Sukses

Bertekuk Lututnya Barcelona, antara Kelelahan dan Kutukan

Liputan6.com, Madrid - Barcelona terbilang mengejutkan tersingkir dari perempat final Liga Champions usai kalah agregat 2-3 dari Atletico Madrid. Menargetkan mempertahankan gelar Liga Champions yang mereka rebut musim lalu, Barcelona malah tidak mampu sampai ke semifinal.

Berbagai spekulasi bermunculan mengenai penyebab Barcelona mesti tersingkir lebih awal dari kompetisi antar klub elite Eropa itu. Berstatus sebagai juara bertahan, Blaugrana memiliki materi pemain yang dianggap lebih unggul ketimbang Los Colchoneros.

Tidak sedikit yang memuji cara bermain Atletico yang mematikan serangan-serangan terorganisir Andres Iniesta dan kawan-kawan. Para pemain belakang klub ibu kota Spanyol tersebut tidak membiarkan pertahanan mereka diterobos lewat Tiki-Taka.  

Sejatinya, Barca yang mengandalkan trio Lionel Messi, Luis Suarez, dan Neymar Jr unggul jauh dalam penguasaan bola. Seperti dilansir ESPN, penguasaan bola Blaugrana mencapai 77 persen. Namun, Barca begitu kesulitan mencari celah di lini pertahanan Atletico.



Kebuntuan tim arahan Luis Enrique pun dihukum dengan dua gol Atletico yang dicetak Antoine Griezmann. Salah satu gol Griezmann lahir pada menit ke-36, dan satunya lagi tercipta lewat hadiah penalti pada menit ke-88.

Klub asal Katalan itu juga baru menambah panjang catatan buruknya di beberapa pekan terakhir. Setelah tak terkalahkan di 39 pertandingan, Barca kini malah hanya mampu mengukir satu kemenangan di lima laga terakhirnya.



Atletico juga yang menjadi batu sandungan Barca kala bertemu di perempat final Liga Champions. Meski menang 2-1 pada leg pertama di Camp Nou, Barca tetap tersingkir karena kalah 0-2 dari Atletico pada leg kedua di Vicente Calderon, Kamis (14/4/2016) dinihari WIB.

"Kami tak memiliki hari terbaik kami. Namun, kami memiliki cukup peluang di babak kedua. Atletico layak mendapatkan pujian. Kami benar-benar ingin pergi jauh dan menantang gelar. Tapi, kami mengucapkan selamat kepada Atletico Madrid," kata Enrique seperti dilansir Football Espana.



Enrique sendiri beralasan bahwa penyebab timnya tersingkir karena kondisi anak-anak asuhannya yang tidak maksimal. Namun, Enrique ingin Lionel Messi dan kawan-kawan melupakan kekalahan di Vicente Calderon dan fokus mengejar gelar lain musim ini.

"Ini 99,9 persen kesalahan saya. Lalu, sudah jelas bahwa kami tak dalam kondisi terbaik, terutama jika kami mempertimbangkan hal-hal lain di musim ini. Apa pun, musim masih berjalan dan ada hal-hal penting yang bisa diperjuangkan," ujar Enrique.

Pelatih Atletico Madrid, Diego Simeone, sejak sebelum pertandingan leg kedua kontra Barcelona digelar, semangat pantang menyerang mereka usung. Dia juga memuji anak-anak asuhannya yang bekerja keras untuk bisa menyenangkan fans Atletico.



"Moto: kami tidak pernah berhenti percaya, tertanam dalam klub ini. Kami tidak pernah menyerah, dan kami kuat dalam semua aspek permainan," papar Simeone.

Sementara sebelum pertandingan, Simeone mengaku memiliki resep jitu untuk bisa mematikan Barcelona, yang pada akhirnya terbukti. "Kami berusaha terus meningkatkan kualitas permainan ketika melawan mereka (Barcelona) dari satu laga ke laga lainnya. Kami terus mencoba menemukan taktik anyar untuk meraih kemenangan."



Kekalahan atas Atletico sekaligus menambah panjang catatan buruk bintang Barcelona, Lionel Messi musim ini. Seperti dilansir Mirror.co.uk, pemain asal Argentina tersebut kini tercatat sudah lebih dari 400 menit tanpa gol. Ini jadi masa paceklik gol terlama La Pulga pada musim ini.

Messi terakhir kali mencetak gol saat Barca bertemu Aresenal pada leg kedua babak 6 besar Liga Champions lalu. Ini berarti Messi sudah mandul dalam enam pertandingan beruntun musim ini. Padahal, Messi tinggal terpaut satu gol lagi untuk menggenapi gol ke-500 bersama Barcelona.

Begitu banyak spekulasi mengenai teka-teki yang muncul terkait penyebab Barcelona tersingkir. Dari mulai padatnya jadwal yang membuat mereka kelelahan, Messi yang sedang tidak dalam performa terbaik, hingga rasa percaya diri berlebihan yang menjadi bumerang bagi Barcelona, atau kutukan juara bertahan Liga Champions yang belum berakhir. Yang mana menurut Anda?