Mengenal Lebih Dekat Pelatih Pelatih Pelita Jaya, Johannis Winar

Pelatih Pelita Jaya Jakarta, Johannis Winar, tak pernah diprediksi bakal menjadi pemain dan pelatih basket yang punya prestasi luar biasa.

Diterbitkan 07 Desember 2017, 12:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Keputusan pemilik klub Banjar Baru, Budi Surya, untuk tidak lagi mengikuti Kompetisi Basket Utama (Kobatama) menjadi dilema bagi Ahang. Alhasil, Ahang hanya menjalani hari-hari sebagai pekerja biasa yang mengurusi bagian komputerisasi di Banjar Baru, bukan bermain basket seperti yang diimpikan.

Kenang-kenangan Ahang yang masih disimpan hingga saat ini oleh sang Ibunda. (Bola.com/Andhika Putra).

Doa Ahang untuk bisa kembali ke lapangan basket akhirnya terwujud. Klub asal Bandung, Pan Asia Indosyntex menawarkan kontrak kepada Ahang lewat sosok Suhadi Bing Adi. Namun, ada satu masalah besar, Ahang rupanya tak berani berbicara langsung kepada pihak Banjar Baru perihal keinginan pindah klub.

"Saya langsung minta bantuan Mama untuk berbicara kepada pihak Banjar Baru. Terus terang saya tidak berani berbicara saat itu," tutur Ahang.

Musim perdana Ahang di Pan Asia tidak berjalan mulus, gelar juara Kobatama tidak berhasil direbut. Gelar juara Kobatama 1996 jatuh ke tangan Aspac kala itu. Namun, musim perdana Ahang tidak berakhir percuma. Dia berhasil menjadi Most valuable Player dan pencetak skor terbanyak.

Impian Ahang untuk mengangkat trofi baru terwujud pada musim selanjutnya. Tidak tanggung-tanggung, anak layangan tersebut berhasil membawa Pan Asia juara Kobatama dua musim beruntun pada 1997 dan 1998.

Singkat cerita, kisah manis Ahang bersama Pan Asia pada akhrnya harus berakhir pada 2002. Penggemar Boston Celtics tersebut memutuskan meninggalkan Kota Kembang dan bergabung dengan Satria Muda.

"Saya bertanya kepada manajemen Pan Asia apakah masih ada niat untuk menjadi juara? Ternyata sudah tidak dan saya memutuskan pindah ke Satria Muda," tutur Ahang.

Hengkang ke Satria Muda, prestasi Ahang tidak merosot, dia kembali mengangkat satu trofi Indonesia Basketball League (IBL) 2004. Pada 2006, Ahang memutuskan kembali ke Pan Asia yang sudah berganti nama menjadi Garuda Bandung untuk merintis karier sebagai pelatih.

Perjalanan karier Ahang sebagai pelatih tidak berjalan mudah. Pria yang sempat tertabrak motor saat mengejar layangan itu baru benar-benar menangani Garuda Bandung pada 2010. Saat itu kompetensi Ahang sebagai pelatih sempat diragukan karena Garuda era 2010 berisikan pemain dengan materi bintang seperti Cokorda Raka Satrya Wibawa, Denny Sumargo, Gagan Rachmat, dan I Made Sudiadnyana.

Kembali sebagai pelatih, Ahang memberikan trofi Piala Gubernur DKI Jakarta pada 2010 setelah mengalahkan Pelita Jaya Esia di partai final. Setelah itu, karier kepelatihan Ahang terus berlanjut hingga akhirnya bisa menjadi pelatih Pelita Jaya saat ini.

"Saya orang yang tidak pernah setengah-setengah saat melakukan apapun. Saat memutuskan jadi pelatih, saya ingin menjadi pelatih terbaik," ujar Ahang.

Mendapat Bantuan dari Sang Ayah

Menjadi pelatih Pelita Jaya rupanya tak semanis bayangan Ahang. Menangani tim peninggalan Benjamin Alvarezsipin yang dipecat, membuatnya berada dalam tekanan. Apalagi pada musim perdananya Ahang ditinggal beberapa pemain senior Pelita Jaya, seperti Andy Batam, Dimas Aryo Dewanto, dan Kelly Purwanto.

Namun, keadaan itu tidak membuat Ahang putus asa. Dengan cerdik pelatih yang mengidolai sosok Brad Stevens tersebut meramu tim yang pada akhirnya bisa merebut gelar juara IBL 2017.

Pelita Jaya memenangi dua dari tiga gim pada partai final kontra Satria Muda Pertamina. Pada gim pertama, Pelita Jaya menang. Tapi Satria Muda mampu bangkit dan membuat kedudukan imbang 1-1 pada pertandingan berikutnya.

Saat berada dalam tekanan, Ahang beruntung memiliki seorang penasihat seperti sang Ayah, Hendry Winar. Beberapa saat setelah gim kedua, Hendry menelpon Ahang dan memberikan beberapa tips untuk mengalahkan Satria Muda.

Pasangan Hendry Winar dan Yu Ling Chen, kedua orang tua Ahang. (Bola.com/Andhika Putra)

"Saya beri tahu Ahang apa yang seharusnya dia lakukan saat gim ketiga. Pada akhirnya dia mengikuti apa yang saya katakan dan Pelita Jaya berhasil menang," tutur Hendry.

Kini setelah Ahang berhasil meraih kesukesan sebagai pemain juga pelatih, baik Hendry dan Ling Chen hanya berharap agar sang putra tidak cepat berpuas diri. Hendry dan Ling Chen kemudian menyampaikan doa serta harapan kepada Ahang.

"Yang terpenting Ahang harus terus rendah hati. Tidak boleh cepat berpuas diri, masih banyak prestasi yang harus diraih termasuk mengembangkan olahraga basket di Indonesia," ujar Ling Chen.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Andhika Putra, Muhammad Wirawan KusumaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan