Tragedi Bom Belgia dan Masa Depan Piala Eropa 2016

UEFA juga berniat meminta bantuan pasukan elite asal Inggris, SAS.

Diterbitkan 23 Maret 2016, 07:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Ya, November tahun lalu, Stade de France di utara kota Paris menjadi sasaran aksi teror saat timnas Prancis tengah berhadapan dengan timnas Jerman dalam sebuah laga persahabatan.

Di saat yang bersamaan, sejumlah lokasi di Prancis juga menjadi sasaran aksi teror yang menewaskan 130 warga. Akibat insiden ini, duel persahabatan antara timnas Jerman dan Belanda yang rencananya digelar di Hannover, Jerman, tiga hari kemudian, terpaksa dibatalkan.

Seorang pria terduga teroris mencoba untuk meledakkan bom bunuh diri di dalam stadion Stade de France, Sabtu (14/11/2015) dini hari WIB.

Pemerintah Prancis khawatir, Piala Eropa bakal jadi sasaran teror berikutnya. UEFA pun langsung bersiap dan menempatkan keselamatan dan keamanan sebagai prioritas selama Euro 2016.

Tidak tanggung-tanggung, UEFA akan meminta bantuan dari pasukan elite Inggris, SAS dan Interpol untuk mengamabkan event akbar ini. Bersama otoritas Prancis, kedua pasukan khusus tersebut diharapkan mampu membantu UEFA mengamankan tim peserta maupun penonton.

Seperti dilansir The Sun, SAS rencananya akan ditempatkan untuk mengamankan lokasi-lokasi latihan, hotel tim peserta, dan di sekitar areal pertandingan. Sedangkan bagi yang tidak memiliki kartu tanda pengenal (ID) juga tidak akan diperkenankan memasuki areal stadion dan fan zone. 

Penyerang Perancis, Oliver Giroud bersama pemainn lainnya melakukan selebrasi usai mencetak gol kegawang Jerman pada laga persahabatan di stadion Stade de France, Perancis, (13/11). Perancis menang atas Jerman dengan skor 2-0.  (AFP PHOTO/FRANCK FIFE)

Sejumlah negara, seperti Inggris, Wales, Irlandia Utara, dan Republik Irlandia juga telah mempersiapkan prosedur keamanan selama tampil di Euro 2016. Dan setelah bom Belgia, keempat negara ini kembali berdiskusi untuk menentukan apakah ada langkah baru yang akan diambil.

Pilihan Tersulit
Selain melibatkan pasukan elite, UEFA juga ternyata menyiapkan langkah ekstrem untuk mengantisipasi serangan teroris. Wakil Presiden UEFA, Giancarlo Abete, usai tragedi bom Belgia menyatakan bahwa tidak menutup kemungkinan pertandingan bakal digelar secara tertutup.

"Piala Eropa (Euro) 2016 merupakan event yang tidak bisa ditunda atau dibatalkan. Sama halnya kami tidak mungkin mengesampingkan terorisme, kami juga tidak bisa menutup kemungkinan pertandingan bakal digelar secara tertutup," ujar Abete seperti dilansir The Sun. 

Pasukan elite Inggris, SAS akan mengawal Three Lions di Piala Eropa 2016 (Mirror)

Sebelumnya UEFA juga telah mengeluarkan pernyataan yang menegaskan kembali bahwa keselamatan dan keamanan menjadi perhatian utama bagi mereka selama Euro 2016. Namun dalam pandangan Abete kepada SunSport, pernyataan itu juga termasuk opsi laga tanpa penonton.

Putaran final Piala Eropa akan berlangsung mulai 10 Juli mendatang. Sebanyak 24 negara akan bertarung untuk memperebutkan supremasi tertinggi sepak bola Benua Biru.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Marco Tampubolon, Edu KrisnadefaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan