ini seiring dengan semakin sehatnya iklim sepak bola di sana. Premier League yang merupakan kasta tertinggi sepak bola Inggris merupakan liga terbaik di dunia, tempat di mana pemain-pemain kelas dunia berkarier. Rivalitas antarklub dikemas dengan baik menjadi industri.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia?  

Saksikan juga video menarik di bawah ini:

 

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Marco Tampubolon, Edu KrisnadefaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan