Diananda Choirunisa dan Ambisi Besar pada Asian Games 2018

Setelah meraih 2 emas dan 1 perak di SEA Games 2017, Diananda Choirunisa, Garuda Kita dari cabang olahraga panahan membidik emas Asian Games 2018.

Diterbitkan 03 Agustus 2018, 15:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Jakarta - Pepanah putri Indonesia, Diananda Choirunisa, sudah berprestasi sejak masih kecil. Namun, dia masih punya berbagai ambisi besar. Dianandra ingin melengkapi koleksinya dengan menyebet medali pada kancah Asian Games 2018. 

Kiprah Dianandra di panahan penuh lika-liku. Salah satu momen penting dalam kariernya saat berlaga di SEA Games 2017 di Malaysia. Diananda berhasil meraih dua medali emas dari nomor individual recurve dan mixed team recurve, plus satu medali perak dari women team recurve.

Prestasi tersebut terasa istimewa karena Diananda mendapatkan medali emas dari nomor individu. Empat tahun sebelumnya, dia meraih emas pertama di SEA Games, tapi kalau itu melalui women team recurve alias beregu putri.

Setelah menyabet medali emas pertama di SEA Games 2013, Diananda kemudian hanya mendapat medali perak pada SEA Games 2015 dari nomor yang sama. Emas yang ditunggu akhirnya kembali direngkuh pada SEA Games 2017. 

Kini, pepanah putri yang pernah meraih 5 medali emas saat masih kecil itu mengusung misi ambisius di kancah Asian Games. Diananda ingin meraih medali emas di depan pendukung Indonesia.

"Bagi saya tentu saja kehadiran mereka itu akan menjadi sebuah dukungan dan motivasi," ujar atlet kelahiran Surabaya itu menjelang perjuangannya pada Asian Games 2018.

Berawal dari Iseng

Anda menggeluti panahan sejak usia 7 tahun. Bagaimana awalnya?

Jadi awal saya ikut panahan itu hanya iseng. Awalnya diajak mama ke lapangan dan belajar soal panahan. Dari sekadar mencoba, akhirnya saya jadi menyukainya.

Perasaan senang itu muncul ketika melepaskan anak panah dan mengenai sasaran yang berwarna kuning. Akhirnya sampai sekarang saya terus menyukai panahan dan jadi serius menjadi atlet.

Anda mengikuti turnamen panahan pertama saat berusia 10 tahun. Saat itu sudah ada pikiran untuk serius menggeluti panahan?

Sebenarnya saat itu masih berpikir untuk senang-senang ikut turnamen. Waktu itu juga saya kalah dan melihat orang lain yang menjadi juara. Namun, dari situ juga saya memiliki keinginan menjadi juara.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Saya bilang kepada papa, ingin menjadi juara. Papa bilang saya akan jadi juara pada tahun berikutnya. Setelah satu tahun berlalu saya benar-benar menjadi juara dengan mendapatkan lima medali emas. Jadi orang tua mendorong Anda untuk serius menjadi atlet panahan profesional? Sebenarnya mereka hanya mengarahkan saya ke olahraga, apa pun itu. Bahkan awalnya saya mengikuti pencak silat. Namun, saya akhirnya memilih panahan, itu benar-benar atas kemauan saya sendiri. Jadi orang tua hanya sebatas memberikan dukungan. Pernah mengikuti pencak silat, kenapa akhirnya lebih serius dengan panahan? Saya mengikuti olahraga juga bertanya kepada orang tua saya soal bagaimana risikonya dan bagaimana peluang menjadi juara atau meraih medali. Jadi memang sejak awal saya sudah berpikir ke arah sana. Mama saya mengatakan risiko panahan yang utama itu kulit semakin hitam karena berjemur di arena latihan dan pertandingan. Sementara pencak silat ada risiko patah tulang. Kemudian dari sisi raihan medali, maksimal di pencak silat itu atlet mengikuti satu nomor, sementara kalau di panahan bisa sampai tiga nomor. Bicara soal risiko dalam berolahraga, seberapa penting proteksi keselamatan dan kesehatan bagi seorang atlet? Tentu sangat penting, terutama ketika sebagai atlet harus mengalami cedera. Terkadang kami harus ke dokter sendiri karena belum tentu ada yang menanggung risiko itu. Namun, sekarang juga ada asuransi sehingga ketika cedera tidak terlalu bingung harus bagaimana. Contoh di Asian Games 2018 ini atlet-atlet Indonesia yang bertanding mendapatkan perlindungan dari AXA Mandiri.

Halaman
Show All
Benediktus Gerendo Pradigdo, Yus Mei SawitriTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan