Liputan6.com, Barcelona - Mendiang legenda Belanda, Johan Cruyff pernah membuat heboh jagat sepak bola Eropa. Tanpa alasan yang jelas, Cruyff tiba-tiba mengundurkan diri dari Timnas Belanda jelang Piala Dunia 1978 di Argentina.
Segudang tanda tanya besar langsung menyeruak seiring keputusan Cruyff meninggalkan Der Oranje yang ketika itu tengah naik daun. Empat tahun sebelumnya, Belanda berhasil melangkah ke final Piala Dunia 1974 di Jerman Barat. Dan Cruyff menjadi sosok penting di balik sukses Belanda.Â
Baca Juga
- Silaturahmi, Daud Yordan Berharap Dukungan Menpora
- Cetak Gol ke-50, Messi Samai Rekor Legenda Roma
- Torabika Bhayangkara Cup: 5 Fakta Unik Persib Vs Bali United
Spekulasi soal keputusan Cruyff menolak memperkuat Timnas Belanda memunculkan banyak spekulasi. Salah satu yang berkembang adalah, keretakan hubungan dengan federasi sepak bola Belanda (KNVB) karena masalah sponsor. Lalu, ada juga isu yang mengatakan, masalah keamanan di Argentina membuat Cruyff cemas. Hingga memutuskan absen di PD 1978.
Apapun rumor yang berkembang, Cruyff telah memilih mundur dari skuat timnas. Sang pencetus total football ini tidak bergeming dengan rumor soal keputusannya absen dari Piala Dunia 1974. Rahasia itu disimpan sendiri. Tiga dekade berlalu setelah keputusan kontroversial itu, Cruyff akhirnya buka mulut kejadian yang sebenarnya.
Dia menguak tabir rahasia itu di Radio Catalunya 2008 lalu.Â
Senapan di Kepala Cruyff
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1062528/original/045761200_1448094113-Cruyff.jpg)
"Anda harus tahu, saya memiliki masalah di pengujung karier sebagai pemain di sini (Barcelona). Saya tidak pernah tahu, tiba -tiba saja ada seseorang yang menodongkan senapan ke kepala saya dan istri. Posisi kami terikat di depan anak-anak kami. Kejadian itu di flat kami di Barcelona," ujar Cruyff, menguak tabir yang selama ini menjadi rahasia terbesar dalam sejarah sepak bola dunia.
Beberapa bulan sebelum perhelatan Piala Dunia 1978 di Brasil, apartemen Cruyff disatroni orang tidak dikenal. Mereka kemudian menyekap Cruyff dan keluarga. Sejak peristiwa di malam itu, Cruyff menjadi paranoid karena menjadi sasaran penculikan. Beruntung, dia berhasil lolos dari aksi kriminal tersebut.Â
Sejak peristiwa mencekam itu, kemana pun Cruyff dan keluarga pergi; selalu dikawal Polisi."Anak-anak pergi ke sekolah didampingi Polisi. Polisi bahkan menginap di rumah kami selama 3-4 bulan. Ketika bertanding, saya juga mendapat pengawalan dari Kepolisian," ungkap Cruyff yang pernah bermain untuk Levante.
Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9329037/original/095568800_1787217508-Screenshot_2026-08-20_160444.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316905/original/064384100_1785995980-cek_fakta_luhut.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309638/original/028473800_1785232963-cek_fakta_-_bansos_balita.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5526386/original/065611600_1773119349-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-03-10T120535.465.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1182619/original/064084500_1458887077-Johan_Cruyff_07.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1182907/original/022769400_1458913693-8_000_ARP2345691.jpg)