5 Pelajaran dari Aksi Mourinho Dalam Tur di Tiongkok

Mourinho dan MU akan memulai petualangannya di China dengan melawan Dortmund.

Diterbitkan 22 Juli 2016, 19:19 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

2. Gaya Permainan

2. Gaya Permainan

Bersama Louis van Gaal, MU menggunakan gaya permainan yang terbilang lambat. Agresivitas Setan Merah sangat jarang terlihat. Hal itu yang membuat fans dan pemain sangat kecewa. Saat baru diangkat sebagai pelatih, Mourinho langsung berjanji akan membuat permainan MU jauh lebih menarik.

Masalahnya, selama ini Mourinho dikenal sebagai pelatih dengan karakter pragmatis. Ia tak peduli bagaimana gaya bermain timnya. Baginya, terpenting adalah kemenangan.

Laga melawan Dortmund dan ManCity akan memberikan kesempatan bagi Mourinho untuk menerapkan gaya permainan pilihannya. Maklum, lawan MU dalam tur di China adalah dua tim dengan kualitas tingkat tinggi.

Perubahan tampaknya akan dilakukan Mourinho terkait posisi Mkhitaryan. Saat melawan Wigan, Mkhitaryan diberikan peran yang identik dengan pemain nomor 10. Pilihan pemain di lini depan juga layak ditunggu meski tanpa kehadiran Ibra.

3. Belajar Menahan Emosi

3. Belajar Menahan Emosi

Selama ini, Mourinho dikenal sebagai sosok yang bermulut besar. Ia tak sungkan mengumbar komentar pedas bagi siapa pun yang dianggap memusuhinya. Hal seperti itu sudah sering ia perlihatkan saat melatih Chelsea.

Karenanya, tak jarang publik menyaksikan Mourinho dan pelatih lain saling bertukar komentar yang menyindir. Bahkan, ia juga sempat memarahi hakim garis saat MU melawan Wigan. Patut ditunggu bagaimana cara Mourinho untuk menahan emosinya.

Bersama MU, tentu Mourinho tak bisa mengulangi kesalahan-kesalahan seperti di masa lalu. Itu karena MU adalah tim yang memiliki daya tarik cukup besar di dunia. Harga diri dan kewibaan MU akan terbawa dalam semua hal yang dilakukan Mourinho.

4. Perang Verbal

4. Perang Verbal

Ya, sulit meredam emosi membuat Mourinho dikenal sebagai pelatih yang sering melakukan perang verbal kepada banyak orang. Serangan verbal biasanya ia lakukan untuk mempengaruhi calon lawannya dalam sebuah pertandingan.

Ia pun memiliki kesempatan untuk melancarkan serangan verbal dengan Pep Guardiola sebelum MU melawan ManCity pada Senin (25/7/2016). Kata-katanya mengenai pertandingan tersebut bisa menjadi bukti apakah kebiasaan perang verbal Mourinho masih sulit dihilangkan.

Masalahnya, terkadang perang verbal yang dilancarkan Mourinho tak mengenal sasaran. Ia juga tak sungkan mengkritik atau memarahi kinerja wasit. Tak heran jika Mourinho kerap mendapat sanksi tak boleh mendampingi timnya berlaga.

Namun, Mourinho terlihat sudah lebih tenang dalam berkomentar mengenai para rivalnya. Padahal, banyak yang berharap Mourinho tak mengubah kebiasannya. Sebab, itulah yang menjadi daya tarik dari seorang The Special One.

5. Kesempatan Pemain Muda

5. Kesempatan Pemain Muda

Meski hanya bertajuk uji coba, Mourinho tentu mendesak MU untuk meraih kemenangan di China. Maklum, hasil laga melawan Dortmund dan ManCity akan menjadi tolak ukur rapor MU di musim 2016/2017.

Alhasil, kemungkinan Mourinho untuk memasang pemain inti dalam dua laga tersebut sangat terbuka. Bahkan, hanya dua pemain muda yang dipasang Mourinho saat MU melawan Wigan. Ia adalah James Wilson dan Timothy Fosu-Mensah.

Padahal, tur pramusim biasanya menjadi kesempatan bagi para pemain muda untuk unjuk gigi. Mungkian hal tersebut baru dilakukan Mourinho saat melawan Dortmund dan ManCity. Di babak kedua melawan Wigan pun Mourinho berani menurunkan banyak pemain muda.

Mulai dari Axel Tuanzebe, Joel Castro, Tyler Blackett, Will Keane, dan Andreas Pereira. Kesempatan mereka untuk kembali beraksi terbuka lebar dalam dua laga di China.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Ahmad Fawwaz Usman, Edu KrisnadefaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan