Sihir Dybala dan Amarah Pogba

Akhir Oktober lalu, Juventus di titik nadir. Namun sekarang Bianconeri kembali ke perburuan Scudetto.

Diterbitkan 29 Januari 2016, 08:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Turin - Juventus bangkit. Setelah sempat terseok-seok di awal musim, Bianconeri akhirnya kembali ke perburuan Scudetto. Semua berkat Paulo Dybala dan Paul Pogba.

Akhir Oktober lalu, Juve di titik nadir. Pelatih Massimiliano Allegri nyaris dipecat. Bagaimana tidak, empat bulan setelah memenangi Scudetto dan Coppa Italia, Juve malah hancur-hancuran di Serie A.

Baca Juga

  • Presiden Jokowi Tolak Sentul Gelar MotoGP Indonesia
  • Mourinho Gabung MU, Giggs Tinggalkan Old Trafford
  • Usai Melahirkan, Istri Rooney Makan Ari-ari Bayinya

Alvaro Morata dan kawan-kawan hanya mampu meraih 12 poin dari 10 laga perdana. Mereka terpuruk di papan bawah. Ini adalah catatan terburuk Juve sejak 1987/1988.

Presiden Juve Andrea Agnelli sampai cemas dengan timnya. "Kami tahu proses memperbarui skuat bisa menciptakan beberapa masalah, tapi itu bukan pembenaran dengan posisi kami di klasemen," kata dia.

Ini adalah pernyataan halus, tapi signifikan. Sebuah pesan yang jelas kepada Allegri bahwa Juventus harus bangkit.

Mantan pelatih AC Milan itu juga tak mau mencari alasan. "Saya setuju dengan Presiden. Juventus seharusnya tidak di papan bawah. Sekitar bulan Maret, kami harus berada di papan atas," ucap Allegri.

Banyak yang memprediksi Allegri mungkin sudah kehilangan jabatannya sebelum Maret. Namun, nyatanya ia mampu membalikkan prediksi. Belum juga sampai Maret, Juve sudah kembali ke perburuan Scudetto.

La Vecchia Signora kini nangkring di posisi kedua. Sami Khedira dan kawan-kawan hanya tertinggal dua poin dari Napoli di singgasana. Ini luar biasa. Tak ada yang menyangka Juve bisa bangkit secepat ini.
Pemain Juventus meluapkan kegembiraan setelah mengalahkan Inter Milan 3-0 pada leg pertama semifinal Coppa Italia di Stadion Juventus, Turin, Kamis (28/1/2016) dini hari WIB. (EPA/Andrea Di Marco)

Beban Pogba

Awal musim ini,  penampilan Juve di lapangan sebenarnya tak mencerminkan hasil pertandingan. Mereka hanya kurang beruntung.

Buktinya dalam lima laga perdana, Juve langsung kebobolan dari shot on target pertama lawan. "Kami krisis dalam hasil, bukan penampilan," kata Allegri di awal musim.

Dia benar. Namun, harus diakui ada sedikit yang hilang dari permainan Juve. Mereka kesulitan mencetak gol. Pindahnya tiga pemain kunci Arturo Vidal, Andrea Pirlo dan Carlos Tevez jadi faktor utama. Cedera panjang Claudio Marchisio juga menambah masalah.

Ini artinya, Juve hanya mengandalkan satu gelandang yang tersisa dari final Liga Champions tahun lalu: Pogba. Nomor punggung 10 yang diberikan kepadanya juga memberikan beban kepada Pogba. Ia tampil kurang maksimal dan terus dikritik media-media Italia.

"Dia harus tenang dan bermain normal seperti pemain 22 tahun. Terlalu banyak tanggung jawab yang ditempatkan di pundaknya, jadi normal saja pemain 22 tahun kesulitan mengatasinya," kata Allegri.

"Tidak ada yang meminta Pogba mencetak tiga gol tiap pertandingan. Kami hanya meminta dia bermain seperti biasa," ia menambahkan.

Setelah beberapa bulan, Pogba yang sebenarnya akhirnya kembali. Ia seperti 'marah' di lapangan karena terus dikritik. Pogba langsung membungkam kritikan dengan menyumbangkan sejumlah gol dan assist.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Semua ini tak lepas dari kehadiran Marchisio dan Khedira di sebelahnya. Khedira, sama seperti Marchisio, juga sempat absen di awal musim. 

Halaman
Show All
Jonathan Pandapotan Purba, Marco Tampubolon, Hotnida Novita SaryTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan